MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
SHOPPING


__ADS_3

Maimunah, Sinta dan Mukid berjalan masuk ke pusat perbelanjaan di kota itu. Mukid mengajak kedua wanita beda generasi itu menuju ke toko perhiasan. Seperti janji yang telah diucapkan oleh Mukid, dirinya ingin membelikan beberapa jenis perhiasan buat Maimunah dan juga putri semata wayangnya.


Maimunah terlihat sangat manja bergandengan tangan dengan Mukid. Sinta lebih memilih berjalan di belakang mereka berdua. Kedua tangan itu terpaut dan seperti enggan untuk berpisah. Betapa Sinta melihat hal itu merasakan sesak dadanya. Tentu saja dirinya sangat cemburu melihat pemandangan itu. Apalagi Mukid terlihat tersenyum dan bercanda dengan mama nya. Mama nya sangat bahagia ketika bersama dengan Mukid.


" Sayang, kamu bisa memilih perhiasan apa saja yang kamu sukai." ucap Mukid setelah mereka berada di toko perhiasan.


" Yang benar?" sahut Maimunah.


" Iya, lihat sayang! Kalung ini pasti sangat cocok buat kamu." kata Mukid seraya menunjukkan ke arah benda yang masih di dalam stealing kaca. Sinta yang ada di sana hanya diam mematung menyaksikan keromantisan mama dan Mukid itu.


" Oh iya, Sinta! Kemari lah, kamu juga bisa mengambil barang yang kamu suka." ucap Mukid seraya melambaikan tangannya ke arah Sinta. Maimunah menarik tangan putri nya untuk mengajak nya memilih perhiasan yang cantik dengan model yang keren.


" Oh iya, kak! Saya mau dia set perhiasan yang model terbaru." kata Mukid kepada pelayan toko perhiasan itu. Pelayan toko itu tersendiri ramah dan segera mengambil kan barang yang diminta oleh Mukid.


" Ini ada lima jenis model yang terbaru dari toko kami pak. Namun Masing-masing memiliki nilai dan harga yang berbeda-beda. Bapak bisa memilihnya." kata pelayan toko perhiasan. Mukid menyodorkan beberapa set itu kepada Maimunah dan Sinta untuk melihat nya.


" Wow, ini sungguh keren dan indah! Ini pasti mahal sekali." ucap Maimunah berseru dengan ketakjuban atas keindahan perhiasan dari toko itu.


" Benar bu, ini emas dengan kwalitas yang terbaik dan dengan model yang terbaru." jelas pelayan toko itu.


" Jadi, kamu mau pilih yang mana sayang?" tanya Mukid kepada Maimunah.


" Pilih yang mana yah? Pasti kelima set perhiasan ini pasti harganya selangit. Aku tidak akan tega jika harus menguras tabungan kamu. Apalagi kita sebentar lagi mau menikah. Kita pasti memerlukan banyak biaya untuk acara pernikahan kita nanti." ucap Maimunah. Sinta yang ada di sebelah mama nya menundukkan kepalanya dan pura-pura fokus melihat perhiasan itu.


" Tidak Maimunah sayang! Kamu jangan khawatir soal itu! Kamu boleh mengambil dua sekaligus, aku masih sanggup membayar nya kok." ucap Mukid. Maimunah tersenyum dengan ucapan Mukid.


" Sinta, kamu mau pilih yang mana diantara lima set perhiasan ini." tanya Mukid.

__ADS_1


" Eh, tidak usah om! Biar mama saja! Aku masih belum menyukai perhiasan mewah seperti ini." ucap Sinta. Maimunah mencubit hidung putri nya.


" Ayo sayang! Kamu jangan menolak pemberian dari calon ayah kamu. Asal kamu tahu, dia itu tajir melintir. Kamu tidak perlu khawatir." ucap Maimunah. Mukid terkekeh mendengar semua ucapan dari Maimunah.


" Sepertinya ini sangat cocok buat kamu deh, Sinta!" kata Mukid seraya memberikan satu set perhiasan kepada Sinta. Sinta menerima dan membuka kotak perhiasan yang diberikan oleh Mukid kepada dirinya.


" Bagus dan keren perhiasan ini! Seandainya saja kamu adalah suami aku, aku akan dengan senang hati menerima semua yang kamu berikan kepada ku." pikir Sinta.


" Ya sudah, ini saya ambil kak." ucap Mukid seraya mengambil kotak perhiasan yang ada di depan Sinta. Sinta menatap Mukid sejenak.


