
Mereka tiba di depan rumah nenek Wati. Saat ini terlihat nenek Wati berdiri mematung melihat mobil yang berhenti di depan rumahnya. Tidak lama turunlah Sinta, dan Bana. Bana terlihat melambaikan tangan ke arah Mukid dan juga melemparkan senyuman nya yang manis dengan deretan gigi yang masih sangat putih. Sedangkan Sinta hanya memasang wajah dingin nya.
"Tidak ada ucapan terimakasih untuk aku kah dari mulut kamu itu, Sinta?" ucap Mukid sedikit keras.
"Terimakasih!" sahut Sinta sambil menarik tangan Bana dan bergegas masuk ke dalam pekarangan rumah, meninggalkan Mukid yang masih berada di dalam mobilnya. Kaca mobilnya kembali tertutup rapat. Nenek Wati berusaha ingin melihat siapa yang saat ini mengantarkan Sinta dan Bana pulang ke rumah.
"Kalian di antar siapa?" tanya nenek Wati. Bana menjabat tangan nenek Wati dan mencium punggung tangannya. Demikian juga dengan Sinta, ikut menyalami tangan nenek Wati.
"Sopir online!" jawab Sinta. Bana mengerucut bibir nya.
"Mommy bohong, nenek buyut! Om ganteng tadi yang telah menolong kami saat kami jatuh dari motor," sahut Bana dengan suara khas anak kecil.
__ADS_1
"Apa? Kamu jatuh dari motor lagi, Sinta? Lalu apakah kalian terluka? Bana, kamu terluka tidak?" tanya nenek Wati khawatir.
"Tidak nenek buyut! Aku dan mommy tidak apa- apa, hanya saja yang sakit saat ini motor matic mommy harus ke rumah sakit, eh maksudnya bengkel motor," ucap Bana.
"Oh syukurlah kalian tidak kenapa- napa! Ayo sekarang kita makan bersama. Tadi kenapa sopir online nya tidak kamu suruh masuk dulu dan makan bersama kita, Sinta?" tanya nenek Wati.
"Dia buru- buru dan sudah ditunggu penumpangnya, nek!" sahut Sinta. Bana menjulurkan lidahnya.
"Ih, kenapa putraku matang sebelum waktu nya sih? Dulu papi nya ngidam apa sih?" batin Sinta.
Tanpa berganti baju, mereka bertiga langsung menyantap makanan yang sudah tersedia di atas meja. Nenek Wati masih saja memperhatikan Sinta yang terlihat aneh jika nenek Wati bertanya soal siapa seseorang yang mengantarkan Sinta dan juga Bana.
__ADS_1
"Nenek! Tadi kami menjenguk papi Radit di rumahnya. Mommy nangis tapi om ganteng itu menenangkan Mommy," cerita Bana. Sinta menggaruk jidatnya sendiri. Nenek Wati mengerutkan dahinya. Nenek Wati semakin dibuat penasaran dengan om ganteng yang dimaksudkan oleh Bana.
"Kalau boleh nenek tau, om ganteng itu namanya siapa, Bana?" tanya nenek Wati sambil melirik ke arah Sinta. Sinta melebar bola matanya.
"Hem, siapa yah? Tadi om ganteng itu bilang, kalau namanya om Mukid... iya benar! Dia adalah om Mukid!" jawab Bana sambil memastikan nama dari om ganteng yang dimaksud kan. Nenek Wati langsung menatap ke arah Sinta.
"Hem, rupanya mantan kamu toh!" sahut Nenek Wati pelan. Namun di dengar jelas oleh Bana.
"Apa itu mantan, nek? Om ganteng itu mantan mommy yah? Aku berpikir kalau mantan itu artinya mana tahan. Jadi hati-hati mommy jika bertemu dengan mantan mommy seperti om ganteng tadi," sahut Bana. Nenek Wati seketika cekikikan mendengar ucapan Bana yang ceplas-ceplos. Sedangkan Sinta hanya menjulurkan lidah nya saja.
"Mana tahan? Kalau mommy kamu berjumpa dengan mantan. Hahaha," sahut nenek Wati. Bana yang tidak paham ikut tertawa cekikikan. Apalagi melihat mommy nya terlihat kesal. Itu semakin membuat Bana terus menerus mengerjai mommy nya.
__ADS_1