MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
PULANG SEKOLAH


__ADS_3

Mukid menghentikan mobilnya setelah tiba dibangunan sekolah untuk anak-anak usia dini dan anak-anak. Bana sudah turun dari mobil itu. Mobil milik Mukid. Sinta terdiam dan bibirnya kelu untuk memulai berbicara. Banyak tanda tanya besar dalam pikiran nya untuk Mukid. Namun sulit untuk Sinta ucapkan. Demikian hal nya dengan Mukid, dalam otaknya banyak tanda baca yang mengarah ke kalimat pertanyaan.


Masih di dalam mobil keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Mobil itupun belum juga dijalankan oleh Mukid. Pada akhirnya Mukid bertanya.


"Kamu ingin menunggu Bana sampai pulang atau aku harus mengantarkan kamu ke mana?" tanya Mukid pada akhirnya.


"Hem, biasanya aku pulang dulu om! Nanti kalau waktu nya Bana pulang sekolah, aku menjemputnya kembali. Aku ambil motor aku di bengkel dulu, om! Tapi bagaimana dengan,om Mukid sendiri? Apakah ada kegiatan saat ini?" ucap Sinta.


"Sebenarnya aku ada janji dengan klien setengah jam lagi. Bagaimana kalau aku menjumpai klien aku terlebih dahulu sebelum mengantarkan kamu ke bengkel mengambil motor kamu," kata Mukid.


"Baiklah!" sahut Sinta. Mukid menjalankan mobilnya kembali membelah jalan raya.


Tanpa banyak bertanya, Sinta tetap berada di dalam mobil Mukid dengan menyibukkan diri nya bermain ponsel. Sampai mobil Mukid masuk ke parkiran di sebuah bangunan megah dan bertingkat tinggi.


"Ayo turun! Di tempat ini aku akan menjumpai klien ku. Ini tidak akan lama kok! Paling satu sekitar satu atau dua jam saja pembicaraan dengan klien," ucap Mukid seraya membukakan pintu mobil bagian samping di mana Sinta duduk di sana. Sinta segera turun seraya mengucapkan terimakasih kepada Mukid. kini Sinta mengikuti langkah lebar kaki Mukid yang sudah jauh meninggalkan nya. Namun tiba-tiba Mukid menengok ke arah Sinta dan menghentikan langkah nya.


"Bisa sedikit cepat tidak jalannya, Sinta? Ayolah aku sudah ditunggu klienku," ucap Mukid yang pada akhirnya menarik tangan Sinta masuk ke ruangan lobby dimana sudah ada beberapa orang menunggu dirinya.


Mukid mengulurkan tangannya pada orang-orang tersebut di mana Sinta tidak mengenalnya. Mukid kini terlihat serius berbincang-bincang dengan klien-klien nya. Sedangkan Sinta duduk di sana sibuk memainkan ponselnya membaca novel di aplikasinya.


Sesekali Sinta memperhatikan Mukid yang terlihat serius berbicara dengan kliennya. Mungkin saja pembicaraan mengenai kerja sama dengan orang tersebut di dunia bisnisnya. Sedangkan Sinta, masih tetap sama terlihat di perusahaan nenek Waktu secara online. Memang selama satu minggu, Sinta datang ke kantor dua atau tiga kali saja. Selebihnya Sinta hanya menerima laporan dari anggota atau karyawan dari divisi nya melalui email. Setiap hari perkembangan di perusahaan nenek Wati masih bisa dipantau nya.

__ADS_1


Sudah hampir satu jam lewat, pembicaraan serius diantara Mukid dan klien-klien nya belum juga selesai. Sampai minuman dan makanan sudah berkali-kali datang di atas meja Sinta supaya Sinta tidak jenuh kalau tanpa ada minuman dan Cemilan. Tentu saja Mukid sengaja meminta pelayanan di pihak hotel untuk menyiapkan minuman dan juga makanan di kedua meja itu.


