Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati
Percobaan Bunuh Diri


__ADS_3

Bibi Fah tak bisa berkata apa-apa lagi. bujukan demi bujukan tak di respon oleh Shiera. terlebih lagi Shiera memilih diam pada semua orang. Ia seperti orang linglung. pandangan mata kosong sambil menyusun beberapa pakaian kedalam tas ransel nya.


"kemana juga nih si Rifan, dari tadi di telpon kok gak di angkat-angkat !" sungut Bibi Fah.


sementara Riifan kebingungan mencari taksi mana yang dinaiki oleh Shiera. Ia kejebak di lampu merah setelah selesai menelepon mertuanya di Jakarta.


Bibi Fah masih taj bisa diam. Ia mondar-mandir di depan pintu kamar Shiera seperti gosokan.


" kali ini masalah nya pasti serius, sebab ... astaga, jangan jangan ....." Bibi Fah khawatir.


"Shierr... Kamu gak mau cerita pada Bibi?" jangan seperti ini, yuk ceritakan semuanya. supaya Bibi juga bisa bantu!" oceh Bibi fah.


berkali-kali Bibi Fah memanggil, namun Shiera tak menyahut.


saat bibi Fah yang terlanjur ketakutan ada apa-apa pada Shiera ingin meminta bantuan security untuk mendobrak, Rifan dengan langkah lunglai dari arah belakang.


" Ha... Rifan, akhirnya kamu datang juga. Bibi khawatir, Shiera dari tadi tidak mau merespon semua omongan Bibi."


" Shiera disalam Bi?? " dengan ekspresi lega dan khawatir.


Lega karena akhirnya Ia menemukan shiera, namun khawatir takut terjadi apa-apa pada shiera di dalam kamar.

__ADS_1


Dalam dua kali dobrakan, pintu kamar pun terbuka. Rifan berlari masuk kekamarnya diikuti oleh Bibi Fah.


namun tidak menemukan shiera.


" Ahhh... Shieraaaa..... " Bibi Fah berteriak di depan pintu kamar mandi.


alangkah terkejutnya mereka melihat darah segar mengalir dari pergelangan tangan kiri Shiera.


Dengan sigap Rifan mengambil handuk kecil yang tergantung di pintu kamar mandi untuk membalut sementara lengan shiera agar darah tidak lagi mengalir dengan deras.


Shiera lalu di bopong oleh Rifan ke mobil, Ia berada di bangku belakang dibantu oleh bibi Fah.


#RS melati


Ia merasa seperti orang yang tak berguna didunia ini dan hanya bisa membuat sakit orang yang Ia cintai.


sementara Rifan meratapi nasib, Bibi Fah menelepon Arin.


" Pak Hendy juga dari semalam kepikiran shiera terus disini Bi. saat ini keadaan nya juga kurang sehat, begitu gigih nya mau pergi tadi pagi.. saya lihat udah pesan tiket namun tiba-tiba bapak jatuh lalu pingsan. " jelas Arin.


" Astaga ... yasudah Rin,kalau pak hendy sudah siuman nanti kabarin ya. jangan bilang-bilang kalau Shiera disini lagi tidak dalam kondisi baik-baik saja ya Rin.. bibi mohon!!"

__ADS_1


" Iya Bi ..." Arin mematikan telepon.


Ia berjalan menuju sofa yang berada di dalam kamar pak hendy.


Melihat pak hendy terbaring dengan tangan kanan di infus,serta memikirkan bagaimana keadaan Shiera yang sedang dirawat di sana. pikiran Arin berkecambuk, namun bagaimana pun keadaan nya Ia harus menutupi nya dari anak-anak.


Ting....tong...


Ting....tong...


Suara bel yang di pencet dari luar mengejutkan Arin.


Ia bergegas membuka pintu dan melihat siapa yang datang.


Saat Arin membuka pintu, Devon muncul dengan wajah sendu. jantung Arin pun berdegub kencang. namun disaat-saat seperti itu Arin sadar, bukan waktunya untuk mencampur adukkan perasaan pribadi dengan pekerjaannya.


Suasana agak canggung di kamar pak Hendy. Devon memeriksa tekanan darah pak Hendy yang kini dipengaruhi obat penenang.


" Ehem ... Aku ...hmmm Saya tadi di hubungi oleh dr.Rifan untuk meninjau langsung perkembangan Pak Hendy." dr.Devon akhirnya berbicara.


" Oh iya .. iya Von, eh dok. "

__ADS_1


Suasana benar-benar terasa canggung sekali. masing-masing di antara mereka seperti orang asing kembali setelah kejadian di bali.


Sementara itu, Lila sedang membawa anak-anak bermain ke Villa pak Hendy yang berada di puncak supaya anak-anak tidak curiga dengan situasi dirumah mereka.


__ADS_2