MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
MERELAKAN SEMUA


__ADS_3

Aku Sinta. Aku adalah anak tunggal dari mama Maimunah dengan ayah almarhum Wikana. Sejak aku duduk di bangku sekolah dasar, ayahku yang bernama Wikana telah meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Betapa aku sangat merindukan sosok ayah dalam kehidupan aku setelah itu. Ayah Wikana selama hidup sangat menyayangi aku. Apalagi aku adalah putri satu- satunya. Aku sangat dekat dengan ayah Wikana saat kecil itu. Aku masih ingat saat aku kecil bermain dengan ayah Wikana. Namun semua itu sudah berlalu.


Sekarang aku telah bertemu dengan seorang laki-laki dewasa yang bisa memikat hatiku. Dia bernama om Mukid. Bersama om Mukid aku menemukan seorang ayah bagiku. Namun sayangku terhadap om Mukid tidak sekedar seperti ayah bagiku. Aku berharap jika om Mukid bisa menjadi suami aku. Aku rela menyerahkan semuanya untuk om Mukid. Aku sangat rela itu.


Namun ketika aku sudah tidak tahan menyembunyikan perasaan ku terhadap om Mukid. Aku pada akhirnya mengungkapkan semua yang aku rasa. Aku mencintai om Mukid dan benar-benar ingin memiliki nya. Namun om Mukid bilang kalau dirinya telah memiliki seorang kekasih dan om Mukid bilang akan segera menikah dengan kekasih nya itu. Aku tentu saja terkejut. Aku mengira perhatian om Mukid terhadapku adalah ungkapan rasa nya yang ingin memiliki aku, sama seperti aku. Aku berpikir cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi aku yakin jika om Mukid juga sama halnya menyukai aku dan suka nya sama seperti yang aku rasakan. Walaupun om Mukid bilang telah memiliki seorang kekasih dan akan segera menikah.


Saat ini aku ada di apartemen nya setelah aku mendesaknya untuk mengirimkan lokasi dimana apartemen nya. Saat ini aku ingin bermanja-manja dengan om Mukid. Aku tidak mau melepaskan laki-laki tampan, dewasa dan juga mapan itu.


Aku makan bersama dengan om Mukid. Dengan penuh perhatian, om Mukid masih tidak berubah memberikan perhatian terhadap aku. Aku sangat menyukai itu.


" Sinta, kamu tidak pulang? Hari sudah mulai malam. Ayo, biar aku mengantarkan kamu ke rumah." kata Mukid. Namun aku enggan untuk kembali ke rumah. Biar sekali saja aku bermalam dan menginap di rumah om Mukid.


" Aku sudah bilang sama mama, kalau aku bermain dan bermalam di rumah temanku." kata Ku akhirnya. Om Mukid mengernyit dahinya.


" Tidak, kamu harus pulang! Kasihan mama kamu dirumah sendirian bukan?" kata om Mukid akhirnya. Aku merengek dan kembali bersandar di pundak nya.


" Om, ijinkan aku tidur semalam saja di apartemen om." kataku akhirnya. Om Mukid mengusap puncak kepalaku dengan kasar.

__ADS_1


" Gadis kecil yang nakal. Seharusnya kamu pulang. Bukankah besok kamu harus kuliah pagi?" kata om Mukid lagi.


" Besok pagi, aku akan berangkat ke kampus dari sini." alasanku.


" Oh iya om, om Mukid mau kopi tidak? Aku akan membuatkan minuman untuk om Mukid." tawarku dengan sejuta rayuan supaya aku tidak disuruh nya kembali pulang.


" Baiklah, buatkan kopi hitam untuk aku. Aku akan mengecek email yang masuk dulu di laptop ku." kata Om Mukid sambil melangkah dengan kaki lebarnya dan mencari laptop nya. Setelah itu om Mukid mulai berkutat di depan laptop. Sedangkan aku saat ini sedang berada di dapur dan mulai membuatkan minuman kopi hitam buat om Mukid.


