
"Sebaiknya katakan ini pada Ayah, biar ayah memikirkan sesuatu agar masalah ini selesai" ucap Soraya.
Apa yang di katakan Soraya memang benar, jangan sampai masalah ini berlanjut pada tambah salah paham.
Fernando kembali ke ruangannya dengan kesal, sepertinya dokumen yang dia cari ada di ruangan Tegar, karena selama ini Fernando sudah mencari di seluruh rumah Tegar tapi sepertinya tak ada di sana.
"Aku akan membuktikan kebohongan Ayah Tegar itu!" ucap Fernando.
Fernando teringat ayahnya yang selalu mengatakan sebenarnya dialah anak pertama dari keluarga besar Handoyo tapi entah mengapa hampir seluruh bagian harta Handoyo malah jatuh ke tangan Ayah Tegar yang merupakan adiknya, itu semua karena surat wasiat dari kakeknya, tapi anehnya surat itu tak pernah di tunjukkan, hingga menimbulkan kecurigaan adanya konspirasi yang baik, hingga semua akhirnya jatuh ke tangan Ayah Tegar juga.
Melihat ketidakadilan ini, Fernando bertekad akan merebut semua yang memang seharusnya milik dia.
***
Tanpa terasa hari pernikahan pun tiba, Tegar dan Soraya sedikit merasa tegang karena rasa bahagia di dalam hati mereka.
Tegar yang telah siap duduk di kursi pernikahan menunggu kedatangan Soraya, Soraya yang masih dalam perjalanan gelisah, merasa ada yang salah dengan perjalanannya.
"Pak kenapa belum sampai juga?" tanya Soraya
"Potong jalan, maaf di jalan utama ada kecelakaan"
Soraya terdiam, benarkah apa yang di katakan sopir itu, Soraya mencari handphonenya, ingin menghubungi seseorang tapi saat membuka tasnya handphonenya tak ada, Soraya ingat sebelum masuk ke dalam mobil dirinya menyerahkan handphone pada Karin.
"Bagaimana ini???" bathin Soraya.
Soraya menatap keluar, dan terkejut mobilnya sudah jauh berada di luar kota, Soraya segera bangun dan meminta sopir untuk berhenti, tapi sopirnya seperti tidak mendengarnya, dia terus saja mengemudikan mobilnya.
Soraya benar-benar panik saat ini, Soraya terdiam percuma teriak juga, sopir mobil ini sepertinya sengaja tidak mendengarkan teriakkan darinya.
Jeruji yang membatasi dirinya dengan sopir membuat Soraya sudah berbuat sesuatu pada sang sopir.
Soraya mencoba membuka jendela, namun jendela mobil terkunci rapat.
Soraya pasrah di tempatnya, menunggu keajaiban dengan dia yang dia panjatkan.
Tegar yang sudah gelisah menunggu kedatangan Soraya tersenyum saat rombongan Soraya telah datang, seseorang mendekati Tegar dan membisikkan sesuatu, Tegar langsung berdiri dari tempatnya, lalu segera keluar menemui paman dan bibinya Soraya.
"Bagaimana ini bisa terjadi?"
__ADS_1
"Paman juga tidak tahu, tiba-tiba ada sebuah mobil menjemput Soraya, kami kira utusan kamu, ketika kami sampai di sini, kami juga bingung mengapa Soraya belum ada, padahal dia jalan terlebih dahulu"
Tegar mengerutkan keningnya, ada ekspresi wajah khawatir di sana. Tegar segera melakukan sesuatu mencari jejak Soraya melalui handphonenya.
"Apa Soraya membawa handphone?" tanya Tegar langsung.
"Tidak, Soraya menitipkan handphone nya pada Karin sesaat sebelum mobil itu datang"
Wajah Tegar terlihat lebih panik mengetahui hal ini, lalu bagaimana dirinya akan mencari Soraya.
Tegar terduduk lemas, bagaimana ini bisa terjadi, kenapa harus hari ini, hari di mana dia dan Soraya akan bersatu? Tegar memejamkan matanya, sekilas cahaya muncul, Tegar membuka matanya, ada seseorang yang dia kenal ada di dalam mobilnya, Tegar segera berlari menuju mobilnya membuat orang-orang di sekitarnya terkejut.
"Cepatlah, Soraya sedang dalam bahaya, ternyata aku salah menduga aku kira setelah kamu bersama Soraya, Soraya akan aman, dan kalian akan selalu bersama untuk selamanya"
"Apa maksud kamu?"
