
Di dalam kamarnya Maimunah terdiam sambil menatap wajahnya ke pantulan cermin kaca di dalam kamarnya. Wajah yang dulunya muda dan cantik kini tidak jauh berbeda. Maimunah masih terlihat segar dan awet muda walaupun usianya sudah berkepala empat.
Ada semburat kesedihan yang terpancar dari wajahnya. Setelah tanpa ia sengaja mendengar pembicaraan antara Mukid dengan Sinta. Maimunah benar-benar tidak menyangka dan benar-benar terkejut. Jantungnya masih terasa nyeri dan sesak setelah mendengar pembicaraan mereka. Namun Maimunah tidak akan menyalahkan siapa pun di sini. Kejadian mereka bukanlah di sengaja namun kebebasan dan cara gaya berpacaran Sinta lah yang sangat disayangkan oleh Maimunah. Bahkan mereka telah melakukan hubungan suami istri sebelum mereka benar-benar dihalalkan dalam sebuah pernikahan. Hal itu lah yang membuat Maimunah bersedih dengan itu semua. Padahal Sinta dari kecil pun juga diberikan pedoman dan tuntunan nilai-nilai agama. Namun setelah mengenal cinta dan lawan jenis, menjadi terlena dan mengikuti hasrat dan keinginan nafsunya.
Betapa Maimunah merasakan sakit dan juga kecewa di hatinya ketika mengetahui bahwa Mukid pernah mengkhianati dirinya. Bahkan anaknya Sinta lah yang sudah menjadi wanita ketiga itu.
Maimunah seketika pusing kepalanya. Dia benar-benar terkejut dengan situasi dan permasalahan rumit itu. Walaupun kejadian itu sudah lewat namun Maimunah baru mengetahuinya sekarang. Ini sangat menyakiti hatinya.
"Apakah ini yang menjadi alasan Sinta meninggalkan rumah ini dan pindah ke kota Malang? Sinta menjauh dari kehidupan aku dan Mukid di sini? Sinta tidak ingin merusak kebahagiaan aku dengan Mukid." gumam Maimunah.
"Ini bukan kesalahan Mukid ataupun Sinta. Mereka melakukan hubungan itu bukan lantaran disengaja. Sinta tidak mengetahui kalau aku adalah calon istri Mukid. Demikian juga halnya Mukid. Mukid tidak tahu kalau Sinta adalah anak aku." pikir Maimunah.
" Tapi terlepas semua itu. Mukid telah berkhianat dan berselingkuh dengan wanita lain. Jika wanita itu bukan Sinta, anak aku, Mukid bisa saja terus melanjutkan pengkhianatan itu. Dan disinilah aku yang semakin tersakiti." pikir Maimunah.
Tok
Tok
tok
Mukid masuk di dalam kamar itu mendapati Maimunah yang saat ini memijat pelipisnya.
" Kamu kenapa sayang? Apakah pusing, hem?" tanya Mukid sambil memegang kening Maimunah.
" Aku sedikit pusing saja, mas!" sahut Maimunah.
__ADS_1
" Aku buatkan teh manis hangat yah, sayang?" tawar Mukid. Maimunah menganggukkan kepalanya pelan. Mukid segera membuatkan minuman itu ke dapur. Maimunah menarik nafasnya dalam- dalam.
" Mas Mukid benar-benar menyayangi aku dengan tulus. Aku bisa merasakan itu. Walaupun dia pernah melakukan pengkhianatan itu." gumam Maimunah sambil bernafas dengan lega.
Maimunah pelan-pelan mengambil air wudhu dan mulai menjalankan ibadah sholat subuh. Maimunah memohon ampunan untuk dirinya, keluarganya yang telah melakukan perbuatan dosa baik disengaja, tidak disengaja maupun terlupa. Butiran air matanya menetes di kedua sudut matanya yang kulit wajahnya masih terlihat muda.Teringat akan sikap ceria dan polos Sinta, putrinya ternyata menyimpan kepahitan dalam hidupnya. Betapa tindakan yang membuat Lain sangat kecewa dengan Sinta adalah membunuh janin yang belum sempat hidup di dunia. Tindakan menggugurkan kandungan itulah bagi Maimunah adalah tindakan yang benar-benar dibenci oleh Tuhan yang memberikan kehidupan dan meniupkan ruh atau nyawa pada makhlukNya. Entah penebusan atau pengampunan dosa itu sampai beberapa lama yang akan ditanggung oleh Sinta. Atau mungkin saja keturunan nya kelak. Mungkin kelak Sinta harus menerima semua hukuman atas tindakan nya membunuh bayi yang bahkan belum lahir di dunia ini. Walaupun usia bayi itu terhitung belum ada satu bulan usianya. Jika sudah empat bulan itu artinya bayi sudah diberikan ruh atau nyawa. Ini artinya benar-benar sudah membunuh jiwa.
"Sayang, ini teh manis nya diminum dulu." ucap Mukid. Maimunah masih menjalankan ibadah sholat nya. Gelas yang berisi teh manis itu kini telah di letakkan di atas meja. Mukid menatap wajah istrinya yang terlihat lesu.
