
Tegar dengan wajah marah, pindah dari tempat duduknya di samping Soraya, di gantikan oleh Fernando, Tegar menatap tajam ke arah Fernando yang senyum-senyum duduk di sebelah Soraya.
Soraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat wajah Tegar yang marah. Soraya membalas senyum Fernando dengan senyum kecil.
Soraya terkejut saat Fernando, dengan berani menarik tangannya dalam genggaman nya. Begitu juga dengan Tegar, amarah nya tiba-tiba muncul, ingin sekali dia Manarik lalu memukul wajah Fernando saat itu juga, tapi Tegar tahu itu perbuatan yang sia-sia.
"Aku tertarik padamu!" ucap Fernando tiba-tiba. Soraya terkejut begitu juga Tegar,ia sungguh tak menyangka jika Fernando sangat berani mengakui perasaannya, padahal mereka baru beberapa kali bertemu,Tegar melihat sesuatu yang aneh di sini.
"Dia bohong! jangan percaya!" ucap Tegar.
"Kamu pasti mengira aku bohong, karena kita baru saja kenalan, tapi entah mengapa aku begitu penasaran sama kamu!" ucap Fernando.
"Dia bohong!" seru Tegar.
"Aku tidak bohong! aku saja merasa aneh dengan perasaan aku sendiri, bisa kita lebih dekat?" tanya Fernando.
"Jangan mau!"seru Tegar marah.
"Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa! tapi ijinkan aku menjadi temanmu" ucap Fernando, Tegar makin kesal dengan tingkah Soraya, yang hanya diam tangannya berada dalam genggaman tangan Fernando seharusnya Soraya dengan cepat melepaskan tangan Fernando dengan kasar.
"Baiklah kita berteman!" jawab Soraya cepat, sambil menarik tangannya yang tadi masih dalam genggaman tangan Fernando dengan malu-malu. Tegar yang melihat Soraya seperti itu, menjadi lebih kesal, merasa tak bisa berbuat sesuatu, Tegar keluar dari kamar itu. Soraya menatap kepergian Tegar dengan tersenyum kecil.
"Emang enak, gue kerjain!" umpat Soraya.
"Kenapa?" tanya Fernando penuh perhatian melihat ekspresi wajah Soraya yang berubah.
Soraya menggeleng perlahan, karena Tegar sudah pergi kini, Soraya merasa bisa bebas bicara dengan Fernando, tanpa ada pandangan aneh dari Fernando.
"Kamu cantik!" puji Fernando tiba-tiba, membuat wajah Soraya langsung memerah karena malu, mungkin kalau Tegar ada di sini, ekspresi wajahnya, sama merahnya, bedanya Soraya karena malu tapi Tegar karena menahan emosinya.
*Bodoh! Kenapa juga aku harus ingat dia! baru aja dia pergi!* Bathin Soraya.
Fernando terus memperhatikan Soraya, entah berapa kali Soraya bergumam sendiri.
"Apa kamu banyak pikiran?" tanya Fernando dengan tatapan penuh rasa khawatir. Soraya menggeleng lemah.
"Tapi aku lihat kamu sering bicara sendiri!" ucap Fernando lagi, Soraya tak menyangka Fernando adalah orang yang begitu sangat berterus terang.
" Maaf, apa itu mengganggu mu?" tanya Soraya, merasa tak enak hati .
"Sedikit, aku lebih banyak khawatir!" ucap Fernando, membuat Soraya merasa tersanjung.
"Jangan pikirkan apa yang aku lakukan, percayalah semuanya baik-baik saja" ucap Soraya.
"Yakin?"
"Tentu saja"
"Kurasa tidak baik terlalu lama kamu berada di dalam kamarku, sebaiknya kamu keluar sekarang!" lanjut Soraya yang merasa pembicaraan nya dengan Fernando telah selesai.
__ADS_1
Fernando dengan berat hati, pergi keluar dari kamar Soraya, menutup pintu rapat-rapat, walau sebenarnya ia masih ingin berbicara panjang lebar dengan Soraya.
Tegar yang berdiri di depan pintu kamar Soraya, memicingkan matanya, dan tersenyum sinis, melihat Fernando keluar dari kamar Soraya.
Tegar mendengar semua yang di bicarakan oleh Soraya dan Fernando, Tegar tak menyangka Fernando ternyata sangat berterus terang tentang perasaannya pada Soraya, ada rasa sedikit cemas yang timbul di hati Tegar mendapati kenyataan itu, entah mengapa ia takut Soraya lama-lama akan menyukai Fernando juga.
Tegar menembus dinding kamar Soraya sekali lagi untuk melihat Soraya sedang apa sekarang, setelah kepergian Fernando. Tegar menarik nafas pelan saat melihat Soraya terbaring di atas tepat tidurnya dengan memejamkan matanya rapat-rapat, Tegar secara perlahan mendekati Soraya yang sedang tertidur itu.
Tanpa di sadari oleh Tegar jari jemarinya mengusap lembut pipi Soraya, hingga Soraya sedikit menggerakkan pipinya, merasakan sentuhan tangan Tegar, Tegar sedikit terkejut lalu segera menarik tangannya dan bersembunyi di sisi tempat tidur.
Tegar sedikit mengintip setelah beberapa saat sembunyi, memastikan Soraya terbangun atau tidak.
