
Sinta terbangun dari tidurnya karena merasakan lapar di jam tiga dini hari. Sinta beranjak turun dari kamar tidur nya dan keluar dari kamarnya. Sinta mulai menuruni anak tangga dan segera menuju dapur dan membuka kulkas di sana. Ada beberapa puding yang telah dibuatkan nenek Wati untuk nya dan masih tersimpan di sana. Nenek Wati selalu membuat makanan dan menyediakan di lemari es jika Sinta sewaktu-waktu ingin camilan. Nenek sudah paling paham, cucunya itu suka terbangun di waktu menjelang fajar lantaran lapar. Dan kini Sinta duduk dan menikmati makanan yang sudah tersedia.
Ketika sedang menikmati puding dan juga makanan ringan di depannya, Sinta dikejutkan oleh suara bariton yang sangat dia kenalnya.
" Kamu terbangun, Sinta? Atau belum bisa tidur?" kata suara laki-laki bariton yang tidak lain adalah ayah tirinya. Sinta benar-benar terkejut dengan adanya Mukid di sana. Sejak tadi rupanya Mukid sudah duduk di ruang tengah sambil menikmati kopi dan menghisap rokoknya.
" Sudah tidur, dan aku terbangun dari tidur lantaran merasakan lapar, om." ucap Sinta berusaha tenang dan sewajarnya menghadapi laki-laki itu yang pernah memberikan kenikmatan sesaat di atas peraduan. Laki-laki yang pernah menaburkan benihnya kedalam rahim hingga jadi orok di dalamnya. Lalu dengan sadis dan kejamnya laki-laki itu memilih wanita lain yang nyatanya adalah mama nya. Dan laki-laki itulah yang sudah membuatnya berdosa melakukan aborsi untuk menggugurkan kandungan nya. Tentu saja sampai saat ini laki-laki itu belum mengetahui kalau Sinta telah melakukan aborsi yang secara tradisional itu.
Mukid duduk di samping Sinta dan ikut mengambil puding milik Sinta.
" Enak juga puding ini." ucap Mukid seraya mengecap rasa puding milik Sinta. Sinta tersenyum sinis.
" Kenapa kamu belum juga tidur, om? Di mana mama?" tanya Sinta sembari melihat kanan kiri namun tidak menemukan mama nya.
" Aku tidak bisa tidur! Aku rasa ada yang memikirkan aku sehingga aku juga ikut merasakan kegalauan itu. Dan mama kamu sudah tidur terlelap setelah bercinta dengan aku. Kamu tahu bukan, seorang wanita yang sedang hamil muda lagi gencarnya minta gituan dengan suaminya. Mama kamu benar-benar bisa membuat aku klepek-klepek." cerita absurd Mukid yang sengaja diucapkan agar Sinta semakin gusar.
__ADS_1
" Kamu tidak perlu menunjukkan kebahagiaan kamu dengan mama aku, om! Aku tidak akan cemburu dan sakit hati. Aku bahagia kok, jika kalian bahagia." ucap Sinta. Mukid tersenyum dan menatap mata Sinta yang berkaca.
" Benarkah? Memang seharusnya demikian bukan? Kamu akan bahagia ketika melihat mama kamu hidup berbahagia dengan laki-laki yang dia cintai." kata Mukid menegaskan.
" Tetapi sayangnya laki-laki yang telah dicintai mama ku adalah laki-laki yang pernah mengkhianati dirinya. Aku tidak bisa membayangkan jika mama ku mengetahui pengkhianatan kamu terhadap dia." sindir Sinta.
" Kita melakukan nya suka sama suka bukan? Dan kamu yang memaksa aku untuk melakukan semuanya. Kenapa kamu malah menyalahkan aku?" bela Mukid. Sinta terdiam, sontak matanya kembali berkaca dan air mata itu lolos jatuh dari sudut matanya tanpa diminta. Mukid menjadi merasa sedih dan ikut merasakan bersalah atas semua yang sudah terjadi.
"Maaf, Sinta! Tetapi bukankah kamu yang menginginkan kita berpisah dan aku harus menikahi mama kamu, bukan? Kenapa kamu kembali mengungkit nya kembali? Ayolah Sinta, lupakan semua nya dan anggap semuanya tidak pernah terjadi." ucap Mukid panjang lebar.
" Tapi kenapa harus dengan mama aku? Kenapa tidak dengan wanita lain? Bahkan aku sudah pernah hamil lantaran hubungan aku dengan kamu, om." kata Sinta yang membuat Mukid terkejut bukan main.
" Apakah ada orang yang mendengarkan pembicaraan kita, Sinta?" tanya Mukid memastikan.
" Aku rasa tidak ada! Mungkin saja kucing yang membuat gelas itu jatuh dari sana." sahut Sinta. Mukid menghela nafasnya lega.
__ADS_1
" Jadi, anakmu eh anak kita? Apakah kamu saat ini juga tengah mengandung anak aku, Sinta?" tanya Mukid memastikan.
" Anakmu sudah aku bunuh! Aku bunuh beserta rasa cinta ini terhadap kamu! Kekecewaan ini memaksa aku untuk melakukan ini. Maaf, aku telah mengaborsi anak kita." kata Sinta. Mukid menggenggam tangannya kuat, Mukid benar-benar merasa menjadi orang terjahat sebagai seorang laki-laki.
" Kamu telah mengaborsi anak kita?" tanya Mukid kembali.
" Aku tidak mungkin mempertahankan semuanya om Mukid! Setelah keadaan ini tidak memungkinkan kita untuk bersatu lagi. Kamu adalah ayah tiri aku. Aku adalah anak tiri kamu, om Mukid. Kamu adalah pria yang akan menjadi ayah dari adik tiri ku. Suami dari mama ku." kata Sinta. Air Mata itu kembali jatuh dari sudut matanya.
Mukid kembali menyalakan rokok nya dan mulai menghisap nya pelan.
" Kenapa kau tidak bilang kepada ku jika kamu saat itu telah mengandung anak aku, Sinta?" ucap Mukid dalam penyesalan nya.
" Aku takut! Aku tidak ingin mama tahu kalau kamu adalah kekasih aku selama ini." sahut Sinta. Mukid menjambak rambutnya sendiri. Dalam benaknya, Mukid benar-benar menyesal kenapa Sinta juga harus mengaborsi kehamilan nya.
" Apakah sakit?" tanya Mukid.
__ADS_1
" Ini tidak sesakit ketika kita memutuskan untuk berpisah dan kamu lebih memilih mama aku daripada aku." sahut Sinta. Mukid kembali menarik nafasnya dalam- dalam. Kembali Mukid menghisap rokok nya dengan kasar dan membuangnya sembarangan.
" Sudahlah, lupakan semua yang terjadi. Bukannya ini yang sudah kamu katakan tadi terhadap aku, om?" kata Sinta akhirnya dan berlalu meninggalkan Mukid yang masih duduk di sana ditemani rokoknya. Kini Mukid dalam bimbang dan kalut pikiran nya. Dirinya seperti penjahat wanita yang menodai wanita yang terikat hubungan darah.