Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati
bab 9. Pindah ke rumah Tegar.


__ADS_3

Ayah Tegar memperhatikan Soraya yang sedang menelepon bibinya "tapi kenapa harus gadis ini, yang bisa melihat Tegar" bisik ayah Tegar.


"Ibu juga tidak tahu, biar waktu yang menjawab semua keanehan ini" bisik ibu Tegar.


"Mungkin kamu benar, sepertinya kita harus menyediakan satu kamar lagi di rumah kita untuk gadis itu dan adik ya" ucap ayah.


"Sepertinya kita bawa pulang Tegar juga dari rumah sakit, biar dokter yang datang ke rumah kita" lanjut ibu, ayah mengangguk setuju, sebenarnya dengan kedatangan Soraya, membawa angin baru kepada ayah dan ibu Tegar, yang kemarin sudah mulai putus asa melihat Tegar yang belum bangun juga dari komanya.


***


Akhirnya Soraya dan Karin mulai tinggal di dalam rumah mewah itu, Soraya membalikan Atm serta handphone Tegar kepada orang tua Tegar, tapi mereka menolaknya karena semua itu milik Tegar yang sudah di berikan oleh Tegar kepada Soraya, lagi pula takut Tegar butuh sesuatu dan hanya kepada Soraya Tegar bisa berbicara.


Soraya di dalam rumah itu bertugas merawat Tegar yang sedang tertidur dan juga roh Tegar yang selalu mengikuti nya.


"Proyek yang sudah di tanda tangani oleh kamu, butuh penanganan cepat dari kamu, ayah tidak paham dengan proyek yang sudah di jalani kamu, jika kita batalkan proyek-proyek itu,kita bisa kena denda besar" ucap ayah pada Tegar. Tegar tahu apa yang di maksud ayahnya, Tegar mengambil kertas lalu menulis sesuatu.


"Kamu yakin!?" tanya ayah pada Tegar. Tegar menulis sesuatu kembali pada kertas.


"Soraya besok kamu ke kantor!" ucap ayah Tegar, Soraya terkejut lalu menatap ke arah Tegar,Tegar mengangguk.


Tegar meminta ibu mengantar Soraya ke sebuah butik yang menyediakan pakaian kerja untuk wanita dan juga meminta ibunya agar mengajarkan Soraya sedikit cara bermakeup.


Dengan senang hati ibu Tegar melakukan hal itu, ibu Tegar merasakan mempunyai teman di rumah ini, semenjak kedatangan Soraya dan Karin. Dengan kalap ibu Tegar memilihkan baju kerja pada Soraya, Soraya sendiri sampai merasa lelah karena harus bulak balik mencoba baju yang di pilih oleh ibu Tegar.


"Maafkan ibu ku!" bisik Tegar.


"Sudahlah, aku pasrah, lihat dia begitu bahagia, akupun tak bisa menolaknya" ucap Soraya, Tegar yang mendengar ucapan Soraya tersenyum lebar, Soraya memang gadis yang baik.

__ADS_1


Menjelang malam mereka baru pulang, ayah Tegar sudah menunggu mereka dengan wajah kusutnya "bagus kalian baru pulang, hari gini!" sentak ayah Tegar, Soraya dan Karin menundukkan kepalanya.


"Karin kemari, katakan padaku apa kamu membelikan aku sesuatu setelah belanja begitu lama?" tanya Ayah Tegar menatap tajam ke arah Karin, Karin kebingungan, tapi kemudian tersenyum, Karin memberikan sekantong martabak spesial yang tadi di belikan ibu Tegar untuknya


"Ini buat bapak!" ucap Karin.


"Tapi itu_!"ibu Tegar tidak meneruskan kata-katanya, melihat Karin menggeleng lemah.


"Terimakasih" ucap ayah Tegar sambil membuka dan melihat apa isinya. Karin tersenyum lebar melihat ayah Tegar tersenyum.


"Kamu mau kemana?" tanya ayah Tegar saat Karin mau meninggalkan nya.


"Mau ke kamar!" jawab Karin.


Ayah Tegar menggendong Karin, lalu meminta Karin menemaninya nonton televisi sambil menghabiskan martabak tersebut, Soraya dan semua yang ada di sana saling menatap tak percaya.


"Kenapa kamu terus mengikuti ku, sana ini ruang privasiku!" ucap Soraya, Soraya masuk ke dalam kamar bersama ibu, untuk memilih pakaian mana yang akan di pakai besok oleh soraya, tinggal Tegar duduk sendirian di anak tangga di bawah dia melihat ayahnya sedang asyik bersama Karin di atas dan di dalam kamar ibu dan Soraya, Tegar merasa bukan siapa-siapa di rumah ini sekarang, hanya bayangan yang tak terlihat, Tegar masuk ke dalam kamarnya, melihat dirinya yang sedang berbaring di tempat tidur, Tegar menghela nafas, lalu mencoba masuk ke dalam raganya tapi raga itu tetap diam, dengan sedih Tegar bangun dan turun dari tempat tidurnya. Tegar duduk lagi di samping raganya yang tertidur lemah di atas tempat tidur itu, sampai akhirnya ia tertidur di sana.


Soraya yang sebelum tidur, selalu memeriksa keadaan Tegar, masuk ke dalam kamar Tegar melihat roh Tegar duduk dan tertidur di samping raganya, Soraya mengusap air matanya, "ia pasti sudah ingin kembali ke raganya" bathin Soraya.


Setelah memeriksa keadaan Tegar, Soraya keluar lagi dari kamar itu, dan kembali ke kamarnya.


