
Sinta sudah sampai di kampus. Saat ini dia telah bersama dengan Ratna di taman depan kampus fakultas. Sejak tadi mereka hanya diam dan belum ada satu pun ada pembicaraan. Ratna sedari tadi memakan kuaci. Sedangkan Sinta terlihat sibuk dengan laptopnya. Ada beberapa laporan yang masuk dari karyawan di perusahaan neneknya. Sinta fokus bekerja sambil menunggu dosen yang mengajar di mata kuliah pagi itu tiba. Ratna tidak ingin mengganggu Sinta kalau sudah sangat serius seperti itu. Masalahnya apa yang dikerjakan Sinta menyangkut akutansi dan segala transaksi keluar masuk yang memerlukan konsentrasi dan fokus. Setelah beberapa saat, Sinta menutup laptop nya dan bernafas lega.
" Sudah selesai kerjaan kamu, Sinta?" tanya Ratna.
" Untuk sementara ini, sudah. Kamu sudah sarapan belum? Aku tiba-tiba ingin makan lagi. Tadi sarapan di rumah cuma sedikit dan rasanya juga lagi tidak selera makan." terang Sinta.
" Tapi sebentar lagi, dosennya akan masuk ke kelas. Sebentar lagi waktu nya kuliah pagi kita. Nanti saja setelah selesai kuliah pagi ini. Bagaimana?" tawar Ratna.
" Ya sudahlah!" sahut Ratna.
" Kamu mau roti dan susu tidak? Aku tadi membawa bekal kok." ucap Ratna sambil mengeluarkan bekalnya. Sinta tersenyum melihat bekal Ratna.
__ADS_1
"Ratna, kamu tahu? Mereka menunggu aku dan baru pulang pagi tadi." ucap Sinta. Ratna mengerutkan dahinya.
" Siapa yang kamu maksudkan? Apakah mama dan mantan kamu itu?" sahut Ratna. Sinta menganggukkan kepala.
" Aku pikir mereka sudah pulang dan tidak menunggu aku kembali. Ternyata setiba nya aku di rumah, mereka langsung mengajak aku jalan dan makan bersama di luar. Kamu tahu, om Mukid sekarang terlihat sangat bahagia. Dan dia sudah semakin gemuk. Mungkin hidup bersama dengan mama ku, om Mukid mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Mama memang sangat perhatian dan penuh kasih sayang." ucap Sinta bercerita.
" Apakah kamu cemburu dengan kebahagiaan mereka?" tanya Ratna.
" Entahlah! Tapi aku masih ada cemburu dan sakit dadaku ketika mereka menunjukkan kemesraan di depan aku. Om Mukid benar-benar sangat menyayangi mama ku. Apalagi mama saat ini telah mengandung anak Mukid. Dan kamu tahu Ratna? Sebentar lagi aku akan memiliki adik tiri." ucap Sinta.
" Ratna, aku masih belum sanggup jika bertemu dengan om Mukid. Ini masih perlu waktu buat aku untuk melupakan om Mukid. Apakah kamu punya cara supaya aku bisa dengan cepat melupakan Mukid." ujar Sinta.
__ADS_1
" Kamu harus sibuk, Sinta. Dengan menjauh dan kamu tinggal di kota ini pun sudah salah satu cara untuk melupakan om Mukid. Aku yakin kamu bisa melupakan om Mukid. Aku akan mendoakan kamu, supaya kamu bisa bertemu dengan laki-laki yang menyayangimu dan memperhatikan kamu." ucap Ratna.
" Tidak aamiin." sahut Sinta. Ratna spontan tertawa terbahak- bahak.
" Kok, tidak aamiin sih? Hahaha. Kamu ini aneh, aku mendoakan kamu yang baik-baik loh." protes Ratna.
" Atas semua yang pernah aku lakukan dan atas semua perbuatan yang sudah aku lakukan, aku sudah tidak pantas menjadi wanita atau istri dari laki-laki yang baik serta polos. Aku bahkan sudah pernah hamil dan aku yang membunuh anakku sendiri. Aku bukan seorang wanita yang baik dan Seorang ibu yang penuh kasih sayang. Aku tidak pantas mendapatkan laki-laki itu, Ratna." ucap Sinta dengan mata berkaca- kaca.
" Bahkan menjadi istri seorang Mukid pun aku tidak pantas. Mukid bahkan lebih memilih mama dibandingkan aku." tambah Sinta semakin mendramatisir keadaan nya.
" Sinta, ayolah jangan ungkit masa lalu dan yang sudah terjadi. Kamu harus menutup lembaran baru dan jadilah Sinta dengan pribadi yang baru juga." ucap Ratna.
__ADS_1
" Ratna!" sahut Sinta lirih.
" Sudahlah! Eh, ayo kita masuk ke kelas. Dosen kita sudah tiba dan masuk ke ruangan." ajak Ratna seraya menarik tangan Sinta menuju ke ruangan kelas untuk mengikuti mata kuliah pagi itu.