MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
KEMATIAN


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Hari yang telah dinantikan telah tiba. Saat ini Mukid menunggu kelahiran anaknya dengan harap-harap cemas. Maimunah sudah ada di dalam ruangan operasi. Mukid tidak ingin mengambil resiko jika Maimunah melakukan kelahiran nya secara normal. Mama, papa Mukid ikut menunggu jalannya operasi cesar kelahiran anaknya Mukid dengan Maimunah. Semua diam dalam doa, berharap operasi itu berjalan lancar dan Maimunah serta bayinya dalam keadaan sehat.


Saat ini Sinta dan juga Radit dalam perjalanan menuju ke Jakarta. Dalam hati Sinta berdoa, semoga dilancarkan operasi sesar yang dilalui oleh mama nya. Radit sangat tahu kalau Sinta dalam kegelisahan nya. Sepanjang jalan Radit menggenggam tangan Sinta yang semakin lama semakin dingin lantaran tegang dan mengkhawatirkan mama nya.


@@@@@@@@


Dua orang keluar dari ruangan operasi. Salah satunya seorang laki-laki dengan perawakan tinggi besar dan masih terbilang sangat muda. Dengan raut wajah yang letih, sedih dan kecewa mendatangi keluarga Mukid. Semua panik dan khawatir akan ada kabar apa yang akan disampaikan oleh dokter itu. Mukid dengan cepat berlari mendekati dokter itu. Lain halnya dengan Radit masih tetap duduk jauh mengamati gerak- gerik mereka semuanya. Sinta juga terlihat begitu panik ingin segera mengetahui keadaan mama dan adik bayi nya.


Terlihat mama papa Mukid, Mukid dan juga Sinta kembali duduk lemas. Mereka duduk terlihat lesu dan murung setelah dokter itu memberi informasi dan kabar dari hasil operasi tersebut. Mukid terlihat berteriak histeris dan mulai mendobrak pintu ruangan operasi yang masih ditutup itu. Radit segera berlari menahan amarah dan emosi Mukid yang meluap itu.


Maimunah meninggal dunia dan tidak bisa diselamatkan. Demikian juga halny bayi itu. Mukid masih dikendalikan oleh Radit. Mukid masih histeris akan kepergian istrinya, Maimunah. Demikian juga dengan Sinta yang juga sangat terkejut akan kepergian mama nya. Sinta kini dalam pelukan mama nya Mukid. Sinta menangis bersama mama mertua dari mama nya. Ini sungguh tidak disangka oleh mereka. Maimunah meninggal dunia ketika sedang berjuang melahirkan putrinya. Iya, bayi itu berjenis kelamin perempuan dan tidak sempat menghirup udara di dunia.

__ADS_1


Radit tidak banyak berucap menenangkan Mukid. Sampai Mukid akhirnya duduk lemas di kursi itu sambil menarik rambutnya. Kemarahan nya saat ini ditujukan pada dirinya sendiri.


" Tenang Mukid! Yang sabar nak!" ucap papa Mukid yang saat ini duduk mendekati Mukid.


Tidak berapa lama ada tiga orang datang menghampiri mereka. Mereka adalah orang tua dari Maimunah dan adik dari Maimunah. Mereka dengan raut wajah yang lelah karena perjalanan jauh dari luar kota semakin ditambah banyak pertanyaan dalam pikirannya. Namun mama papa Mukid juga Mukid sendiri masih diam belum berani bicara apa- apa.


Nenek Wati dan juga adik kandung Maimunah masih duduk tenang sambil melepaskan rasa lelahnya karena perjalanan dari kota Malang. Sinta benar-benar bingung untuk menyampaikan kabar duka itu kepada neneknya. Kepanikan masih terlihat sangat jelas dari wajah mertua Maimunah dan juga Mukid. Bagaimana mereka harus menyampaikan perihal itu kepada nenek Wati dan juga adik kandung nya kalau Maimunah sudah meninggal dunia dan tidak bisa diselamatkan. Maimunah meninggal karena berjuang ketika melahirkan putrinya.