Dua jam berlalu, Sinta sudah mulai jenuh. Sinta melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. Waktu nya adalah menjemput Bana. Sinta berkali-kali melihat ke arah orang-orang pebisnis muda di depannya. Benar-benar tidak ada capeknya berbicara. Sampai akhirnya Mukid dan klien-klien itu saling berjabatan tangan. Klien-klien itu meninggalkan Mukid dan melemparkan senyuman ke arah Sinta. Kini menyisakan Mukid dan Sinta di ruang lobby tersebut. Mukid menarik tangan Sinta menuju tempat parkiran.


"Bana sudah pulang!" Bisa sedikit cepat laju mobilnya?" ucap Sinta. Mukid tersenyum mendengar nada perintah dari Sinta.


"Baiklah!" sahut Mukid. Mobil itu mulai melaju sangat cepat sehingga Sinta sontak memejamkan matanya dan dalam diam bibir Sinta komat-kamit seperti membaca mantra. Mukid sempat memperhatikan ke samping dimana Sinta sedang duduk. Mukid tertawa terbahak-bahak melihat Sinta yang memejamkan matanya lantaran ketakutan. Ditambah mulutnya komat-kamit membaca doa.


"Kamu! Benar-benar jahat sekali!" ucap Sinta kembali bibirnya manyun ke depan. Mukid menghentikan laju mobilnya ketika sudah sampai di depan sekolah Bana.


"Aku turun! Kamu boleh pergi! Terimakasih banyak!" ucap Sinta sambil membuka pintu mobil itu dan turun dari sana. Mukid masih saja belum berhenti terkekeh saat melihat ekspresi Sinta ketika diri nya minta mempercepat laju mobilnya.


"Bukannya dia tadi yang minta supaya aku mempercepat laju mobil ini. Giliran aku menurutinya, dia malah ngomel-ngomel. Hehehe," ucap Mukid.


"Halo Bana! Ayo naik!" ucap Mukid seraya membukakan pintu mobil nya. Sinta cemberut.


"Bukannya aku tadi sudah menyuruh kamu pergi dan tidak usah menunggu kami?" protes Sinta.


"Jangan dengerin mommy, om! Aku lebih baik naik mobil om ini saja daripada bonceng motor dengan mommy," ucap Bana dengan suara khas anak kecil.


"Oke, ayo Bana! Sabuknya di pasang yah!" ucap Mukid dan mobil itu kembali melaju dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


"Aku mau ambil motor aku dulu, om!" ucap Sinta terdengar seperti memerintah Mukid. Mukid tersenyum tanpa menanggapi nya.


"Mommy, kalau minta tolong dengan seseorang, bisa tidak sedikit sopan? Mommy benar-benar tidak menghargai om ini!" protes Bana.


"Eh?" Sinta terkejut dan menggaruk alisnya sendiri. Kembali Mukid menahan tawanya. Sinta kembali cemberut melihat ekspresi kemenangan dari Mukid.


"Bana! Nanti kita mampir beli es krim yah!" ucap Mukid.


"Oh no! Mommy tidak kasih aku minum es krim! Nanti aku bisa batuk, om ganteng!" sahut Bana. Kini giliran Sinta menjulurkan lidahnya ke arah Mukid. Mukid menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Om, kami bisa minta tolong dengan om tidak?" tanya Bana.


"Boleh! Apa itu?" sahut Mukid.


"Aku ingin ke rumah Papi Radit. Om Ganteng bisa kan mengantarkan kami ke sana!" ucap Bana. Mukid mengerutkan dahinya. Kini sorot matanya beralih melihat ke arah Sinta.


"Hem, di mana rumah Papi Radit, Bana?" tanya Mukid.


"Di TPU dekat rumah kami yang dulu. Sekarang ini kami tinggal bersama nenek buyut," jelas Bana. Mikid melebar matanya. Mukid ingin bertanya dan memastikan semuanya.


"Rumah Papi Radit di TPU?" tanya Mukid.

__ADS_1


"Benar om ganteng! Satu tahun ini Papi Radit telah meninggal dunia. Aku menjadi sendirian kalau bermain layangan. Aku menjadi sendirian kalau bermain ayunan," ujar Bana. Kini anak kecil itu menangis tersedu-sedu. Sinta tidak bisa berkata-kata.


"Ya Tuhan! Aku sampai tidak mendengar jika Radit telah meninggal," gumam Mukid.


__ADS_2