Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati
bab 49. Kebiasaan lama


__ADS_3

Tegar keluar dari kamarnya lalu masuk ke dalam mobilnya malam ini rasanya dia perlu udara segar, setelah melihat foto itu dadanya merasa sesak dan udara di sekitarnya pun terasa kurang bagi Tegar, Tegar malam itu mengendarai mobilnya membelah kota Jakarta, kemudian dia berhenti di sebuah kafe yang dulu sering dia datangi, sudah lama rasanya dia tak pernah kemari lagi, Tegar yang merasa sudah tak asing dengan suasana kafe langsung saja masuk lalu duduk di mana tempat biasanya dia duduk dalam kafe itu, dan kebetulan tempat duduk itu pun kosong malam ini.


Pemilik kafe yang masih mengenali Tegar, langsung menghampiri Tegar, dan memberikan minuman yang biasa Tegar pesan di kafenya.


"Sudah lama rasanya kita tak bertemu!" sapa pemilik kafe itu dengan ramah.


"Aku sedang tak ingin di ganggu malam ini!" balas Tegar, pemilik kafe itu mengerti apa maksud Tegar, dia tersenyum lalu meninggalkan Tegar sendirian.


Tegar menegak minuman yang di bawakan oleh pemilik kafe yang ada di atas mejanya. Tegar mengerutkan keningnya meneguk minuman yang rasanya sudah lama tidak masuk kerongkongannya, hingga tanpa terasa akhirnya minuman di gelasnya pun habis, tanpa ragu Tegar pun langsung mengisi gelasnya hingga penuh kembali. Seteguk demi seteguk minuman dalam gelasnya kembali kosong, dan Tegar pun mengisi nya lagi, begitu berulang kali Tegar lakukan hingga di mejanya kini terlihat beberapa botol minuman telah kosong.


"Kamu itu siapa, aku tak mengenal kamu? tapi kenapa aku sangat sayang padamu?!" lirih Tegar.


"Aku juga sangat merindukanmu saat ini, tapi kamu bersenang-senang dengan pria lain di sana!" lanjut Tegar, Tegar menangis sedih tiba-tiba, membuat orang di sekitarnya melihat ke arahnya sebentar, tapi kemudian kembali melakukan apa yang sedang mereka lakukan di tempat itu, karena apa yang di lakukan Tegar di tempat itu sudah biasa terjadi.


"Pria lemah, bukannya berusaha keras, malah mabuk di sini!" ucap seorang wanita dengan sinis pada Tegar.


Tegar menoleh, menatap wanita yang sekarang berada di depannya.


"Siapa kamu, hah?!" bentak Tegar.


"Dasar pecundang!!" wanita itu tidak menjawab pertanyaan Tegar, malah memaki Tegar pelan. Tegar menatapnya tajam, tapi wanita itu sepertinya tidak takut padanya.


"Jika kamu begini, kamu pasti akan kehilangan dirinya!"


"Siapa?!" tanya Tegar kebingungan.

__ADS_1


"Cinta mu!"jawab wanita itu lalu pergi meninggalkan Tegar, karena percuma bicara dengan orang yang sudah mabuk.


Tegar terdiam berhenti berkicau melihat wanita itu pergi meninggalkan nya, di tempat itu tak ada yang perduli dengan apa yang di lakukan atau yang di bicarakan oleh Tegar, merasa sudah biasa melihat hal tersebut, begitulah semua orang mabuk bertingkah di tempat itu, hingga akhirnya kemudian Tegar terduduk lemas di tempatnya. Tak lama Tegar pun terbaring lemah, pemilik kafe mendekati Tegar, dan menelepon seseorang, dia sepertinya tidak bingung dengan apa yang telah terjadi pada Tegar sekarang.


"Dia pasti sedang mengalami masalah yang rumit kembali" lirih pemilik kafe sambil melihat kondisi Tegar.


Pemilik kafe menemani Tegar hingga seseorang menjemput Tegar, pemilik kafe menyerahkan Tegar yang sudah lemas pada orang yang baru saja datang, dan mereka sepertinya sudah saling mengenal.


"Sudah lama Tuan Tegar tidak seperti ini, sepertinya ada masalah kembali menimpanya" ucap orang itu pada pemilik kafe.


