
Di rumah Sinta.
Setelah kejadian itu, dimana Sinta telah memberikan kehormatan nya kepada Mukid, Sinta semakin intens di apartemen Mukid itu. Mukid selalu menjemput nya dari kampus dan selalu singgah di apartemen Mukid untuk melakukan itu sepulang dari kuliah. Mukid saat ini telah menjalin hubungan dengan dua wanita. Tanpa diketahui nya mereka adalah seorang ibu dan anak.
Setelah mengantarkan Sinta pulang ke rumahnya, Mukid kembali ke kantor nya hingga menjelang malam. Ponsel itu berdering dan Maimunah telah menghubungi Mukid.
" Kamu dimana sayang?" tanya Maimunah.
" Ink masih di kantor!" jawab Mukid sambil berkutat dengan laptop nya.
" Sampai jam berapa?" tanya Maimunah.
" Kenapa, sayang? Ini masih banyak kerjaan aku. Mungkin aku harus lembur malam ini." kata Mukid.
" Oh, ya sudah!" sahut Maimunah dari seberang sana.
" Hai, ada apa sayang?" tanya Mukid.
" Tidak ada! Ya sudahlah, besok malam kita juga ketemuan di rumah makan kan? Aku akan mengajak putriku dan setelah itu kita jalan- jalan serta shoping. Ingat kan soal rencana kita itu?" ucap Maimunah.
" Tentu dong, makanya hari ini aku harus menyelesaikan kerjaan aku. Weekend nanti kita nikmati kebersamaan kita. Oke?" ucap Mukid.
" Baiklah! Aku mau kembali ke rumah." ucap Maimunah yang saat ini memang sedang berada di kantor nya.
" Oke, I love you." sahut Mukid.
" I love you to." balas Maimunah lalu sambungan telepon mereka terputus.
" Aku tidak menyangka kalau aku menjadi serakah seperti ini. Laki-laki yang memiliki dua wanita sekaligus." gumam Mukid sambil tersenyum
@@@@@@@
Sabtu telah tiba. Maimunah bersama putri nya telah duduk di rumah makan yang telah ditentukan. Sinta sebenarnya sangat enggan untuk diajak mama nya makan bersama dengan calon ayah tirinya atau kaki yang bakal menjadi suami mama nya. Maimunah telah berbicara dengan Sinta kalau dirinya akan segera menikah dengan laki-laki yang sudah menjadi kekasih mamanya selama ini. Namun lantaran Maimunah memaksa Sinta, akhirnya dengan berat dan malas Sinta memenuhi ajakan mama nya untuk bertemu dengan laki-laki yang bakal menikahi mama nya itu.
@@@@@@@
__ADS_1
Lama menunggu Maimunah dan Sinta akhirnya mulai jenuh. Beberapa kali Maimunah menghubungi Mukid, namun belum juga diangkat nya panggilan keluar nya. Sudah satu jam mereka menanti kedatangan laki-laki yang akan menikahi Maimunah itu. Sampai akhirnya ponsel Maimunah balik berdering. Dengan cepat Maimunah mengangkat nya.
" Halo, kamu dimana sayang?" tanya Maimunah. Sinta mengernyitkan dahinya. Betapa mama nya terlihat sangat mencintai calon ayah tirinya tersebut.
" Aku sudah di depan rumah makan nih, kamu ambil tempat duduk nomor berapa sayang?" tanya Mukid melalui sambungan ponslenya dan memang saat itu Maimunah telah me Louspeker suaranya.
" Di tempat duduk biasanya, nomer 77." jawab Maimunah.
" Oke, aku akan segera ke sana." sahut Mukid lalu panggilan masuk itu terputus.
@@@@@@@
Maimunah yang tidak sabar segera menyusul Mukid yang masih di depan rumah makan itu. Sedangkan Sinta masih duduk menunggu di meja duduk nomer 77, di mana tempat itu seperti saung atau rumah panggung yang di buat untuk makan secara lesehan.
Sinta menanti kedatangan mama dan calon ayah tirinya itu sambil mulai mencatat menu apa saja yang hendak dipesannya. Sinta dan mamanya, Maimunah memiliki selera yang sama. Makanan seperti capcay sangat disukai oleh Sinta. Sinta menyukai sayuran-sayuran dan juga buah.
Catatan makanan dan minuman yang akan dipesan itu diserahkan Sinta kepada pelayan yang datang menghampiri Sinta. Lalu pelayan itu mulai meninggalkan tempat itu setelah menerima catatan apa saja menu yang dipesankan oleh Sinta.
Sinta masih celingukan mencari mama dan calon ayah nya yang belum datang. Tidak berselang lama dua orang yang saat ini ditunggu- tunggu oleh Sinta akhirnya datang. Maimunah terlihat menggandeng tangan Mukid dan Mukid pun dengan mesra memeluk pinggang Maimunah. Sinta melebar matanya saat melihat keduanya. Wajah nya seketika memucat dan terkejut dengan apa yang telah dilihat nya. Sosok laki-laki yang akan dikenalkan kepada dirinya dan akan menjadi ayah tirinya adalah om Mukid yang telah dikenalnya. Bahkan laki-laki itu kini telah menjadi kekasih nya.
" Sinta!" ucap Sinta lirih.
" Mukid! Kamu bisa memanggilku om Mukid." sahut Mikid. Keduanya masih terlihat datar tanpa banyak menunjukkan rasa keterkejutan. Maimunah tersenyum dan mengajak Mukid untuk duduk di bangku yang telah di bookingnya.
