Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati
bab 66. Koma yang lama


__ADS_3

Tegar berusaha menguatkan dirinya agar Karin kuat. Tegar menatap ayah dan semua yang ada di sana dengan tatapan sedih, sambil menggendong Karin Tegar menguatkan dirinya berjalan ke arah mereka.


"Ayah!" Tegar memeluk ayahnya erat.


"Tenanglah, kita semua berdoa untuk Soraya" bisik ayah menguatkan Tegar.


"Maaf kami membutuhkan golongan darah B, kamu kehabisan stok.


"Golongan darah saya B, kalian bisa ambil darah saya!" jawab Tegar cepat.


Tak butuh lama akhirnya darah Tegar, masuk ke dalam tubuh Soraya, darah mereka pun bersatu.


Setelah sekian lama akhirnya operasi selesai, seorang dokter menghampiri, dan memberitahukan jika operasi berjalan lancar, tinggal menunggu reaksi dari pasien.


Semua yang ada di sana sedikit bernafas lega, termasuk Tegar.


Tegar menatap Soraya yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, tubuhnya banyak di pasang alat-alat untuk membantu Soraya agar sembuh.


Tegar mendekati Soraya lalu berbisik lembut.


"Berjuanglah untukku!"


Tegar memeluk Soraya, menangisi sepuas-puasnya, Tegar tak perduli orang mendengarnya, Tegar hanya ingin menyampaikan pada Soraya, jika dirinya sangat menginginkan Soraya.


***


Sudah tiga hari sejak kejadian itu, Tegar tak sekalipun meninggalkan Soraya, Soraya di nyatakan koma, karena seharusnya Soraya telah sadar, tapi sampai sekarang Soraya belum menunjukkan tanda-tanda dia akan sadar.


Fernando yang hari ini baru datang ke rumah sakit, menatap sedih ke arah Soraya, bagaimana pun Soraya adalah wanita yang telah berhasil mengusik hatinya, tentu saja melihatnya terbaring lemah seperti sekarang membuat hatinya sakit.


"Ada yang ingin aku katakan padamu!" ucap Fernando pada Tegar pelan.


Tegar menatap Fernando lalu menoleh sebentar pada Soraya, rasanya enggan untuk beranjak sedikitpun dari Soraya, tapi melihat keseriusan dari mata Fernando, Tegar mencoba bangkit dan mengikuti Fernando keluar dari ruangan Soraya.


"Ada apa?" tanya Tegar langsung.


"Perusahaan butuh kamu!" jawab Fernando.

__ADS_1


Tegar menghela nafasnya, lalu berkata pelan.


"Aku serahkan semua urusan perusahaan padamu!" ucap Tegar


Fernando menatap Tegar tak percaya, bagaimana mungkin Tegar dengan begitu mudahnya melepaskan perusahaan itu.


"Entah kapan Soraya akan sadar, aku memutuskan akan selalu bersama Soraya, jadi perusahaan akan aku serahkan padamu!"


"Tapi!" ucap Fernando.


"Kenapa, bukankah selama ini, itu yang kamu inginkan?!"


Mendengar ucapan Tegar, Fernando terdiam, di tempatnya menatap Tegar, sejak kapan Tegar tahu hal ini? Apa Tegar tahu apa yang telah di lakukan olehnya di belakangnya?.


"Jangan menatap aku seperti itu, aku sudah tahu semua, aku mohon jangan lakukan hal aneh lagi!"


Tegar bangun dari duduknya bermaksud kembali ke dalam kamar, rasanya dia sudah lama meninggalkan Soraya di dalam.


"Surat yang kamu cari, mintalah sama ayahku, dia pasti akan memberikannya padamu, jika dia tidak ingin memberikannya, katakan saja ini permintaanku" lanjut Tegar, sesaat tepat di depan pintu sebelum kembali masuk ke dalam untuk bersama dengan Soraya lagi.


Fernando mengerutkan keningnya, apa?? Tegar pun tahu soal surat yang sedang di cari olehnya! Fernando menatap pintu yang di tutup oleh Tegar dengan tatapan kebingungan.


Fernando mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lumayan, Fernando ingin sekali cepat sampai di tempat tujuan.


Fernando langsung turun dari mobilnya begitu sampai, lalu langsung mencari pamannya.


"Kamu mencari aku?"


Fernando terkejut saat melihat pamannya berdiri di belakangnya.


"Tegar tadi meneleponku, ini suratnya!"


