
Tegar terpaku melihat pemandangan di depan matanya, muncul perasaan aneh yang hinggap di hatinya, perasaan tidak rela Soraya di sentuh orang lain, dengan cepat Tegar menghampiri Soraya dan menepuk bahu Soraya pelan, membuat Soraya yang saat itu juga terkejut dan terpaku segera melepaskan diri dari pelukan Fernando.
Tegar menarik tangan Soraya kuat-kuat, untuk segera masuk ke dalam rumah, tanpa memikirkan Fernando yang melotot melihat gerakan Soraya yang seperti di tarik paksa seseorang untuk masuk ke dalam rumah.
"Tunggu!!" teriak Fernando mengejar Soraya, penasaran dengan tingkah Soraya yang seperti itu.
Fernando berhasil meraih tangan Soraya yang satunya, dan menahan Soraya, Fernando terkejut saat merasakan dari arah berlawanan seperti ada yang menarik Soraya, dengan sigap Fernando menahan Soraya lagi, hingga terjadi aksi saling tarik menarik, Soraya meringis kesakitan karena tangannya di tarik dari kanan dan kirinya.
"Sakit!! tolong kalian lepaskan!!" teriak Soraya
Tegar menatap ke arah Fernando yang telah melepaskan tangan Soraya, tanpa buang waktu, Tegar segera menarik Soraya ke dalam dekapannya, lalu membawa Soraya pergi dari tempat itu.
Fernando benar-benar bingung dengan kejadian yang baru saja di alaminya, bahkan tadi dengan jelas Soraya berteriak kalian, berarti tadi benar-benar ada orang lain yang menarik tangan Soraya, bahkan sekarang membawa Soraya pergi darinya, tapi siapa? "kenapa aku tak bisa melihatnya?" ucap Fernando kebingungan bulu kuduknya sedikit berdiri.
"Aku harus mencari tahu hal ini? tapi pada siapa aku bertanya?" gumam Fernando lagi.
Tak mau ambil pusing dia mencari Amanda di kamarnya, Fernando mengetuk pintu kamar Amanda, tapi tak ada jawaban, malah Fernando mendengar suara aneh dari dalam kamar Amanda, dengan sedikit keberanian Fernando memutar handle pintu, yang ternyata tidak di kunci, dengan perlahan Fernando mendorong pintu itu sedikit, agar dia bisa melihat ke dalam, dan alangkah terkejutnya Fernando melihat apa yang sedang di lakukan Amanda, Amanda sedang melakukan **** jarak jauh, melalui handphone dengan seseorang, Fernando melihat tubuh mulus Amanda saat itu, berlenggak-lenggok di atas tempat tidur, untuk kedua kalinya Fernando hari ini merasa bulu kuduknya berdiri.
Fernando segera menutup pintu kamar Amanda lalu segera berjalan ke tempat lain, mencari seseorang yang bisa di minta keterangannya tentang kondisi yang di alami Soraya, tapi tak ada seorang pun di rumah ini.
Fernando memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya saat itu, mungkin lain kali dia akan mencari tahu lagi tentang hal ini.
***
Keesokan harinya...
Fernando memandang ke arah Soraya yang baru saja turun, Soraya ingat kejadian kemarin, menundukkan kepala nya, lalu berjalan ke kursi makan di mana dirinya biasa duduk.
Fernando memandang ke arah kursi yang kosong di samping Soraya, lalu menebak sebenarnya kursi itu tidak kosong, tapi ada seseorang yang tidak terlihat oleh mata normal.
Soraya menatap tajam ke arah Fernando yang selalu menatap ke arah kursi di sebelahnya yang kosong.
"Karin duduk di sini sama Kaka!" ucap Soraya.
"Ok" jawab Karin, sarapan pagi itu sangat hening tak ada yang banyak bicara seperti biasanya.
"Kita pergi ke kantor bareng!" ajak Fernando.
"Aku bawa mobil sendiri saja!" tolak Soraya.
"Oh"
__ADS_1
Soraya merasa canggung menanggapi ucapan dari Fernando, karena selalu menatap tajam ke arah nya,entah apa maksud dari Tegar melakukan itu.
Soraya berdiri dari tempat duduknya, bersiap akan pergi, setelah pamit pada kedua orang tua Tegar.
Amanda yang baru saja turun melihat Soraya bersiap pergi, menghampiri Soraya, dan menghadang jalannya.
"Apa Tegar ikut ke kantor?" tanya Amanda.
Soraya melirik ke arah Fernando yang masih berada di meja makan, Soraya memastikan Fernando tidak mendengar pertanyaan Amanda tentang Tegar, Soraya dengan berani menarik tangan Amanda agar menjauh dari ruang makan.
"Lepaskan!" teriak Amanda, sambil menarik tangannya agar lepas dari cengkraman Soraya.
"Kamu berani!"
"Maaf, di sana ada Fernando, sudah ku bilang soal Tegar itu rahasia" ucap Soraya dengan Tegas.
Tegar menatap tajam ke arah Amanda, dia benar-benar membenci Amanda saat ini. Bisa-bisanya dia jatuh cinta pada wanita seperti Amanda.
"Apa Tegar pergi ke kantor hari ini?" tanya Amanda sekali lagi pada Soraya, Soraya melihat ke arah Tegar meminta jawaban dari Tegar, Tegar menganggukkan kepalanya
"Kata Tegar iya" jawab Soraya.
"Aku senang sekali ternyata Tegar itu rajin bekerja, rasanya tak sabar ingin menjadi istrinya, agar bisa selalu memberi nya semangat sebelum dia pergi bekerja" cerocos Amanda.
"Kamu mau memeluk nya sekarang?" tanya Soraya, Soraya tahu beberapa hari ini Tegar selalu bersamanya,pasti Amanda merindukan Tegar.