" Kamu sudah memesan makanan dan minuman nya, sayang?" tanya Maimunah kepada Sinta.
" Sudah!" jawab Sinta singkat. Betapa hatinya masih kacau dengan semuanya. Dia tidak pernah menyangka jika apa yang diceritakan Mukid bahwa saat ini Mukid juga sudah memiliki seorang kekasih dan akan dinikahi nya adalah mama nya sendiri. Sinta tidak pernah mengira jika kekasih mama nya adalah laki-laki yang telah ia cintai dan pernah melakukan hubungan dengan dirinya yang seharusnya belum boleh mereka lakukan.
" Aku tidak menyangka kenapa menjadi serumit ini sih? Sinta adalah putri dari Maimunah? Ah, aku tidak mengira. Aku harus bagaimana ini? Apakah aku harus melanjutkan pernikahan dengan Maimunah? Sedangkan aku juga telah menjalin hubungan dengan Sinta, bahkan hubungan aku dengan Sinta sudah jauh seperti yang aku lakukan dengan Maimunah. Aduh aku tidak ingin menjadi penjahat kel@@ min dalam kasus ini." batin Mukid.
Pelayan rumah makan itupun tiba dengan membawa berbagai jenis makanan dan minuman pesanan mereka. Sinta sesekali mencuri pandang Mukid dengan pandangan penuh kemarahan. Mukid mengirim pesan chat ke nomer WA Sinta. Sinta membukanya.
" Aku tidak tahu sayang! Jika kamu adalah putri dari Maimunah, kekasih aku." pesan chat dari Mukid.
" Ingat, om! Akupun juga kekasih om Mukid sekarang ini." balas Sinta melalui pesan chat itu.
__ADS_1
" Iya, aku tahu! Maaf, semua diluar sepengetahuan ku." balas pesan chat Mukid kepada Sinta. Mukid tifak mau ribut-ribut dengan Sinta ketika ada Maimunah.
" Om Mukid harus memilih, aku atau mama." isi pesan chat dari Sinta.
" Aku tidak mau memilih. Aku sudah terlanjur menjalin hubungan dengan kamu dengan mama kamu. Namun aku tetap akan menikah dengan mama kamu." balas pesan chat dari Mukid.
Sinta dan Mukid saling pandang. Keduanya benar-benar disituasi yang sulit dan rumit. Maimunah kini mulai mengambil kan makanan dan minuman untuk calon suaminya. Mukid menerimanya dengan senyuman. Sinta menatap Mukid dengan tatapan penuh kecemburuan.
" Ayo sekarang kita makan! Sinta sayang, ayo kamu makan yang banyak!" kata Maimunah. Maimunah memberikan makanan itu kepada Mukid. Mukid malah dengan sengaja menyuapi Maimunah dengan sendoknya. Maimunah terlihat menunjukkan kemesraan nya bersama Mukid di depan Sinta. Sinta menyendok makanan nya dengan bunyi yang gaduh membuat Maimunah menegurnya.
' Sinya sayang! Pelankan suara sendok kamu. Tidak bagus jika makan sampai bersuara sendok nya." tegur Maimunah. Sinta menatap Mukid dengan tatapan tajam.
" Iya Sinta, benar apa kata mama kamu." sahut Mukid ikut menimpali. Sinta menjadi cemberut bibirnya.
" Mama, aku mau ke toilet dulu." ucap Sinta seraya bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan keduanya, mama dan Mukid.
@@@@@@@
Di toilet.
"Ini benar-benar tidak mungkin! Kenapa Mukid yang akan menjadi ayah tiriku? Kenapa??" kata Sinta yang masih di dalam toilet. Dia saat ini benar-benar kacau. Dia rasanya mau lari dan pergi meninggalkan semua ini. Masalah percintaan nya kenapa menjadi serumit ini. Mama dan dirinya mencintai laki-laki yang sama.
" Aku harus bagaimana? Apakah aku menjauh dari kehidupan Mukid dan mamaku? Apakah aku mampu menghapus semua hubungan aku dengan Mukid? Ini gila! Mama, maafkan aku! Aku tidak tahu jika Mukid adalah kekasih mama dan calon ayah aku." kata Sinta pelan.
Sinta keluar dari kamar mandi itu, namun ada seorang laki-laki yang menahannya dan kembali mendorong tubuh nya masuk kembali ke dalam kamar mandi itu.
" Om mukid?" ucap Sinta dengan tatapan penuh keterkejutan.
Mukid tidak banyak berbicara, hanya bibirnya dengan cepat membungkam bibir Sinta dengan ciuman nya. Sinta sesaat menerimanya karena hatinya butuh kenyamanan dan rasa damai karena dirinya saat ini benar-benar kacau.
" Om Mukid!" kata Sinta lirih. Mukid memeluk Sinta dan memberikan kehangatan dan kedamaian untuk Sinta sesaat. Dirinya tahu jika gadis kecilnya saat ini sedang kacau akan situasi ini. Hubungan rumit yang telah mereka ciptakan dan semuanya bukanlah unsur kesengajaan.
" Baiklah, menikah lah dengan mama. Aku akan pindah ke luar kota dan menjauh darimu om. Semua demi kebahagiaan mama dan juga om Mukid." kata Sinta akhirnya. Mukid menatap lekat mata yang kini sudah berkaca- kaca itu.
" Aku pasti akan rindu kamu, Sinta." kata Mukid pelan.
__ADS_1
" Aku lebih merasakan rindu itu, om Mukid." sahut Sinta.