Fernando dengan ragu melangkah mengambil surat itu, tangannya begitu gemetar mengambil surat itu dari tangan pamannya, bagaimana tidak bergetar surat ini telah lama dia cari, karena Ayahnya selalu saja marah jika mengingat surat ini, hingga keadaan dalam rumahnya sedikit tidak nyaman sejak saat itu.


"Maafkan paman, jika baru menyerahkan nya sekarang, tapi paman bermaksud baik, paman hanya tak ingin merusak hubungan saudara, tapi ternyata paman juga salah dengan menyembunyikannya, karena itu juga ternyata malah lebih merusak persaudaraan kita" ucap Ayah Tegar sedih.


Fernando menatap tajam pamannya, terlihat ketulusan di sana, Fernando segera membuka surat yang selama ini selalu menjadi tujuan hidupnya.

__ADS_1


Fernando melihat surat itu ternyata sebuah surat yang berisi tulisan tangan seseorang yang di bubuhi tanda tangan serta sebuah materai, hingga surat itu benar-benar sah.


Fernando mulai membaca surat itu perlahan, tak lama Fernando menatap pamannya yang ada di depannya.


"Apa maksud surat ini? apakah maksudnya ayahku dan paman bukan saudara kandung?" tanya Fernando, setelah selesai membaca surat tersebut.


Ayah Tegar menatap Fernando lalu mengangguk, diapun mulai membuka mulutnya dan bercerita sedikit tentang hal itu.


"Dulu kakek dan nenek baru menikah dan mempunyai tetangga yang mempunyai anak berumur dua tahun, mereka sangat akrab seperti saudara tapi nasib mereka sangat malang, mereka mengalami kecelakaan saat pulang menuju rumah mereka saat kembali dari pulang kampung, mereka meninggal di tempat kecuali anak mereka yang masih berumur dua tahun itu, anehnya tidak ada keluarga yang menjenguk, kakek dan nenek baru tahu jika mereka berdua menikah tanpa restu orang tua, mereka pulang kampung dengan membawa cucu setelah sekian lama berharap di restui ternyata mereka harus kecewa lagi saat itu, jadi sejak saat itu ayahmu tinggal dan menjadi anak angkat kedua orang tuaku atau kakek dan nenek mu"


Fernando menatap tak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh ayah Tegar atau pamannya itu.


"Apa ayahku tahu?" tanya Fernando.


"Tidak, itu salah satu alasan mengapa aku menyembunyikan surat itu, aku tak ingin kakakku tahu jika dia bukan anak kandung, aku takut dia bersedih, tapi yang terjadi ternyata di luar dugaan dia malah membenciku karena merasa di sisihkan sebagai anak pertama" jelas ayah Tegar sedih sambil menundukkan kepala nya dalam-dalam.


Fernando bingung harus melakukan apa setelah mengetahui ini semua, Fernando memilih untuk pergi dari rumah Tegar dan menenangkan pikirannya dahulu, di rumahnya setelah itu baru memutuskan melakukan apa.


"Sepertinya aku juga harus memberitahukan soal ini terlebih dahulu pada ayah" ucap Fernando.


***


Tegar menatap Soraya yang masih terbaring lemah di tempat tidur, sudah sebulan berlalu tak ada perkembangan dalam diri Soraya, Tegar yang masih setia siang malam menemani, tertidur di samping Soraya.


Tegar tanpa sadar tertidur lelap, tegar terkejut saat membuka matanya sudah berada dalam suatu ruangan yang gelap, Tegar melihat Soraya sedang menatapnya sedih.


"Maaf sepertinya kita harus berpisah" ucap Soraya.


"Tidak! aku tak mau kita berpisah!" bentak Tegar.


"Tapi aku harus pergi, aku ingin menemani kedua orang tuaku dan ibumu"


"Tidak! tak boleh, kamu masih punya aku dan Karin yang mengharapkan mu"


Soraya mengerutkan keningnya, bagaimana ia bisa lupa soal Karin, Soraya mengurungkan niatnya melangkah terus menaiki anak tangga yang entah menuju kemana karena tak terlihat ujungnya.


Soraya berjalan perlahan menuju Tegar, Tegar tersenyum dan menanti Soraya di bawah anak tangga.

__ADS_1


Selangkah lagi Soraya dan Tegar bertemu sebuah asap putih muncul membuat keduanya berpaling, Tegar segera menarik tangan Soraya agar mendekat padanya.


__ADS_2