MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
YUK MENIKAH


__ADS_3

Kadang ingin menganggap sebagai kekasih tetapi pada saat yang sama tak percaya diri. Sebab, kekasih sejati tak pernah meminta tetapi hanya memberi. Dan mana ada kekasih seperti ini? Terlalu sering menyakiti dan mengkhianati. Bilang mencintai tetapi ternyata ada yang lainnya lagi. Begitu ingat, hanya untuk meminta bukan memberi. Aku hanyalah hamba sahaya bukan kekasih sejati. Biar lah aku mengabdi dengan harap - harap cemas tetap dicintai.


Sinta sedang duduk diruang tamu bersama Radit. Sabtu sore ini Radit benar-benar bertandang di rumah nenek Wati. Tentu saja kebiasaan Radit selalu membawa oleh-oleh untuk nenek Wati. Kalau mama Delima tidak lagi membuat kue, Radit akan membelinya di toko kue. Kali ini Radit membelikan nenek Wati serabi khas Malang. Kini mereka berdua menikmati kopi dengan sebatang camilan yang sudah ada Di atas meja. Sedangkan Radit, mulai menyalakan barang rokoknya dan di hisap secara perlahan rokok yang ada di celah jarinya. Sinta memperhatikan Radit yang sudah pecandu rokok itu.


" Sudah lama jadi pecandu rokok?" tanya Sinta sambil memperhatikan Radit yang benar-benar menikmati setiap tarikan rokoknya.


" Lumayan! Mungkin ketika SMA kelas tiga sudah mulai merokok. Dan suka rokok merk ini." ucap Radit tanpa malu mengakui nya.


" Laki-laki kalau tidak merokok kesannya kok kurang maco yah? Tapi aku sendiri kurang suka melihat laki-laki yang merokok." ucap Sinta sambil menjulurkan lidahnya.


" Kenapa? Kamu takut jika nanti menjadi istrinya pengeluaran makin banyak karena untuk membeli rokok?" tuduh Radit. Sinta mencebikkan bibirnya.


" Kamu jangan khawatir, jika aku menjadi suami kamu, aku akan lebih giat bekerja untuk mencari nafkah. Aku tidak ingin kamu hidup dalam kekurangan. Aku akan membahagiakan kamu dengan kecukupan materi dan nafkah batin yang membuat kamu tenang." ucap Radit tanpa filter.


" Apa? Nafkah batin yang membuat aku tenang?" sahut Sinta dengan mata melebar. Bola mata itu seperti hendak terjun dari kelopaknya keluar dari sana. Radit terkekeh melihat ekspresi Sinta seperti itu.


" Iya dong! Dalam sebuah pernikahan itu tujuan nya adalah mendapatkan keturunan. Dan untuk mendapatkan keturunan itu harus melakukan hubungan badan. Harus melakukan penyatuan saling memberi dan menerima antara suami istri tersebut." kata Radit.


" Stop! Kok pembicaraan kamu menjadi ke sana sih? Memangnya aku mau jika menjadi istri kamu? Menjadi pacar dan kekasih kamu saja belum." omel Sinta dengan cemberut mulutnya sembari memainkan jari- jari tangannya. Radit terkekeh melihat ekspresi yang menggemaskan dari Sinta.


" Otw, Sinta sayang! Tapi kamu menyukai aku kan?" ucap Radit sembari mengedipkan bola matanya.


" Tidak ada! Kamu GR! Mana ada aku suka kamu bang?" sahut Sinta dengan menjulurkan lidahnya.


" Beneran nih? Kamu tidak menyukai aku? Waduh, ternyata aku sudah bertepuk sebelah tangan dong!" ucap Radit kembali memainkan bola matanya. Sinta memutar bola matanya jengah.


Beberapa lama keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Sedangkan Sinta saat ini benar-benar menjadi galau dan bimbang dengan perasaan nya. Kini kembali pikiran nya tertuju pada sosok om Mukid. Kenapa laki-laki itu seperti hantu yang selalu mengganggu ketenangan jiwa dan pikiran Sinta. Padahal bersama dengan Radit, Sinta sudah bisa tertawa dan ceria. Namun jarak yang berjauhan dengan Om Mukid juga lah yang membuat hati Sinta masih terikat hatinya dengan nama itu.


__ADS_1


Senja itu sudah berlalu dan berganti gelap. Namamu masih membekas di kalbu. Memberi warna dan arti bagi kehidupan itu. Seperti bintang - bintang yang selalu memancarkan cahayanya. Walaupun terlihat sangat kecil di mata.


Hanya ucapan maaf yang terakhir untuk kamu. Tapi jangan kwatir! Aku selalu mendoakan kebaikan dan kebahagiaan kamu. Tidak hanya untuk kamu! Tapi semua yang kenal dan belum mengenali aku. Aku dalam kepalsuan antara aku dan bayangan mu.


Apakah kamu tahu? Saat kabarmu mulai menjadi hal yang sulit untuk ku ketahui. Saat itu pula aku mulai belajar membiasakan diri. Belajar untuk tidak kwatir, belajar untuk menerima apa saja yang telah direncanakan takdir. Entah apa yang ada di akhir kisah ini. Pisah atau memulai samua lagi dari awal. Aku tak tahu, yang aku tahu sekarang bukan lagi aku yang kau prioritas kan.