" Om Mukid membelikan aku perhiasan? Bagaimana dengan perasaan mama aku?" pikir Sinta.


" Wah Sinta, ucapkan terimakasih kepada om Mukid, sayang." kata Maimunah kepada Sinta.


" Tetapi ma, Apa ini tidak terlalu kemahalan?" protes Sinta.


" Sudah, tenang saja sayang! Om Mukid tabungan nya banyak." sindir Maimunah kepada Mukid. Mukid terkekeh mendengar nya.


" Menurut kamu, diantara kedua ini bagus yang mana?" tanya Maimunah.


" Bagus semuanya! Oke deh mak ini kami ambil." sahut Mukid seraya menyerahkan dua set perhiasan kepada pelayan toko emas itu.


" Jadi, semuanya tiga set perhiasan yah, pak! Untuk dua set perhiasan ini senilai 50 juta dan satu set perhiasan yang pertama senilai 57 juta. Jadi total keseluruhan 107 juta." jelas pelayan toko perhiasan tersebut. Maimunah dan Sinta saling pandang. Nilai perhiasan Sinta satu set lebih mahal daripada milik Maimunah yang bahkan dengan jumlah dua set itu. Sinta akhirnya menarik kembali satu set perhiasan yang diperuntukkan untuk dirinya.


" Satu set perhiasan ini, tidak jadi saja mak. Milik mama saja yang dua set itu." ucap Sinta. Mukid menatap tajam ke arah Sinta. Maimunah kini malah melihat Sinta dan Mukid secara bergantian.


" Kenapa tidak jadi? Aku masih bisa membayar nya kok Sinta." kata Mukid.

__ADS_1


" Bukan seperti itu, tapi punya aku lebih mahal punya mama." sahut Sinta. Maimunah mengacak kepala Sinta.


" Tidak apa- apa sayang! Itu artinya selera kamu dengan mama memang lebih berkelas kamu." ucap Maimunah.


" Mama, tidak seperti itu." sahut Sinta.


" Sudahlah, silahkan semua nya dibungkus saja kak. Dan ini kartu pembayaran nya." kata Mukid seraya menyerahkan kartu debit dengan warna hitam. Maimunah merangkul pundak putri nya dengan penuh kasih sayang.


" Hari ini kita lagi dapat rejeki yang banyak sayang! Kita harus berterimakasih dengan om Mukid." kata Maimunah pelan.


Setelah semuanya dibungkus dengan rapi dan aman, ketiganya meninggalkan toko itu setelah selesai dengan pembayarannya. Kembali Mukid melenggang dengan digandeng oleh Maimunah. Maimunah semakin lengket dan sayang dengan Mukid.


" Aku tidak mungkin membuat mama kecewa. Aku harus merelakan om Mukid untuk mama. Kebahagiaan mama itulah yang lebih utama." batin Sinta seraya berjalan mengikuti langkah dua insan yang akan segera menikah itu.


" Kalian mau kemana, mau makan atau ingin belanja pakaian?" tawar Mukid.


" Sinta sayang! Kita ketempat pakaian wanita saja yah sayang? Biar mama yang membayar nya." kata Maimunah.


" Tidak, hari ini semua aku yang bayar!" sahut Mukid.


" Sayang! Tidak usah, aku juga memiliki duit yang banyak loh!" kata Maimunah.


"Hahaha, sombongnya!" sahut Mukid.


Sinta dan Maimunah kini telah masuk di bagian pakaian wanita. Mukid yang mulai jenuh akhirnya duduk di depan kafe kecil, menanti kedua wanita yang pernah naik di atas peraduan nya itu.


" Sinta dan Maimunah! Kenapa dia wanita yang beda generasi itu bisa masuk ke dalam hatiku secara tidak sengaja? Bahkan keduanya adalah seorang ibu dan anak." pikir Mukid.

__ADS_1


" Namun aku lebih memberatkan Maimunah daripada Sinta. Bagaimana pun Sintalah yang menginginkan aku, padahal aku telah mengatakan kalau aku sendiri telah memiliki kekasih dan akan segera menikahinya. Tapi Sinta tetap nekat menginginkan aku." gumam Mukid.


" Setelah tahu kalau dirinya telah menggoda calon suami dari mama nya, Sinta pasti sangat sedih dan menyesal." pikir Mukid.


__ADS_2