Tegar menarik nafas lega setelah tahu kalau Soraya ternyata masih tertidur, tegar segera keluar dari persembunyiannya, lalu kembali mendekati Soraya, entah perasaan apa yang sedang ada di hatinya sekarang terhadap Soraya, tapi yang pasti Tegar merasa tak rela jika Soraya dekat Fernando.
Tegar merasa Soraya adalah orang yang paling berarti untuknya saat ini, karena hanya Soraya yang bisa melihat keberadaan nya.
Tegar sangat merasa keberatan jika ada orang lain yang dekat dengan Soraya, untuk saat ini Soraya hanya boleh dekat dengan dirinya.
Tegar menatap lama wajah Soraya, makin di pandang semakin cantik saja Soraya di mata Tegar, Tegar tersenyum kecil.
Namun tak lama kemudian senyum di wajah Tegar, hilang, saat menyadari kalau kedua mata Soraya yang bulat dan lebar itu sedang menatap tajam ke arahnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini!" histeris Soraya terkejut melihat tegar ada di dalam kamarnya dan berada di dekatnya.
Tegar yang terkejut berdiri dari duduknya lalu mengambil langkah seribu dengan menembus tembok yang terdekat untuk segera keluar dari kamar Soraya.
Soraya yang terkejut melihat Tegar sedang memandang ke arahnya tadi hatinya sempat bergetar sedikit, entah perasaan apa yang timbul saat itu, Soraya menyentuh dadanya yang berdenyut pelan.
"Konyol" maki Soraya, lalu membaringkan dirinya kembali.
***
Keesokan harinya , Tegar yang tanpa sadar tertidur di atas raganya terbangun dengan membuka kedua matanya secara perlahan, takut Soraya ada di sana menunggunya bangun, tapi setelah kedua matanya terbuka dengan sempurna Tegar menarik nafas lega karena apa yang ditakutkan oleh nya tidak terjadi.
Tegar keluar dari kamarnya, lalu pergi ke ruang makan di sana telah berkumpul semua anggota keluarga kecuali dirinya sendiri. Tegar menatap Soraya yang pagi ini terlihat segar dan juga cantik.
"pagi" sapa Tegar.
Soraya melihat ke arah Fernando yang saat itu juga sedang melihat ke arahnya, hal itu membuat Soraya tidak menjawab sapaan Tegar.
Tegar mendengus kesal, kehadiran Fernando di rumah ini, telah mengganggu hubungan dirinya dan Hana.
"Aku harus menemui Laras"
Soraya menarik nafas mendengar hal itu, tapi tak bereaksi banyak, Soraya tahu kalau Fernando masih terus memperhatikan dirinya.
Soraya bangkit dari duduknya saat sarapannya sudah habis.
"Bu, sepertinya aku harus keluar kota untuk beberapa hari" ucap Soraya sebelum pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Aku titip Sekar!" lanjutnya.
"Tenang Sekar aman bersama ayah" Soraya melihat ke arah ayah Tegar yang sedang mengusap kepala Sekar pelan.
"Iya ka, kakak pergilah aku tak akan nakal"
Soraya pun pergi ke kamarnya lagi untuk mengambil sesuatu, tak butuh waktu lama Soraya keluar lagi, dengan membawa koper.
"Kamu mau pergi sekarang?" tanya Fernando.
Soraya mengangguk, dia berjalan keluar menuju mobil, tapi langkah kakinya berhenti saat Fernando menyusulnya.
"Ada apa?"
"Hati-hati" Soraya tersenyum mendengar pesan dari mulut Fernando, Tegar tersenyum sinis.
"Terimakasih atas perhatiannya" ucap Soraya.
Fernando melepas kepergian Soraya, Fernando membalikkan badannya saat mobil yang membawa Soraya tidak terlihat lagi.
Fernando kembali masuk ke dalam rumah, bersiap pergi ke kantor.
***
Soraya bersama dengan tegar menuju tempat kediaman Laras, setelah sekian lama di dalam mobil akhirnya mereka Sampai di tujuan, Soraya segera menelepon Laras.
Laras dan Soraya berjanji akan bertemu di restoran di mana mereka pertama bertemu.
Soraya ketika sampai di sana, mencari keberadaan Laras, tapi matanya tak kunjung melihat Laras.
"Mbak, mau ketemu Laras?" tanya seorang pria.
Soraya menatap tajam ke arah pria tersebut, bagaimana pria itu bisa tahu tentang Laras.
"Kata mbak Laras, dua nggak bisa datang karena ibunya mendadak sakit, dan kalau Mbak nggak keberatan Mbak bisa menemui mbak Laras di rumah sakit, saya akan mengantar mbak ke sana"
Soraya terdiam dia menatap ke arah Tegar, Tegar mengangguk.
"Baiklah"
Soraya akhirnya pergi dengan naik mobil pria itu, menuju rumah sakit.
Tapi Soraya begitu terkejut saat mengetahui dirinya di bawa oleh pria ke suatu tempat yang terlihat sudah lama tidak berpenghuni.
"Tempat apa ini?" tanya Soraya keras.
"Turun!!" bentak pria tersebut membuka pintu mobil.
"Brugh!" bunyi Soraya jatuh karena di dorong ke lantai.
__ADS_1