
Sinta dan Radit sudah berada di dalam kamarnya. Kamar yang dulu ditempati oleh Sinta sewaktu tinggal di rumah itu. Radit mengamati kamar yang dulu ditempati oleh Sinta.
"Kamar kamu nyaman yah? Dulu kamu pasti sangat betah di kamar." tebak Radit. Sinta tersenyum saja mendengar tebakan Radit yang benar.
"Dulu aku suka sendiri. Dan kamar inilah tempat favorit aku untuk mencari ketenangan." ucap Sinta.
"Mencari ketenangan alias bobok yah? Tampak kamu doyan sekali bobok, sayang!" kata Radit kini mendekati Sinta. Sinta memeluk pinggang Radit dengan manja.
"Hai kamu kenapa, sayang? Jangan menggoda aku yah." ujar Radit sembari merangkum kedua pipi Sinta. Radit mengecup bibir Sinta pelan setelah itu mengusapnya.
"Jadi di sini kamu tidak memiliki banyak teman?" tanya Radit.
"Teman banyak, namun hanya sekedar kenal saja, tapi tidak dekat. Setelah jatuh cinta, aku tidak ingin mengenal yang lain selain orang yang aku cinta. Mungkin inilah yang membuat aku bersikap bodoh dan hanya terpaku dengan satu orang saja." kata Sinta.
"Laki-laki yang kamu cinta itu pasti laki-laki yang spesial. Nyatanya dia mampu membuat wanita sempurna seperti kamu menjadi jatuh hati dan mau berkorban untuk dia." ucap Radit.
"Sekarang aku bersyukur, ada kamu yang mencintai aku dengan tulus." sahut Sinta. Radit tersenyum dan menatap wajah lekat Sinta.
"Apakah kita akan satu kamar di sini, sayang? Tidakkah mama dan ayah kamu mengijinkan aku satu kamar dengan kamu di sini?" tanya Radit.
"Tidak perlu pindah, kamu tetap disini saja dengan aku." ucap Sinta. Radit tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Jangan berpikiran k-o-t-o-r!" sahut Sinta sembari mengusap lembut jidat Radit. Radit terkekeh.
Tok
tok
tok
Suara ketukan pintu kamar Sinta terdengar disertai dengan memanggil nama Sinta.
"Sinta! Sinta!" suara seseorang dibalik pintu kamar Sinta. Tentu saja suara itu sangat dihapal oleh Sinta.
"Iya, om? Eh ayah!" ucap Sinta setelah membuka pintu kamar nya.
"Iya ayah, tadi sebenarnya aku juga ingin pindah dari kamar Sinta, tetapi Sinta tidak mengijinkan aku pindah dari sini." ucap Radit. Sontak Sinta melotot tajam matanya ke arah Radit. Radit menahan tawanya.
"Baiklah Radit, ayo aku antar kamu ke kamar tamu." ajak Mukid.
"Tidak perlu, ayah! Nanti biarkan aku yang mengantar Radit ke kamar tamu sekalian kita makan bersama di bawah." sahut Sinta.
"Baiklah! Kami menunggu kalian makan bersama di bawah yah." kata Mukid sambil berlalu meninggalkan Radit dengan Sinta.
__ADS_1
Sinta melihat Radit masih terkekeh. Sinta melotot matanya menatap Radit yang sedang mentertawakan dirinya.
"Kamu dengan ayah tiri kamu kok kaku banget sih, sayang? Lagi pula ayah tiri kamu itu pantas nya menjadi kekasih kamu atau calon suami kamu." ucap Radit. Sinta Menjulurkan lidahnya. Radit semakin terkekeh dan semakin ingin menggoda Sinta.
"Sayang, aku menjadi berpikir, jika ayah tiri kamu bertemu kamu terlebih dahulu, aku rasa bukan mama kamu yang menjadi istrinya, namun kamu, sayang." kata Radit. Sinta terdiam.
"Ya sudah! Yuk kita ke bawah, sudah ditunggu oleh mama dan ayah tiri kamu di ruang makan." ajak Radit seraya menggandeng tangan Sinta tanpa sungkan.
@@@@@@@
Radit dan Sinta menuruni anak tangga sambil bergandengan tangan. Keduanya menuju ruang makan di mana ayah tiri dan mama nya sudah menunggu mereka.
"Sinta, Radit ayo duduk di sini. Ini ada makanan kesukaan kamu, Sinta." kata mama Maimunah. Sinta dan Radit kini sudah duduk di kursi makan. Sinta mulai mengambilkan makanan untuk Radit.
"Kamu mau iga bakar atau ayam bakar, sayang?" tanya Sinta. Seketika Mukid menatap ke arah Sinta dengan tatapan aneh.
"Ayam bakar saja, sayang." sahut Radit. Radit tiba-tiba menangkap tatapan mata ayah tiri Sinta yang aneh. Tatapan yang seperti sangat cemburu ketika Sinta memprioritaskan Radit dan memperhatikan Radit.
" Sayang, kamu makan yang banyak yah. Supaya anak kita disini sehat." ucap Mukid tidak mau kalah sambil mengusap perut Maimunah yang buncit. Maimunah tersenyum malu dilihat anak dan calon menantu nya.
"Oh, iya Radit! Nanti kamu bisa tidur di kamar tamu yah! Nanti kalau kalian sudah menikah baru boleh satu kamar." ucap Maimunah.
__ADS_1
"Baik mama!" sahut Radit nurut dan tanpa protes.
"Sinta, Radit, soal pernikahan kalian nanti bisa kita bicarakan besok saja yah, sayang! Sekarang kalian istirahat dan tidur dulu. Oke?" kata Maimunah. Sinta dan Radit mengikuti apa kata Maimunah.