" Nanti aku akan menceritakan itu di jalan sekarang kamu harus ke tempat ini"
Tegar segera melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang di sebut oleh wanita yang duduk di sebelahnya.
"Kalian akan mengalami satu cobaan lagi sebelum bersama untuk selamanya" ucap wanita itu setelah terdiam beberapa waktu
"Kalian akan mengalami suatu kejadian yang sangat berbahaya, kalian akan berada di antara hidup dan mati, kalian akan dihadapi posisi yang sangat sulit di mana salah satunya harus berkorban"
Tegar mengerutkan keningnya, Tegar tak ingin lagi kehilangan Soraya, Soraya adalah cintanya tak akan pernah dia lepas dengan mudah begitu saja, apapun halangannya.
Tegar berkonsentrasi pada kemudinya.
"Lihat itu Soraya" ucap wanita itu.
Tegar melihat ke arah yang di tunjuk oleh wanita yang duduk di sebelahnya, dan ternyata benar di ujung jalan sana Soraya sedang berjalan dengan gaun pengantinnya.
Soraya terlihat terluka, karena ada noda darah terlihat dari baju pengantin yang di pakainya.
Tegar segera menghentikan mobilnya lalu segera berlari menuju Soraya, Soraya yang melihat Tegar segera berlari ke arah Tegar.
"Dor" suara letusan senjata api terdengar membuat Soraya dan Tegar menghentikan gerakannya padahal jarak mereka hanya tinggal sekitar satu meter lagi.
"Kalian berdua tak akan semudah itu bersatu!" suara perempuan bergema, karena dia memakai pengeras suara.
__ADS_1
Tegar dan Soraya menatap ke arah asal suara.
"Kita bertemu lagi, Tegar!" sapa wanita itu pada Tegar, Tegar mengerutkan keningnya.
"Sepertinya kamu telah melupakan aku"lanjut wanita itu sambil tertawa kecil.
Tegar menatap tajam ke arah wanita itu.
"Siapa kamu?" tanya Tegar.
Wanita itu tertawa lagi, tapi jauh di hatinya menangis karena Tegar benar-benar telah lupa padanya, tapi tentu saja Tegar lupa karena dia sudah mengganti wajahnya, tapi setidaknya Tegar mengenal suaranya, bathin wanita itu masih berharap Tegar mengingat dirinya.
"Aku adalah masa lalu yang sangat kecewa padamu!" lanjut wanita itu lagi.
Soraya, menatap wanita itu yang Soraya kenal sebagai Laras, mungkin Tegar lupa padanya, saat itu Tegar bertemu dengannya pada saat koma.
Tapi apa yang dikatakan wanita itu, dia adalah masa lalu Tegar! jika seperti itu seharusnya Tegar ingat padanya, tapi kenapa Tegar lupa padanya, ada apa dengan Tegar? Soraya menatap khawatir pada Tegar, dan Tegar menangkap ekspresi itu di wajah Soraya, hingga Tegar bingung.
"Jangan main-main, kami berdua tidak mengenal kamu!" teriak Tegar.
"Aku Laras Tegar, apa kamu lupa nama itu?"
Tegar menoleh ke arah Laras, tentu saja Tegar tahu temannya yang bernama Laras tapi mengapa wajahnya berbeda? tapi tunggu jika di perhatikan suara itu, suara milik Laras teman dekatnya dulu.
"Kamu_" Tegar tidak meneruskan ucapannya.
Wanita itu tertawa lagi, hatinya sedikit menghangat karena Tegar ternyata tidak melupakan suara nya.
"Iya aku Laras, aku telah merubah wajahku karena kamu, kamu telah membuatku malu untuk menunjukkan wajahku lagi pada siapapun, setelah pengkhianatan yang kamu lakukan dulu" jelas wanita itu.
Soraya menatap ke arah Tegar, apa benar yang di katakan wanita itu, jika Tegar telah mengkhianatinya, setahu Soraya Tegar hanya menceritakan dua wanita saja yang dekat dengannya Amanda dan Rahayu.
"Aku tidak pernah mengkhianati kamu!" protes Tegar.
"Itu menurut kamu!!" bentak Laras tak terima perkataan Tegar.
Tegar melangkah mendekati Soraya, Tegar melihat luka yang di alami Soraya sepertinya lumayan.
"Stop!!" ucap Laras, untuk menghentikan langkah Tegar, namun Tegar sepertinya tidak mau mendengar, hingga Tegar tetap melangkah mendekati Soraya karena rasa khawatir nya.
__ADS_1
"Dor!!" letusan senjata terdengar lagi, membuat Tegar langsung terdiam kaku di tempatnya.