
Aku Mukid. Saat ini aku bekerja di perusahaan milik aku sendiri. Perusahaan yang baru saja aku rintis dan kembangkan. Dengan dukungan papa serta keluarga ku, akhirnya aku bisa mendirikan perusahaan sendiri dan bahkan kini telah membuka anak cabang di luar kota. Tentu saja, aku telah memiliki asisten dan orang-orang yang aku percaya untuk mengelola nya. Aku tetap memimpin semuanya dalam memperluas dunia bisnis ku.
Aku menyukai seorang wanita yang memiliki kecantikan dan aura yang bersinar. Namun usianya jauh lebih tua dari aku. Wanita itu berstatus janda dengan memiliki putri yang sudah remaja. Namanya Maimunah dengan usia empat puluh tahun sedangkan aku berusia dua puluh tujuh tahun. Putri Maimunah masih duduk di bangku kuliah dan berusia sekitar dua puluh satu tahun. Selisih beberapa tahun dari aku.
Melihat wajahnya Maimunah yang sangat cantik, tentu saja putri semata wayangnya pun cantik juga. Namun aku belum pernah berjumpa dan berkenalan dengan anaknya Maimunah. Entah lah, Maimunah masih belum memperkenalkan putrinya dengan aku. Padahal akulah yang akan menjadi ayah tirinya kelak jika aku akan menikah dengan Maimunah saatu hari nanti.
Selama menjalin hubungan dengan Maimunah sekitar dua tahun ini, aku belum diijinkan bermain dan bertandang di rumahnya. Bahkan aku hanya ditunjukkan alamatnya saja. Selain itu aku masih belum dikenalkan dengan putri dan keluarganya. Kami hanya bertemu atau melepas rindu dengan makan bersama di rumah makan atau kadang jalan bersama di suatu tempat.
Namun pada akhirnya aku mengajak Maimunah singgah ke apartemen ku. Dan di sanalah akhirnya aku mencari kesempatan itu. Aku meluapkan segala perasaan dan kerinduan ku kepada Maimunah. Di apartemen ku aku mencurahkan segala rasaku dengan mencium dan mendekap erat Maimunah yang selama ini tidak pernah aku jamah. Ternyata ketika aku sudah mencumbu Maimunah, Maimunah membalasnya dengan hangat. Bahkan kami melakukan nya hingga berkali-kali.
Setelah itu, di apartemen itulah aku dan Maimunah akhirnya sering melakukan hal itu. Kami melakukan semuanya suka sama suka. Pada akhir nya aku mendesak Maimunah untuk mengajak nya menikah secepatnya. Aku sudah sangat ingin memiliki anak. Aku ingin menjadi ayah. Aku sudah mapan dalam segi ekonomi. Aku sangat mampu jika harus memberikan kehidupan dan kesejahteraan bagi istri, anak tiriku dan juga mungkin saja anak- anak kandung aku kelak.
Aku sudah terlanjur mencintai Maimunah. Walaupun dia seorang janda, namun dia sangat cantik dan mampu membahagiakan aku. Bahkan dia bisa mengimbangi aku di atas peraduanku. Aku tahu, usia aku dengan Maimunah jauh berbeda. Mungkin saja aku lebih pantas jika menikah dengan putri nya. Tapi aku dari dulu memang menyukai wanita dewasa dan lebih tua dari aku.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMP, aku telah menjalin pacaran dengan kakak kelas ku yang duduk di bangku sekolah menengah atas. Aku suka ketika dimanja oleh wanita yang lebih tua daripada aku. Namun aku bisa menjadi penyayang dan perhatian juga walaupun usiaku lebih muda dari kekasih aku.
__ADS_1
Minggu ini aku akan dikenalkan oleh putranya Maimunah di rumah makan favorit kami. Semoga saja putri Maimunah bisa menerima aku sebagai calon ayah tirinya.