"Memang nya boleh?" tanya Amanda.
"Tentu saja" jawab Soraya, Soraya menoleh ke arah Tegar berada, tapi alangkah terkejutnya saat Soraya melihat ke arah tersebut Tegar sudah menghilang, Soraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tak tahu harus berkata apa pada Amanda.
"Maaf, tapi Tegar tak ada di sini!" ucap Soraya pelan.
Amanda mendengus kesal dan sedikit marah.
Amanda pergi meninggalkan Soraya dengan wajah cemberutnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada hubungan Amanda dan tegar?" Soraya bertanya-tanya.
Belakangan ini Soraya merasa Tegar selalu menghindari Amanda, bahkan Tegar terkesan tak ingin melihat Amanda lagi.
Setelah berputar-putar mencari Tegar, akhirnya Soraya menemukan bayangan Tegar juga, Soraya tersenyum saat melihat punggung Tegar dan bermaksud berlari ke arah Tegar berada, tapi Soraya menghentikan langkahnya, saat melihat sinar putih terlihat dengan perlahan mendekati Tegar, ingatan Soraya langsung pada cerita Tegar tentang sinar putih yang akan membawanya pergi ke dunia baru, dan di saat itu mereka tak akan pernah bertemu lagi.
__ADS_1
Soraya menutup mulutnya tak percaya akan hal ini, melihat cahaya itu terus bergerak ke arah Tegar, Soraya menjadi ketakutan kakinya bergetar, rasanya berat sekali untuk melangkah, Soraya mencoba untuk berkonsentrasi agar bisa dengan cepat berlari ke arah Tegar sebelum sinar itu menelan Tegar.
Dengan sekuat tenaga Soraya menahan rasa takut nya dan berlari cepat ke arah Tegar sambil berteriak memanggil nama Tegar.
Soraya sesaat melihat Tegar menoleh ke arahnya secara perlahan-lahan dan tersenyum padanya, Soraya mencoba dengan sekuat tenaga lagi mempercepat lari nya, untuk segera menjangkau Tegar sebelum sinar itu, menelan Tegar, tapi entah mengapa Soraya merasa Tegar teramat jauh untuk dijangkau olehnya, Soraya mencoba berkonsentrasi lagi, Soraya dengan sekuat hati memfokuskan diri pada Tegar hingga akhirnya Soraya berhasil mendekati Tegar, "lari!!" teriak Soraya, sambil menarik tangan Tegar agar berlari bersamanya.
Soraya membawa Tegar masuk ke dalam kamarnya, menutup pintunya rapat-rapat lalu memeluk Tegar erat-erat.
Tegar yang tak mengerti apa yang sedang Soraya lakukan hanya diam, menunggu Soraya tenang dan menceritakan semuanya pada dirinya.
Soraya yang terus memeluk Tegar, membuka matanya yang sejak tadi tertutup, Soraya melihat kalau mereka masih berada di kamarnya, Soraya segera melepaskan pelukannya pada Tegar dan mencari sinar putih tersebut, Soraya bahkan membuka pintu kamarnya untuk melihat apa sinar putih itu masih ada, Soraya menarik nafas lega saat tak melihat sinar putih itu di mana pun.
Soraya menatap Tegar sebentar, lalu memeluknya lagi, kemudian menangis terisak-isak, Tegar menjadi terlihat lebih kebingungan dari sebelumnya.
"Sinar putih itu, tadi ada di belakang kamu!" ucap Soraya.
"Sinar putih itu benar-benar mendekati kamu tadi!" lanjut Soraya ketakutan.
Isak tangis Soraya mulai terdengar lagi, Tegar mengerti maksud Soraya, Tegar memeluk erat Soraya, Tegar tahu pasti Soraya tadi ketakutan, tapi tetap saja Soraya membantunya.
"Terima kasih" ucap Tegar.
"Kamu tak boleh sampai di telan sinar putih itu!kita harus cepat menemukan cinta sejati kamu!" ucap Soraya panik.
"Tenanglah! aku sudah pasrah!" balas Tegar sedih, kurasa waktunya benar-benar sedikit lagi.
"Tidak!!kamu tak boleh meninggalkan aku!!" omel Soraya, kesal melihat Tegar yang sudah pasrah.
"Kita belum mencobanya" ucap Soraya.
"Mencoba apa?"
"Berciuman" ucapan dari mulut Soraya itu membuat Tegar menatapnya, Tegar mengusap lembut pipi Soraya.
"Kamu yakin?!"
"Kita coba, tak ada ruginya bukan?"
Tegar dan Soraya saling menatap satu sama lain, ada suatu yang mendorong mereka untuk lebih mendekatkan wajah mereka, bahkan kini hidung mereka telah bertemu, pandangan keduanya makin melembut satu sama lain, dan tiba kedua bibir mereka saling bertemu, Soraya memejamkan matanya, merasakan hangatnya bibir Tegar menyentuh bibirnya, hawa panas langsung menyerangnya, Soraya makin merasa bibir tegar menarik bibirnya sepenuhnya, rasanya lembut sekali, Soray tak berani membuka matanya, Soraya ingin sekali merasakan ciuman Tegar itu.
Sebaliknya saat bibirnya menyentuh bibir tipis Soraya, hatinya menghangat, membuat Tegar ingin lebih dalam mencium Soraya, Tegar melihat mata Soraya yang terpejam, Tegar pun memejamkan matanya saat memperdalam ciumannya, hingga kini Tegar menguasai bibir Soraya sepenuhnya, Tegar sangat menikmati ciuman itu, begitu pula Soraya, entah berapa lama bibir mereka saling bertaut, membuat perasaan keduanya terhanyut.
__ADS_1