MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
SEKIAN LAMA


__ADS_3

Mukid mengantarkan Sinta pulang ke rumah nya. Sesampainya di rumah, Sinta mengajak Mukid untuk mampir ke rumahnya. Karena Mukid tidak ada janji untuk bertemu dengan klien dan tidak ada acara yang lainnya, Mukid akhirnya menuruti apa yang diminta oleh Sinta untuk singgah terlebih dahulu di rumahnya. Sinta tentu saja sangat senang ketika Mukid menerima ajakan nya itu.


Kini Mukid sudah duduk di kursi ruangan tengah. Kopi dan juga camilan sudah ada di atas meja. Bibi lah yang telah menyiapkan nya. Setelah Sinta pulang baru asisten rumah tangga yang bekerja di rumah itu pun, pamit pulang. Kini di rumah itu menyisakan Mukid dan Sinta.


" Mama kamu belum pulang, kalau jam segini?" tanya Mukid.


" Sebentar lagi mama pulang kok. Om Mukid mau menunggu mama pulang kan? Mama ku baik kok, om Mukid tidak perlu khawatir." ucap Sinta. Mukid memperlihatkan senyuman manisnya.


" Baiklah, aku akan menunggunya. Aku sangat penasaran dengan mama kamu, mama yang hebat karena sudah membesarkan anak seperti kamu yang cantik dan baik." kata Mukid. Sinta terkekeh mendengar pujian dari Mukid.


Selama mereka duduk di ruangan itu, antara Mukid dan Sinta berbincang banyak hal. Keduanya semakin akrab dan lebih dekat. Namun tiba- tiba ponsel Mukid bergetar dan ada panggilan masuk di sana.


" Sebentar yah, aku angkat dulu." kata Mukid seraya mengangkat panggilan masuk di ponselnya.


" Iya, halo! sapa Mukid.


" Di mana? Baiklah, aku akan segera ke sana." ucap Mukid. Sinta mengernyitkan dahinya.


" Sinta, maaf aku mendadak ada urusan penting. Aku harus segera pergi." kata Mukid.


" Kamu tidak jadi menunggu mamaku?" tanya Sinta kecewa.


" Aduh, maaf Sinta! Mungkin lain waktu saja. Ini benar-benar penting, teman ku saat ini mobilnya mogok, dan dia sangat memerlukan bantuan aku." ucap Mukid beralasan.


" Seorang teman cewek yah?" tuduh Sinta. Mukid pura-pura cuek dan tidak mendengar ucapan Sinta.


" Teman om Mukid, cewek yah?" tanya Sinta memastikan kembali.

__ADS_1


" Iya, hanya teman." sahut Mukid sambil tersenyum dan mengusap kepala Sinta dengan lembut. Sinta memanyunkan bibirnya.


" Jangan cemberut dong! Besok siang aku akan datang kembali ke kampus kamu dan di kafetaria yang sama." janji Mukid.


" Benarkah?" sahut Sinta yang tiba-tiba berubah menjadi ceria dan senang.


" Iya, besok aku akan menelpon kamu." kata Mukid.


" Oke, tapi jangan lupa nanti malam telepon aku yah om." kata Sinta lagi.


" Sip!" sahut Mukid dengan senyuman khas nya.


Mukid bergegas meninggalkan rumah itu dengan mobilnya. Mukid segera menjalankan mobilnya dengan cepat. Ada seseorang yang saat ini telah panik dan menantikan pertolongan nya. Saat perjalanan, Mukid menghubungi bengkel mobil untuk segera meluncur ke alamat dimana mobil temannya itu sedang mogok.


" Maimunah pasti sangat panik di sana." gumam Mukid. Sepanjang perjalanan dirinya tersenyum sendiri jika mengingat gadis kecilnya yang bernama Sinta. Sinta sangat manja jika sudah bersama dengan dirinya.


' Sinta! Sudah lama anak ini tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seorang ayahnya, jadi setelah dia mengenal dan dekat dengan aku menjadi manja. Tapi aku benar-benar menyukai nya. Muncul Sinta merindukan sosok seorang ayah dan dia sudah mendapatkan semuanya dari aku. Makanya Sinta menjadi manja terhadap aku." pikir Mukid.