@@@@@@@
Selain Maimunah, aku saat ini mengenal gadis kecil yang masih duduk di bangku kuliah. Usianya mungkin sekitar dua puluh satu tahunan. Awal aku berkenalan dengan gadis kecil itu saat mobilku tidak sengaja telah menabrak motor nya. Lebih tepat nya menyerempet nya hingga motor matic nya jatuh bersama gadis itu.
Gadis kecil itu sangat cantik. Dia bahkan lebih cantik daripada Maimunah. Dia bernama Sinta. Setelah peristiwa itu, aku dan Sinta menjadi sering berkomunikasi melalui aplikasi di ponsel. Kami sering ber telephone dan kirim pesan chat. Bahkan aku suka dan sering mengunjungi Sinta di kampusnya. Entahlah bersama dengan Sinta, aku seperti bersama dengan adikku. Aku sangat menyayanginya. Sinta pun terlihat semakin manja dengan aku. Sinta sering meminta aku untuk mengantar dan menjemputnya dari kampus. Itu semua karena setelah Sinta jatuh dari motor nya, mama nya tidak kasih ijin untuk pergi ke kampus naik motor. Pada akhirnya mamanya yang mengantarkan Sinta.
Namun akhir- akhir ini akulah yang menjemput Sinta dari kampus nya. Aku sangat menyukai Sinta. Suka yang berbeda dengan Maimunah. Rasa suka itu berbeda dengan Maimunah.
Malam ini aku sangat rindu dengan Maimunah. Namun aku masih sibuk chatan dengan Sinta. Sinta berkata kalau dirinya saat ini merindukan aku. Merindukan apa maksudnya? Semoga Sinta hanya menganggap aku sebagai kakaknya tidak lebih dari itu. Namun seperti nya Sinta saat ini mengungkapkan segala perasaan nya, dia benar-benar telah menyukai aku. Padahal aku saat ini sudah memutuskan hendak menikahi Maimunah, janda beranak satu itu.
" Sinta, maaf! Aku sudah memiliki kekasih." ucapku kali ini. Namun Sinta tidak mau tahu. Sinta sudah terlanjur mencintai aku. Perhatikan yang aku berikan terhadap Sinta, dianggap lain oleh Sinta. Sinta mengira aku pun sedang pendekatan dengan dirinya. Padahal aku menyayangi Sinta seperti adikku sendiri.
" Kamu dimana, om? Ijinkan aku menemui om sekarang!" tanya Sinta.
__ADS_1
" Sinta, aku saat ini sedang berada di apartemen." kata Mukid.
" Kirimkan lokasi nya. Aku akan kesana menemui om Mukid." desak Sinta. Aku mau tidak mau memberikan alamat apartemen ku.
Aku bingung ketika dihadapkan seorang wanita yang menyukai aku, namun saat ini aku telah mencintai wanita yang lain. Padahal aku sebentar lagi akan menikah dengan Maimunah.
Apa yang aku lakukan jika Sinta tidak mau menerima semua ini. Aku menyayangi Sinta namun sayangnyaa itu bukan cinta. Aku tahu, aku hanya menganggap Sinta seperti adik aku.
Tidak berapa lama Sinta sudah tiba di apartemen ku. Kini bahkan sudah ada di depanku. Dengan cepat Sinta memeluk aku, ketika dia melihat dan bertemu denganku. Aku tidak bisa menipis nya.
" Om Mukid, aku rindu! Aku tidak mau jauh dari kamu." kata Sinta. Aku bingung. Sungguh bingung menghadapi semuanya ini. Padahal aku saat ini merindukan Maimunah. Merindukan wanita yang akan menjadi istri ku. Aku akan menikahinya. Maimunah lah yang telah menikmati keperkasaan ku yang perdana bukan yang lainnya.
" Om Mukid." ucap Sinta dengan terisak. Mukid tidak tega melihat gadis kecil nya menangis seperti itu.
" Sudah jangan menangis, aku di sini. Kamu sudah makan belom? Ayo kita makan bersama dengan aku." ajak Mukid penuh perhatian. Sinta menghapus air matanya dan menurut apa kata Mukid.
__ADS_1