Nenek Wati tidak sabar melihat wajah panik atas besan dan mantunya itu. Mereka mendekati Sinta yang saat ini sudah dalam pelukan Radit. Sedangkan Mukid bersandar di kursi tunggu dengan kesedihan yang teramat dalam.


"Ada apa Sinta? Katakan kepada nenek, apa yang telah terjadi?" nenek Wati semakin tidak kuasa untuk memastikan kalau apa yang sudah menjadi sangkaan nya adalah salah.


"Nenek!" ucap Sinta lalu menghambur ke pelukan nenek Wati. Nenek Wati semakin bingung. Namun firasat nya sudah buruk mencoba menebak-nebak apa yang sudah terjadi pada Maimunah, anaknya.

__ADS_1


"Mama telah meninggal dunia bersama adik aku, nek!" ucap Sinta lalu histeris menangis. Nenek Wati benar-benar sangat terkejut dan kini terduduk. Mukid yang melihat hal itu, mendekati mama mertuanya. Sedangkan Sinta kembali dalam rengkuhan tubuh Radit. Radit mengusap punggung Sinta, supaya tenang.


"Mama, maafkan aku tidak bisa menjaga Maimunah dengan baik." ucap Mukid dengan tangis yang sudah pecah sedari tadi. Nenek Wati diam, air matanya lolos tanpa diundang dan jatuh ke pipinya yang sudah keriput. Betapa ini sangat menyakitkan hatinya. Seorang ibu kandung yang harus menyaksikan kepergian putrinya. Kepergian dari dunia fana ini menuju surganya. Benar! Maimunah telah meninggal dunia ketika sedang berjuang melahirkan bayinya. Perjuangan seorang wanita saat melahirkan adalah jahat fisabilillah. Semoga surga itu telah terbuka lebar untuk Maimunah beserta anaknya.


Menangis? Terkejut? Tidak percaya? Tentu saja semua yang mengenal dekat Maimunah belum bisa percaya dengan semua yang didengar nya dan apa yang dilihat nya. Namun sampai akhirnya ruangan operasi itu telah terbuka pintunya membawa jenazah Maimunah dan juga bayinya untuk dibawa ke kamar lain. Suara jeritan, tangisan teriakan memenuhi ruangan itu. Ini sudah takdir. Ini sudah kehendak Nya. Sinta, jatuh pingsan ketika melihat jasad mama nya terbujur kaku di atas brankar. Mukid yang melihat Sinta pingsan pun semakin pecah tangis nya. Demikian juga nenek Wati yang harus menyaksikan putrinya lebih dahulu berangkat ke alam lain dibandingkan dirinya yang sudah menua.


"Maimunah! Selamat jalan anakku! Semoga surga menanti kamu, nak!" ucap pelan nenek Wati. Air matanya kembali lolos dan jatuh di pipinya yang keriput.


"Maimunah! Maafkan aku! Maafkan aku Maimunah!" ucap Mukid lirih sambil memukul dadanya sendiri. Rasanya sesak, sakit ketika kehilangan wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Wanita yang sudah memahami dirinya serta menemani dirinya baik dalam susah maupun senang.


"Mukid, kamu yang sabar yah nak!" ucap mama Mukid seraya mengusap punggung Mukid dengan penuh kelembutan.


"Mama, aku suami yang tidak berguna,ma!" ucap Mukid. Tangis itu pecah rumah ketika Mukid kini dalam pelukan mama nya.

__ADS_1


"Tidak, nak! Ini sudah takdir dan perjalanan hidup seseorang, sayang! Kamu tidak bisa mengalahkan diri kamu sendiri akan kepergian istri kamu. Ambil hikmah dari semua kedukaan ini sayang. Kamu pasti akan lebih kuat." ucap mama Mukid sambil tetap mengusap punggung dan puncak kepala anak laki-laki nya.


Belajar lah pada suara dan kata. Belajar lah pada bulan dan matahari. Belajar lah pada tumbuh dan hewan. Semuanya dalam kesetaraan menjalankan ketaatan nya. Semuanya sama dalam kesetiaan menjadi abdi Nya. Tunduk patuh terhadap Titah Nya.


__ADS_2