MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
RESTU


__ADS_3

Mukid saat ini telah di hadapan papa, mama nya. Niatnya untuk menikah dengan Maimunah yang berstatus seorang janda dengan memiliki anak satu, ternyata ditentang oleh kedua orang tuanya. Apalagi Maimunah dengan status janda telah menginjak umur 40 tahun. Usia yang cukup terpaut jauh dengan Mukid yang saat ini masih berumur 27 tahun. Padahal papa mama nya dulu pernah bilang kalau akan merestui pilihan dari Mukid dan tidak akan menentangnya. Namun kenapa ini bisa berubah pendirian? Mukid menjadi uring-uringan lantaran kedua orang tuanya seperti menentang pilihan Mukid untuk memperistri Maimunah. Rencana pernikahannya menjadi kacau.


Mama nya hanya bisa mengikuti apa kata papa nya dan tidak banyak memberikan komentar. Sebenarnya mama Mukid memang menyerahkan semua keputusan itu pada Mukid, lantaran Mukid lah yang akan menjalani biduk rumah tangga nya itu. Mama Mukid hanya berpikir yang terpenting putranya bisa hidup berbahagia dengan pendamping hidupnya.


" Kamu tahu, Mukid! Umur 40 tahun itu sangat berbeda dengan gadis yang berumur 21 tahun sampai 25 tahun. Usia 40 tahun mungkin saja sudah kurang produktif dalam mendapatkan keturunan. Berbeda jika kamu menikah dengan gadis yang masih berumur dua puluh tahunan. Percaya dengan papa." kata papa Mukid yang bernama pak Koko. Mama Mukid manggut-manggut kepalanya, sepertinya membenarkan argument dari suaminya itu.


" Kami ini sudah sepuh, Mukid! Mama dan juga papa tentu saja ingin memiliki seorang cucu dari keturunan kamu. Terlepas semua nya adalah titipan dan kehendak dari Tuhan. Namun secara logis, kamu tentu harus bisa memilih. Banyak wanita-wanita yang muda, baik, cantik, mandiri dan belum pernah menikah serta memiliki anak. Kamu malah memilih seorang janda yang sudah memiliki anak perawan. Bahkan anaknya sudah berumur 21 tahun. Kenapa kamu tidak memilih dan menikah dengan anaknya saja." ucap pak Koko. Mukid mengernyit dahinya.


" Papa, cinta tidak bisa di atur pa." sahut mama Mukid yang bernama Koni.


" Mama benar pa! Aku sudah lama menjalin hubungan dengan Maimunah. Dan aku telah nyaman bersama nya. Papa percaya dengan aku, aku bisa mewujudkan keinginan papa mama untuk memiliki cucu dari keturunan ku bersama dengan Maimunah." desak Mukid.


" Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, ya sudahlah! Mama papa tidak mau melarang lagi. Namun kamu jangan menyesal jika apa yang mama papa takut kan akan terjadi." kata pak Koko.


" Papa, aku menikah dengan Maimunah akan siap dengan segala sesuatunya. Jika memang Maimunah tidak bisa memberikan aku keturunan, itu akan aku terima. Mama papa jangan khawatir akan soal ini. Baik buruk sudah harus aku hadapi dengan segala konsekuensi nya." ucap Mukid sok idealisme.

__ADS_1


" Kamu ini masih dibutakan oleh cinta. Padahal kamu laki-laki yang gagah, tampan, mandiri dan juga memiliki banyak kelebihan. Kamu ini seperti papa, pasti banyak cewek-cewek yang mengidolakan kamu." kata pak Koko. Bu Koni mencubit lengan papanya Mukid hingga Pak Koko meringis kesakitan. Mukid yang melihat kedua orang tuanya yang terlihat harmonis ikut senang.


" Aku ingin rumah tangga ku seperti mama papa yang saling mencintai dan menyayangi sampai tua seperti ini." ucap Mukid.


" Kamu harus saling berkomunikasi dan saling pengertian dengan pasangan kamu. Saling percaya juga penting dalam memperkuat hubungan suami istri." kata pak Koko.


" Akan saya ingat pesan papa!" sahut Mukid. Mama Mukid tersenyum melihat putranya yang kini sudah sangat dewasa.


@@@@@@@


" Sinta, mama mohon jangan jauh- jauh dengan mama. Kamu adalah putri mama satu- satunya. Mama tidak ingin kita saling berjauhan lantaran mama sudah menikah." ucap Maimunah.


" Mama, aku mohon ma. Aku juga ingin mandiri seperti mama." sahut Sinta. Maimunah sejenak mulai memikirkan kemauan Sinta yang ingin mandiri.


" Baiklah! Mama akan mengijinkan kamu pindah kuliah dan sambil bekerja asal kamu tinggal di rumah nenek kamu." ucap Maimunah akhirnya memberitahu keputusan nya.

__ADS_1


" Benar ma? Mama kasih ijin jika aku pindah kuliah dan mulai bekerja?" tanya Sinta kembali untuk memastikan. Maimunah menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


" Iya, mama kasih ijin kepada mu. Namun kamu hanya boleh bekerja di perusahaan keluarga mama. Di sana kamu akan dibimbing oleh tante kamu, adik dari mama. Dan kamu harus tinggal di rumah nenek sekalian menemani nenek di rumah nya." kata Maimunah. Sinta menghambur dan memeluk Maimunah.


" Mama pasti akan sangat kesepian karena jauh dari kamu, Sinta." kata Maimunah.


" Itu tidak akan terjadi, mama! Ada om Mukid yang akan menemani mama. Mama akan bahagia bersama om Mukid. Aku yakin itu." ucap Sinta.


" Terima kasih sayang! Kamu sudah memberikan ijin kepada mama untuk menikah kembali." kata Maimunah.


" Mama! Mama juga berhak bahagia. Bersama dengan om Mukid, aku yakin mama bisa mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan itu." ucap Sinta. Maimunah tersenyum mendengar Sinta berkata demikian.


" Putri mama sudah semakin dewasa. Mama sangat beruntung memiliki putri seperti kamu, Sinta." kata Maimunah.


" Aku juga, ma! Aku bersyukur memiliki mama yang baik dan cantik serta mandiri seperti mama." ucap Sinta. Keduanya saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2