@@@@@@@@


" Sinta, melamun saja!" ucap Radit yang membuat Sinta terkejut.


" Eh iya ada apa Radit?" kata Sinta sambil menyeruput kopi nya. Radit pun ikut menyeruput kopi nya. Itu adalah cangkir kopi yang kedua setelah yang pertama kopi Radit telah habis.


" Ada aku di sini tapi pikiran kamu ke mana - mana loh!" protes Radit. Sinta menarik nafasnya dalam- dalam.


" Eh iya maaf!" kata Sinta.


" Apakah kamu pernah memiliki kekasih? Atau di Jakarta kekasih kamu atau laki-laki yang kamu cintai itu?" tuduh Radit. Sinta menatap tajam ke arah Radit. Keduanya terlihat serius.


"Aku lagi malas menguraikan kata. Tapi aku berusaha memaksakan hati untuk selalu memfokuskan bayangan dia. Seketika aku harus tersadar. Bukan kamu satu - satunya prioritas utama bagiku sekarang. Tujuan hidupku adalah aku milik semua orang yang siap berbagi melayani yang membutuhkan. Bukan sepasang mata melainkan jiwa - jiwa yang sakit karena resah memikirkan masalah dunia. Saat nya aku harus kembali hijrah dan melangkah kembali ke kehidupan baru menuju tujuan awal." gumam Sinta dalam lamunan nya.


" Sinta, menikah lah dengan aku!" ucap Radit dengan suara bergetar.


Sinta yang mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Radit mendadak tersedak karena sedang menikmati kopi hitam yang tersaji dari tadi. Mata Sinta kembali melebar dan hendak lepas dari sana.


" Aku serius, Sinta! Menikah lah dengan aku! Aku dari dulu menginginkan menikah muda. Kamu jangan khawatir kalau aku tidak bisa menghidupi kamu dan mencukupi kebutuhan kamu. Aku saat ini pun sudah bekerja walaupun masih kuliah." jelas Radit.


" Apa kamu bilang? Kamu serius? Kamu tidak lagi mengigau kan Radit?" ucap Sinta.


" Tidak Sinta! Aku menyukai kamu! Aku sudah nyaman ketika bersama kamu." kata Radit.

__ADS_1


" Tapi aku masih kuliah." sahut Sinta.


" Kamu bisa tetap kuliah kok, walaupun kita sudah menikah dan kamu sudah menjadi isteri ku." kata Radit.


" Apakah kamu Sudi menerima aku Sinta?" ucap Radit lagi sambil meraih pergelangan tangan Sinta. Sinta melihat kanan dan kiri, takut jika nenek Wati melihat Radit memegang tangan nya.


" Tapi! Kenapa harus secepat ini menikah? Aku bahkan belum memikirkan nya. Menikah muda dan masih belum lulus dari kuliah aku." Sinta masih bimbang.


" Sekarang aku bertanya kepada kamu. Kamu menyukai aku tidak?" desak Radit. Sinta bingung untuk menjawab nya.


" Em, aku aku tidak tahu." sahut Sinta. Radit menarik nafas nya dalam- dalam.


" Apakah masih ada laki-laki lain atau nama lain di hati kamu?" tuduh Radit. Sinta menggeleng kepalanya dengan cepat. Sinta takut ketahuan bohong nya.


" Kalau begitu, kamu pasti menyukai aku, Sinta! Ayolah kita menikah dan membangun rumah tangga kita." desak Radit.


" Radit! Aih, jangan buru- buru kenapa? Kalau begitu kita pacaran dulu saja deh." ucap Sinta. Radit tersenyum senang.


" Nah, begitu dong! Tapi kita pacaran nya gak akan lama, dua minggu saja. Oke? Selama dua minggu itu kita urus persiapan pernikahan kita di sini." desak Radit memaksakan kehendak.


" Kamu yang bicarakan semuanya pada nenek Wati yah. Aku ogah. Aku takut!" ucap Sinta akhirnya.


" Siap!! Soal itu aku sebagai laki-laki sudah sangat siap. Yang penting kamu harus yakin kalau mau menikah dengan aku. Oke?" ucap Radit yang sekarang dengan nekat meraih tubuh Sinta dan memeluknya. Sinta dengan cepat mendorong Radit.


" Nanti di lihat nenek Wati." protes Sinta. Radit terkekeh sembari menatap wajah Sinta tak berkedip. Sinta menundukkan kepalanya melihat Radit yang seperti hendak memangsa nya.


" Percayalah padaku! Aku akan membuat kamu mencintai aku dan menggilai ku. Dan jika dulu kamu pernah memiliki masa lalu itu dan kamu belum bercerita dan jujur dengan aku, aku akan membuat kamu melupakan kepahitan itu. Bersama dengan aku, aku akan membuat dunia kamu serasa indah." batin Radit sambil menatap ayu wajah Sinta di malam yang mulai terang dengan sinar bulan.


Tidak jauh dari keduanya sedang duduk serius berbincang-bincang, Nenek Wati memperhatikan keduanya. Ada doa yang terbersit dalam hati nenek Wati untuk cucunya dan juga mereka berdua.

__ADS_1


" Semoga kalian berjodoh. Semoga Radit bisa menerima segala kekurangan dan masa lalu Sinta. Semoga saja. Kamu perlu mendapatkan kebahagiaan itu, Sinta." gumam nenek Wati.


__ADS_2