"Sepertinya seperti itu, tapi sepertinya masalah kali ini lebih rumit" jawab pemilik kafe, melihat kondisi Tegar yang mabuk parah. Tegar malam menjelang pagi di bawa pulang oleh seorang sopir ke rumahnya, seperti sudah hapal dengan apa yang harus di lakukannya dalam posisi seperti ini, sopir itu langsung membawa Tegar masuk ke dalam rumah dan menidurkan Tegar di dalam kamarnya. Hingga Tegar terbangun di pagi hari dengan rasa sakit di kepalanya, Tegar menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir rasa sakit di kepalanya, setelah rasa sakit di kepalanya hilang Tegar pun turun dari tempat tidurnya, dan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah merasa baikan Tegar segera keluar dari kamarnya begitu melihat jam di dinding kamarnya, Tegar harus segera pergi ke kantor, dia ingat hari ini dia telah berjanji akan bertemu dengan seorang klien diluar kantor.


"Memangnya kenapa?" bukannya menjawab Tegar malah bertanya balik.


"Ibu kangen dia"


Tegar terdiam, ternyata bukan hanya dirinya yang merindukan Soraya, seperti semua anggota keluarga merindukan Soraya yang sudah hampir seminggu tidak di rumah.


"Nanti setelah pekerjaannya di sana selesai" jawab Tegar.


"Kamu sih, sudah tahu proyek di sana butuh waktu banyak, bukannya kamu yang menemani Soraya malah Fernando yang kamu utus, ibu jadi merasa khawatir!" omel ibu.


"Aku di sini sedang banyak pekerjaan, Bu!" bohong Tegar, ibu mendengus kesal mendengar jawaban Tegar.

__ADS_1


"Bohong!!"


Tegar terdiam, bagaimana ibu nya bisa tahu jika dirinya sedang berbohong?.


"Tidak usah merasa aneh seperti itu, ibu bisa tahu dari wajah kamu, jika kamu berbohong, ingat kamu putra ibu satu-satunya!" omel ibu lagi.


"Besok Soraya akan kembali Bu!" jawab Tegar akhirnya, setelah terdiam beberapa saat, mendengar Omelan ibunya.


"Pulang nanti jangan kamu kasih dia pekerjaan dulu, ibu akan mengajaknya jalan-jalan"


"Terserah ibu!" jawab Tegar lalu meneruskan langkah nya keluar dari rumah.


Tegar hari ini sungguh merasakan lelah yang luar biasa, setelah bertemu dengan klien di luar, Tegar kembali ke kantornya, Tegar menyandarkan punggungnya pada kursi lalu mengambil remote di dalam mejanya, dan melihat ruangan yang bisa Tegar lihat dari posisinya sekarang, lalu berkata.


"Sedang apa dia sekarang?" Tegar terdiam memandang ruangan kosong itu, tapi kemudian tak lama tiba-tiba Tegar bangun lalu keluar dari kantornya, entah hendak pergi kemana? tak ada seorang yang berani bertanya padanya.


***


Soraya yang malam itu sedang berada di sebuah pesta perpisahan, di sebuah hotel terlihat sangat cantik dengan gaun hitam yang di gunakannya, sejak kedatangan nya di pesta itu Soraya sudah menjadi pusat perhatian, karena selain karena kecantikannya yang sangat terlihat dalam dirinya, semua orang sangat mengagumi kinerja nya selama mereka berkerjasama beberapa hari ini.


Aura Soraya sangat mendominasi di pesta itu, tentu saja itupun di rasakan oleh Fernando, mata Fernando tak pernah lepas menatap Soraya, ketika Soraya baru bergabung dalam pesta dan kini tak sedikitpun Fernando bergerak menjauh dari Soraya, seakan-akan Fernando takut kehilangan Soraya.


Fernando sekarang menganggap Soraya adalah benda berharga yang tak boleh lepas darinya, dan harus jadi miliknya, karena pasti akan menguntungkan buatnya.


"Aku akan menjadikan nya milikku selamanya malam ini, hingga tak akan ada seorang pun bisa merebut nya dariku lagi untuk selamanya, karena kamu sangat mempesona diriku!" ucap Fernando pada dirinya sendiri, saat menatap Soraya yang sedang duduk berbincang dengan seorang klien.

__ADS_1


__ADS_2