Akupun juga membuatnya untuk diriku sendiri. Dua cangkir kopi hitam kini telah aku buat. Satu untuk aku dan satu lagi untuk om Mukid. Setelah nya aku membawakan nya di ruangan tengah dimana om Mukid telah fokus di depan laptop dan mungkin saja sibuk dengan kerjaan nya.


@@@@@@@


Tiba-tiba aku membuka mata dan berpindah tempat. Saat ini aku berada di atas kasur yang empuk dan lebar. Namun aku melihat sekeliling ku tidak menemukan om Mukid di kamar itu. Akhirnya aku turun dari tempat tidur itu dan mencari keberadaan om Mukid.


Aku melihat om Mukid sedang tertidur di kursi sofa panjang di ruangan televisi dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Om Mukid memang tidak sedang menghidupkan AC di ruangan itu. Cuaca padahal sedang panas, jadi om Mukid memilih membuka bajunya. Betapa aku sangat terpesona dengan bentuk tubuh om Mukid yang memiliki lebar dadanya dan sangat seksi.


Aku mendekati om Mukid dan berjongkok di bawah kursi. Aku dekati wajah om Mukid seraya tangan ku membelai lembut kepalanya. Wajahnya begitu sempurna seperti aktor film laga. Aku sangat menyukai nya. Aku usap lembut pipi om Mukid, benar- benar lembut kulit wajahnya itu.

__ADS_1


Kini aku tertarik dengan bibir nya yang tebal dan seksi. Tanganku mulai menyentuh bagian bibir nya. Jantung ku seketika berdetak dengan kencang. Aku menelan ludahku sendiri. Aku sangat tertarik dengan bibir yang dimiliki oleh Om Mukid. Aku dekatkan wajahku ke wajah om Mukid. Lalu aku dengan pelan mengecup bibir tebal dan seksi mulik om Mukid.


Om Mukid masih tertidur lelap. Tidak puas dengan kecupan, aku kembali mencium bibir om Mukid namun kali ini aku menciumnya lebih lama dan sedikit menahannya.Om Mukid tiba-tiba membuka matanya dan membulat matanya mendapati aku telah mencium nya dengan nakal dan brutalnya. Mungkin saja bagian di bawah sana telah bergerak- gerak dan memberontak. Aku tidak kuasa melepaskan om Mukid. Aku rela memberikan semuanya untuk laki-laki yang aku cintai. Aku rela.


Aku tetap melanjutkan aksiku. Tanganku menyentuh dada milik om Mukid dan mengusap dengan lembut sambil tetap mencium bibir nya. Lama om Mukid hanya diam dan tidak membalasnya. Seperti nya om Mukid juga menikmati nya. Pada akhirnya aku semakin nekat dan naik di atas tubuh om Mukid.


" Om Mukid! Aku... aku..menyukai kamu." ucapku lirih sambil tetap menatap lekat matanya.


" Sinta, turun dan jangan lakukan ini kepadaku." sahut om Mukid dengan suara serak.


" Tidak! Aku mau om Mukid." protes Sinta dan nekat berbuat gila membuat om Mukid menjadi terpedaya.


Setelah itu, om Mukid mulai tidak kuasa menolak itu. Kini om Mukid mulai membalas ciuman ku. Tanganku dengan nakal mencari sesuatu yang sombong dan keras milik Om Mukid. Om Mukid memekik tatkala aku menyentuhnya. Suara sumbang lolos begitu saja dari mulut om Mukid.


" Kamu yakin akan melakukannya kepada aku?" tanya om Mukid. Aku menganggukkan kepala.


" Aku rela melakukan ini om karena aku sudah terlanjur jatuh hati kepada om Mukid." sahut ku dan kembali aku mengungkung om Mukid dengan semua kemampuan ku.

__ADS_1


__ADS_2