
Sinta, Radit, Mukid dan juga Maimunah saat ini sudah berada di ruang makan. Nasi goreng buatan Maimunah dan juga lauknya sudah ada di atas meja. Mereka mulai menikmati sarapan pagi itu dengan tenang dan tanpa suara sendok dan garpu yang gaduh.
"Kamu kalau makan kok sukanya belepotan sih, sayang!" ucap Radit sambil menarik tisu lalu membersihkannya di samping bibir Sinta yang belepotan ada satu nasi menempel di sana. Mukid menatap perhatian Radit sampai melongo sedangkan Maimunah menatap Sinta dan juga Mukid secara bergantian. Maimunah melihat suaminya itu ada perasaan yang aneh. Maimunah ada sedikit rasa cemburu ketika tatapan Mukid terhadap putrinya seperti menyimpan atau memendam rasa yang sulit diungkapkan. Apakah masih ada rasa cinta itu sedangkan Mukid sudah menjadi suaminya. Namun isi hati siapa lah yang tahu. Kedalaman rasa dan perasaan cinta yang dulu pernah ada pun sulit kita selam. Walaupun beberapa bulan ini mereka telah berpisah jarak dan saling menjaga.
"Oh ya sayang! Setelah ini kita jalan-jalan mencari keperluan untuk acara pernikahan kamu yah." ajak Maimunah. Sinta dan Radit saling pandang.
"Keperluan apa yah ma? Sepertinya segala sesuatunya sudah lengkap. Keluarga besar Bang Radit dan juga keluarga besar mama sudah mempersiapkan semuanya. Kami sebagai calon pengantin sudah Terima bersih saja, ma! Apalagi nenek Wati, dari hal-hal sekecil-kecilnya sudah dipikirkan nenek Wati. Mama tidak perlu repot-repot. Benarkan bang Radit?" ucap Sinta. Maimunah menatap Mukid sambil tersenyum.
"Mama dan ayahmu akan memberikan sesuatu yang berharga untuk kamu, sayang!" ucap Maimunah.
"Apaan ma? Bukannya dulu ayah Mukid sudah membelikan aku satu set perhiasan dan itu dibeli sewaktu bersama dengan mama, kan? Mama ingat kan? Bahkan perhiasan itu belum aku pakai." ucap Sinta.
"Itu lain sayang! Benarkan mas?" sahut Maimunah dan bertanya dengan Mukid.
"Iya, benar Sinta! Aku dan mama kamu akan membelikan sesuatu hadiah buat kamu dan Radit." ucap Mukid.
"Aku?" sahut Radit. Maimunah dan Mukid membenarkan dengan menganggukkan kepalanya.
"Benar! Sepertinya jas untuk akad nikah kamu harus kami belikan deh dan juga kebaya untuk Sinta. Kalian harus terlihat sempurna di acara pernikahan kalian yang insyaallah sekali dalam seumur hidup kalian. Benarkan mas?" kata Maimunah. Mukid kembali membenarkan dan tersenyum menanggapi ucapan Maimunah.
__ADS_1
"Mama dan ayah kamu juga ingin membeli pakaian yang couplean juga." ucap Maimunah.
"Di sana mama dan juga ayah Mukid sudah dibuatkan seragam juga kok. Kita satu keluarga akan memakai seragam baik keluarga besar mama dan juga keluarga dari bang Radit." ucap Sinta.
"Pokoknya hari ini kita keluar shoping sekaligus makan siang di luar. Oke?" kata Maimunah.
"Ya sudah, terserah mama saja deh! Aku dan bang Radit ikut saja." sahut Sinta sembari menatap ke arah Radit. Radit tersenyum saja. Radit kembali mengusap pipi Sinta yang kini terkena saos tomat. Mukid kembali menatap kedua pasangan calon pengantin itu dengan perasaan aneh.
"Rasanya belum ikhlas jika harus melihat kamu menikah dengan laki-laki lain. Tapi kenapa aku sangat egois seperti ini? Sedangkan kamu juga berhak berbagai walaupun tidak dengan aku." batin Mukid.
@@@@@@@
"Kita kemana sayang?" tanya Mukid kepada Maimunah.
"Ke tempat biasanya, sayang! Kita cari perhiasan lalu setelah itu mencari baju kebaya dan juga jas pria." jawab Maimunah.
"Setelah itu kita makan soto betawi, ma!" sahut Sinta. Radit tersenyum sambil mengusap puncak rambut Sinta.
"Ih kamu ini loh sayang! Rambut aku menjadi berantakan dong!" kata Sinta dengan suara manjanya. Kembali Mukid melirik ke belakang dari kaca spion. Maimunah masih menatap jalanan di depan. Mukid menjalankan mobilnya dengan pelan.
__ADS_1
"Om Mukid! Bagaimana kalau aku yang nyetir saja. Bagaimana?" tawar Radit.
"Tidak usah! Calon pengantin baru harus kita manjakan. Benarkan sayang?" sahut Mukid seraya bertanya dengan Maimunah. Maimunah tersenyum saja.
"Soto betawi yang paling enak di mana sayang?" tanya Mukid kepada Maimunah.
"Nanti aku tunjukkan tempatnya mas! Di sini soto betawi yang enak di dekat perempatan jalan lampu merah itu. Kalau aku suka di sana. Sinta juga pernah ke sana kok,"ucap Maimunah.
"Di Pak Brewok yah, ma?" sahut Sinta.
"Benar! Mama pikir kamu akan lupa." kata Maimunah. Sinta tersenyum saja.
"Jadi di sini pun, kamu suka kuliner yah, sayang?" tanya Mukid.
"Benar, abang yang ganteng! Semua ini kan dalam rangka supaya aku bisa mencoba nya di rumah. Resep masakan dan menu yang mereka jual, aku praktekan di rumah." ucap Sinta sembari menarik hidung Radit. Kembali Mukid melirik kedekatan antara Sinta dengan Radit yang terlihat romantis.
"Memang nya mereka kasih resep masakan mereka cuma-cuma?" sahut Radit.
"Tidak juga sih! Tapi aku coba menerka sendiri pakai bumbu apa saja dan bahan apa saja." terang Sinta.
__ADS_1
"Kita sudah sampai sayang!" ucap Mukid. Maimunah mengarahkan untuk tempat parkir nya. Tujuan mereka saat ini adalah toko perhiasan dan juga butik yang menjual kebaya dan jas pria.