***


Keesokan harinya, Soray sudah siap dengan penampilannya sebagai pegawai kantor yang akan bekerja di kantor Tegar, untuk menjalankan proyek Tegar.


Soraya turun melalui anak tangga dengan perlahan dan terlihat sekali sangat anggun dan cantik, membuat pandangan Tegar tak bisa berpaling darinya, apalagi saat Soraya berjalan lebih mendekat, kecantikan Soraya makin terlihat di mata Tegar.

__ADS_1


"Kamu cantik banget, ibu tak salah pilih kemarin!" ucap ibu bangga, berhasil mendandani Soraya dengan baik. Tegar yang mendengar itu tersadar dari keterpesonaannya.


"Aku akan mengantar kamu, ke kantor" ucap ayah Tegar.


"Aku akan memperkenalkan kamu sebagai pimpinan proyek ini sampai Tegar sadar kembali" lanjut ayah Tegar, Soraya menganggukan kepala nya walaupun hatinya deg-degan tak menentu.


Tegar yang mengetahui hal itu, langsung menggenggam tangan Soraya "tenanglah ada aku di sisimu" ucap Tegar, Soraya tersenyum pada Tegar.


"Iya" jawab Soraya.


Soraya pergi ke kantor bersama ayah Tegar, sekitar 10 menit mereka akhirnya tiba juga di kantor Tegar, Tegar terus menggenggam dan menuntun jalan Soraya, agar Soraya berjalan dengan tegap tidak menundukan kepala selama menuju ruangannya. Sampai di ruangannya Tegar, meminta Soraya untuk memerintahkan sekertarisnya memberikan berkas-berkas yang harus di kerjakan oleh nya hari ini. Hari ini Soraya bekerja full sesuai dengan perintah dari Tegar, Soraya menghela nafas, rasanya pegal juga lama duduk di kursi empuk milik Tegar ini, Tegar yang sedang serius bekerja menoleh ke arah Soraya yang tertidur, Tegar mendekati wajah Soraya lalu melirik jam di dinding sudah agak malam, seperti nya harus. Menginap di sini malam ini, aku akan mengirim pesan pada ibu dan ayah, setelah selesai mengirim pesan, Tegar melihat tangan nya yang sejak pagi masih menempel erat di tangan Soraya tanpa pernah terlepas, kecuali jika Soraya ingin ke kamar mandi.


Tegar kemudian memperhatikan wajah cantik milik Soraya, tegar pelan-pelan memberanikan diri untuk menyentuhnya "lembut" gumam Tegar, kemudian Tegar menyentuh hidung Soraya yang mancung terakhir bibir tipis milik Soraya yang berwarna pink itu menjadi sasaran nya, Tegar menyentuh bibir tipis Soraya dengan pelan dengan jari jemarinya, Soraya sedikit bergerak mungkin karena bisa merasakan sentuhan jari tangan Tegar.


Tegar segera menarik jari tangan nya dari bibir Soraya. Tegar menggotong Soraya tempat tidur yang ada di dalam kantornya, Tegar membaringkan tubuh Soraya di sana, lalu tegar pun tidur di sebelah Soraya, karena tanpa Soraya tegar tidak bisa meneruskan pekerjaannya. Tegar terus melihat ke arah wajah Soraya yang tidur menghadap ke arahnya, Tegar tersenyum melihat sedikit air keluar dari bibir Soraya "dia ileran juga" ucap Tegar sambil tertawa kecil. Tegar tertidur lelap sambil terus melihat ke arah wajah Soraya, Soraya terbangun terkejut melihat Tegar pun tertidur di sampingnya, Soraya tidak mengenal tempat ini langsung terbangun hingga genggaman tangannya terlepas dari Tegar, hingga membuat Tegar terbangun dan melihat kebingungan Soraya "kamu ada di kamar yang ada di kantor" ucap Tegar, Soraya menoleh ke arah Tegar yang sedang tertidur di samping nya "Kenapa aku bisa ada di sini? Memangnya kita tidak pulang ke rumah?" cerocos Soraya, Tegar pun bangun "aku yang menggotong kamu kemari dan kita tidak pulang karena sudah terlalu malam, dan semalam kamu tidur nyenyak sekali" jawab Tegar.


Soraya melihat jam di dinding masih jam 2 malam "tidurlah lagi, masih malam"ucap tegar, Soraya perlahan berbaring kembali di samping Tegar.


"Apa pekerjaan kita sudah selesai?" tanya Soraya, Tegar menggeleng.


"Pasti karena aku ketiduran, apa masih banyak?" tanya Soraya lagi.


"Jangan dipikirkan, lagipula hanya tinggal sedikit, sudah tidurlah lagi" ucap Tegar sambil membelai pipi Soraya dengan lembut, Soraya memejamkan matanya, Soraya bisa merasakan tang lembut Tegar menyentuh wajahnya, entah mengapa Soraya menikmati sentuhan itu, itu pertama kalinya seorang pria menyentuh pipinya.


Tegar yang melihat Soraya memejamkan matanya, ikut memejamkan matanya, dan merasa Soraya membiarkan tangan nya menyentuh pipinya, Tegar tersenyum, Tegar membuka matanya memberanikan diri menyentuh bibir tipis milik Soraya dengan jarinya, tapi baru saja Tegar menyentuhnya, mata Soraya terbuka, mata mereka saling bertemu dan berbicara beberapa saat.


"Apa yang kamu lakukan!" sentak Soraya lalu turun dari tempat tidur itu.

__ADS_1


__ADS_2