MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
PURA-PURA SAKIT


__ADS_3

Pukul setengah tiga semua panitia baik laki-laki maupun wanita saat ini telah membangunkan peserta pelatihan kader. Semua peserta yang masih terlelap dalam tidur nya mau tidak mau harus bangun untuk mengikuti kegiatan berikutnya yaitu sholat malam berjamaah dan setelah itu acara renungan bersama sampai menjelang subuh.


Sinta yang baru bisa tidur akhirnya bersembunyi di salah satu ruangan yang disediakan bagi peserta yang sedang sakit atau pun tidak enak badan. Tentu saja, Ratna menjadi bingung dan mencari- cari keberadaan Sinta. Ratna mencari Sinta kemana-mana dari kamar mandi wanita, ruang kepanitiaan maupun di luar aula tempat itu. Namun Ratna tidak juga menemukan Sinta di sana. Akhirnya Ratna mengikuti kegiatan pelatihan kader itu tanpa Sinta di dekatnya.


Di ruangan yang sengaja disiapkan untuk peserta yang sedang sakit atau membutuhkan perhatian dalam kesehatan nya itu, Sinta tertidur sangat pulas. Selimut nya menutupi seluruh tubuh nya bahkan dibiarkan menutup sampai kepala. Lampu yang tidak begitu terang di ruangan itu semakin membuat nyaman Sinta tidur di sana. Namun tiba-tiba saja, ada seseorang yang masuk ke ruangan itu lalu mendekati Sinta yang meringkuk dengan selimut yang menutupi seluruh wajah dan badannya.


Orang itu karena penasaran membuka selimut bagian kepala yang menutupi wajah Sinta. Spontan saja orang itu sangat terkejut melihat siapa yang masih tidur di ruang perawatan itu sedangkan peserta dan juga panitia sedang melakukan kegiatan sholat malam dan berlanjut dengan renungan. Seseorang itu tidak lain adalah Bang Radit yang hendak mengambil minyak kayu putih untuk mempersiapkan kalau ada peserta dalam kegiatan renungan mengalami pingsan. Radit mendekati galon yang berisi air. Radit mengambil sedikit air minum itu lalu mulai memercikkan nya ke bagian wajah Sinta. Satu kali belum ada hasil dan reaksi dari Sinta. Sinta masih sangat lelap dari tidur nya. Lalu Bang Radit mengulangi nya kembali. Bang Radit memercikkan kembali ke wajah Sinta. Sinta sangat terkejut lalu bangun dari tidurnya.


" Eh, hujan! Eh bocor! Eh banjir!" Latah Sinta. Bang Radit mengerutkan dahinya lalu menunjukkan ekspresi marah terhadap Sinta.

__ADS_1


" Banjir? Air liur kamu itu!" sahut Bang Radit. Sinta melebarkan matanya setelah mengucek matanya.


" Kamu ngapain di sini? Suka sekali mengganggu ketenangan aku, hah?" ucap Sinta tidak kalah sewot.


" Kamu pikir ini rumah kamu, hah? Saat ini kamu sedang mengikuti kegiatan pelatihan kader. Kamu enak- enak kan tidur di sini sedangkan peserta pelatihan kader juga kepanitiaan semua telah berkumpul mengikuti kegiatan di fajar ini. Kamu malah masih meringkuk tidur di sini." protes Bang Radit panjang lebar.


" Eh, em tadi malam aku merasakan tidak enak di bagian perut aku. Jadi aku ke ruangan ini ingin mencari minyak kayu putih untuk mengoles ke perutku. Karena belum juga ketemu akhirnya aku memilih tidur di sini saja walaupun perutku masih melilit. Lagi pula, aku sedang berhalangan jadi tidak bisa ikut sholat malam bersama." jelas Sinta dengan lancar dalam kebohongan nya atau karangan ceritanya yang menyakinkan. Bang Radit tentu saja tahu kalau Sinta tidak benar-benar mengalami sakit perut. Timbul niat bang Radit ingin mengerjai Sinta.


" Naikkan kemeja kamu sedikit. Aku akan mengolesi bagian perut kamu dengan minyak kayu putih ini." kata Bang Radit sambil memperlihatkan botol minyak kayu putih yang sudah ditangan nya.

__ADS_1


" Eh, tidak! Aku sudah tidak sakit kok." tolak Sinta.


" Naikkan dikit, kalau kamu tidak lakukan sendiri, aku yang akan melakukannya sendiri." ancam Bang Radit. Sinta akhirnya menaikan bajunya sedikit ke atas memberikan ruang di bagian perut nya untuk diolesi minyak kayu putih oleh Bang Radit.


Betapa Bang Radit mulai terpana melihat perut milik Sinta yang datar dan putih mulus. Akhirnya Bang Radit memilih untuk tidak melihat bagian perut itu ketika mengolesi minyak kayu putih itu. Radit menatap bola mata Sinta yang saat ini telah memperhatikan dirinya. Sinta tertahan tawanya melihat Bang Radit yang gemetaran ketika menyentuh perut Sinta.


" Sudah cukup! Aku bisa melakukannya sendiri." cegah Sinta seraya menangkap tangan milik Bang Radit. Keduanya sesaat terdiam dan saling beradu pandang.


" Eh, sudah! Kamu cepat bergabung dengan peserta yang lain sebelum aku akan kembali menghukum kamu lantaran tidak mengikuti sesi renungan malam dan juga sholat malam." sahut Bang Radit- berusaha memecah kecanggungan di antara mereka.

__ADS_1


Radit segera keluar dari ruangan itu dan tidak lama kemudian Sinta pun mengikuti Bang Radit memasuki aula tempat kegiatan renungan fajar itu dilaksanakan.


__ADS_2