" Ada apa sayang? Apakah pusing kamu sudah hilang? Ini teh nya diminum dulu." kata Mukid penuh perhatian.
" Aku sudah tidak apa-apa mas!" sahut Maimunah sambil mengambil gelas yang disodorkan oleh Mukid lalu meminumnya pelan.
" Aku ke dapur sebentar mas!" ucap Maimunah. Mukid meraih tubuh Maimunah lalu memeluknya hangat.
" Aku menyayangimu Maimunah sayang! Kamu jangan meragukan perasaan ini. Aku menyayangimu dan juga bayi ini. Anak kandung kita, sayang." ucap Mukid begitu manisnya. Maimunah tersenyum mengusap pipi Mukid.
" Anak kamu, anak aku juga sayang?" sahut Mukid.
" Tetapi tidak dengan Sinta, bukan?" ujar Maimunah sambil melenggang meninggalkan Mukid di kamar itu. Mukid kembali mencerna kalimat terakhir yang lolos dari bibir Maimunah.
"Tentu saja Sinta berbeda, Maimunah! Dulu dia juga salah satu wanita yang pernah singgah di hati aku. Dan akhirnya dia tersingkir karena aku memilih kamu. Dan semua itu juga desakan dari Sinta supaya kamu bisa bahagia. Kamu layak untuk mendapatkan kebahagiaan itu dengan aku. Kini Sinta sudah menemukan kebahagiaan itu dengan Radit. Aku dan kamu harus mendoakan mereka supaya mereka bisa menjadi suami istri yang saling mencintai dan mengasihi." gumam Mukid.
Maimunah keluar dari kamar nya dan menuju ke dapur. Dirinya harus membantu asisten rumah tangganya untuk menyiapkan sarapan untuk Sinta dan juga calon menantunya, Radit. Maimunah mulai membuatkan nasi goreng kesukaan Sinta. Selera Maimunah dan Sinta tidak jauh berbeda. Keduanya menyukai nasi goreng itu.
Tiba-tiba Sinta datang menyapa Maimunah yang sedang membuat telor dadar untuk lauk nasi goreng.
__ADS_1
"Mama! Buat sarapan apa pagi ini?" tanya Sinta seraya mencium pipi kanan dan kiri milik mama Maimunah. Maimunah masih kecewa dan bersedih dengan Sinta atas semua yang didengar nya tadi ketika di sepertiga malam saat perbincangan dengan Mukid dan Sinta tanpa disengaja.
" Kok mama diam sih? Mama lagi sariawan yah?" goda Sinta. Maimunah akhirnya tersenyum. Mana bisa Maimunah berlarut-larut marah dengan putrinya. Sinta bisa membuat dirinya kembali ceria.
" Duduklah kamu, jangan ganggu mama! Kamu makan saja puding yang kemarin dibelikan oleh ayah kamu. dan ada di lemari es." kata Maimunah. Sinta segera membuka lemari es dan mengambil sisa puding yang masih ada di sana. Semalam dirinyalah yang telah memakannya bersama dengan Mukid.
"Sebentar lagi anak mama akan menikah! Kamu harus bisa memasak dan meladeni suami kamu kelak supaya suami kamu semakin sayang dengan kamu." kata Maimunah. Sinta tersenyum saja.
" Oh iya Sinta! Kamu sudah mandi belum? Sana mandi dulu! Setelah itu kamu bangunkan Radit, dan ajak sarapan pagi bersama." ucap Maimunah.
"Baiklah! Aku akan membangunkan Radit dulu." sahut Sinta seraya melangkah menuju kamar tamu dimana Radit tidur di sana.
@@@@@@@
Sinta membuka pintu kamar tamu itu. Radit tidak menguncinya. Sinta masuk dan menarik selimut yang digunakan oleh Radit. Sinta mulai menghidupkan AC yang sengaja sudah dimatiin oleh Radit lantaran sudah kedinginan. Kini Sinta mulai berulah ingin mengerjai Radit. Radit sontak terkejut dan menarik tubuh Sinta hingga Sinta berada di atas tubuh Radit. Radit tersenyum menatap mata Sinta.
"Selamat pagi Cinta!" sapa Radit lalu dengan cepat mengecup dahi Sinta. Sinta kini mengecup bibir Radit.
"Ayo bangun! Kamu sudah dicari mama untuk diajak sarapan pagi bersama." ucap Sinta sambil mengusap pipi Radit.
"Bagaimana bisa bangun, kamu ada di atas aku sayang." ucap Radit.
" Kamu kangen aku yah, sayang?" tambah Radit.
" Kangen banget!" sahut Sinta sembari turun dari atas tubuh Radit.
__ADS_1
"Mama bikin sarapan apa, Sayang?" tanya Radit.
" Bikin nasi goreng! Ayo mandi, setelah itu kita sarapan bersama." ajak Sinta sambil berlalu dari kamar Radit. Sebelum Sinta menutup pintu kamar itu, Radit melemparkan kiss bye dengan kekasihnya itu. Sinta tersenyum saja melihat calon suami nya yang konyol.