" Ayo, aku antar kamu pulang!" kata Mukid. Maimunah mengikuti apa kata Mukid setelah berbicara dengan montir yang memperbaiki mobilnya.


@@@@@@


Di dalam mobil itu Mukid mencium pipi kanan dan kiri milik Maimunah. Maimunah tersenyum menunjukkan senyuman nya yang manis.


" Kamu sudah makan, sayang?" tanya Mukid penuh perhatian.


" Belum! Seharusnya aku tadi menjemput putriku, namun aku tidak bisa menjemput nya. Untung saja, putri ku telah diantar oleh temannya. Aku sedikit lega setelah mendapatkan kabar dari putriku itu." cerita Maimunah.

__ADS_1


" Ya sudah, kita mampir makan dulu yah." sahut Mukid. Mukid segera menambah kecepatan mobilnya menuju rumah makan langganan mereka berdua.


Setelah makan di rumah makan, Mukid bersama dengan Maimunah kembali masuk ke dalam mobil. Mukid mulai menjalankan mobilnya dan mulai membelah jalanan ibu kota.


" Sayang, aku mampir ke apartemen aku dulu yah?" kata Mukid. Maimunah mengernyitkan dahinya.


" Ada perlu apa?" tanya Maimunah.


" Aku mau mandi sebentar dan berganti pakaian." jawab Mukid.


" Kenapa tidak mandi di rumah aku saja?" tawar Maimunah.


" Gak enak sana putri kesayangan kamu." ucap Mukid.


" Ya sudah deh!" sahut Maimunah.


@@@@@@@


Setibanya di apartemen milik Mukid, Mukid mendudukkan pantatnya di sofa panjang. Maimunah duduk di samping Mukid. Mukid segera merangkul Maimunah yang duduk di samping nya.


" Sayang, aku sudah tidak sabar untuk menikahi kamu." ucap Mukid.


" Sabar Mukid! Putri aku belum juga tamat. Aku ingin setelah putri aku menemukan jodoh nya, kita baru menikah." kata Maimunah. Mukid melebar matanya.


" Apa? Jangan dong sayang! Aku pasti akan menunggu lebih lama lagi jika kamu masih menunggu sampai putri kamu menemukan jodoh nya." protes Mukid.


" Tidak! Bahkan putriku saat ini sedang dekat dengan seorang pria yang sangat perhatian dengan dirinya. Pria mapan, tampan dan juga menyayangi putri ku. Itu kata putri aku. Kamu harus sabar yah." kata Maimunah. Mukid kini malah manyun bibir nya.

__ADS_1


" Sudahlah sana, katanya mau mandi." tambah Maimunah. Seketika Mukid menjadi sangat manja jika sudah bersama dengan Maimunah. Mukid kini malah mendekati bibit Maimunah dan mulai liar meraupnya. Maimunah kali ini ingin membalas semuanya. Jiwa kewanitaan nya yang sudah lama kesepian kini mulai meronta. Keduanya mulai panas dengan kegiatan intens nya. Satu persatu sesuatu yang melekat di tubuh mereka terlepas, hingga keduanya polos tak ada yang menutupi nya. Maimunah menuntun tangan Mukid ke bagian-bagian yang sensitif. Mukid dengan senang hati melakukan nya dengan senang.


Masih di sofa yang panjang mereka melakukan kegiatan dua puluh satu ke atas itu. Di ruangan itu tidak ada sensor, mulut mereka tanpa kontrol meloloskan suara erotis yang membuat bergidik bagi yang mendengar nya. Sayangnya hanya dinding- dinding ruangan apartemen di sana yang mendengar dengan jelas. Benda-benda mati yang tidak bisa berbicara dan menyampaikan berita mesum itu pada semua orang, yang mendengar dan melihat adegan hot mereka. Mukid benar-benar bersemangat melakukan nya. Kali ini Maimunah dengan suka rela memberikan semuanya. Sudah sekian lama Maimunah tidak merasakan hubungan intim itu. Kali ini bersama Mukid lah akhirnya Maimunah menuntaskan hasrat nya yang terpendam dan bergejolak. Sampai akhirnya kedua nya lelah dan terkulai setelah pelepasan nya. Kedua nya tersenyum setelah usai menyelesaikan kegiatan itu.


__ADS_2