
Kamu seperti pengganti ketika yang ada itu sudah tiada. Kamu seolah sebagai pelengkap ketika yang hadir dulu itu lenyap. Namun kenyataan nya kamu sudah ada sebelum dia ada karena aku adalah bagian tulang rusuk mu yang telah patah.. Walaupun keberadaan ini seperti tidak nyata dan ada seolah bayangan yang mengikuti langkah.
Apakah ini keserakahan ketika kamu harus melengkapi semua yang hilang dari sisi ku. Menghadirkan aku sebagai memenuhi ingin mu. Namun betapapun alasan dari semua itu, aku adalah milikmu saat ini.
(cover buatan aku)
(Cover bikinan mimin novel toon) Terimakasih 😘
*******
Radit dan Sinta sedang menikmati liburannya. Mereka kali ini sengaja membawa mobil sendiri untuk melakukan perjalanan. Radit seperti sedang kasmaran terhadap Sinta, senyumnya selalu tersungging di bibir nya ketika melihat Sinta di samping nya. Sesekali tangan Radit meraih pergelangan tangan milik Sinta. Punggung tangan itu dikecup mesra oleh Sinta.
Di sebuah villa yang sejuk dan dingin sepasang kekasih itu telah saling memadu kasih. Betapa dunia seperti milik mereka berdua, cinta telah membuat mereka dikelilingi oleh berbagai warna- warni bunga.
Sinta mengikuti langkah Radit yang menggandeng nya menuju kamar di penginapan itu. Setelah Radit menggiring Sinta ke kamar penginapan itu dan tidak menunggu lama langsung mendorong tubuh Sinta hingga bersandar ke tembok kamar penginapan itu. Radit mulai ganas memainkan aksinya. Radit sudah tidak tahan selama di perjalanan rasanya ingin mencium wanita yang kini sudah membuat dirinya mabuk kepayang. Sinta seperti kehabisan nafas karena Radit tidak memberi kesempatan bagi Sinta untuk mengambil oksigen di sela-sela ciuman nya yang panjang itu. Radit mulai menerobos bagian atas milik Sinta dan mulai mere mas dan me milin nya. Sinta mulai men de sah dan mata itu mulai terpejam. Kaki Sinta mulai melemas karena jari- jari Radit mulai nakal masuk dan menerobos ke bagian dalam milik Sinta. Sinta menggelin jang. Radit makin brutal.
Namun Sinta segera tersadar dengan apa yang telah mereka lakukan. Sinta mendorong tubuh Radit hingga Radit menjauh dari tubuh Sinta. Sinta mengatur nafasnya yang masih tersengal. Sedangkan Radit sangat terkejut dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap Sinta.
" Maaf!" ucap Radit singkat. Sungguh Radit adalah laki-laki dewasa yang sudah sangat berhasrat ketika sudah dekat dengan wanita yang dicintainya. Bahkan ini adalah candu bagi Radit untuk lebih dekat dengan Sinta. Dan candu itu semakin kuat menuntut nya lebih dari sekedar pegangan tangan dan juga berciuman. Radit menginginkan lebih dari itu. Walaupun Radit sangat tahu kalau perbukitan ini belum boleh mereka lakukan sebelum mereka benar-benar sah dan halal menjadi sepasang suami istri.
Namun cuaca dan suasana yang sangat mendukung membuat Radit ingin melakukan itu dengan Sinta. Apalagi saat ini mereka sedang di atas puncak villa yang sejuk dan dingin. Ditambah hanya mereka berdua yang saat ini berada di kamar penginapan itu.
Memang rencananya mereka akan ke tempat wisata di kota Jatim Park, namun karena kelelahan mereka mampir terlebih dahulu di penginapan itu, sembari makan bersama.
Namun Radit sudah tidak kuasa membendung hasratnya jika sudah berdua dengan Sinta.
Sinta menatap tajam ke arah Radit. Mata Sinta berkaca- kaca tatkala Radit sudah hampir kebablasan ingin melakukan hubungan itu dengan Sinta.
" Maaf, maafkan aku Sinta." ucap Radit. Kini Radit merengkuh tubuh Sinta yang tambah menangis sesenggukan.
__ADS_1
" Bang Radit! Aku aku... aku ingin jujur dengan kamu. Tapi..." ucap Sinta disertai tangisan nya.
" Hai, ada apa? Jangan menangis, aku janji tidak akan melakukanya lagi sebelum kita benar-benar sah dan halal menjadi suami istri." kata Radit sambil merangkum kedua pipi Sinta. Radit mulai mengusap air mata Sinta yang masih berderai.
"Bang Radit! Sebenarnya aku... aku... aku sudah tidak perawan." ucap Sinta. Kini Sinta kembali sesenggukan dan berurai air matanya. Radit sesaat melongo dan tidak percaya atas ucapan Sinta. Namun Radit tidak bisa berbicara.
" Dulu aku melakukan nya dengan kekasihku. Maaf aku membohongi kamu selama ini. Aku sebelum mengenal kamu, aku satu kali telah berhubungan dengan seorang laki-laki dan dia adalah pria yang sangat aku cintai. Dengan dialah aku melakukan itu semua. Dia adalah kekasih aku." cerita Sinta akhirnya. Tangis Sinta sudah mulai reda. Kini Sinta sudah pasrah jika Radit mengajaknya putus darinya. Bagi Sinta ini yang selalu ditakutkan nya ketika Radit mengajaknya untuk menikah. Sedangkan rahasia terbesarnya belum ia ungkapkan.
"Aku pikir, ini waktu nya abang harus mengetahui semuanya sebelum abang benar-benar ingin menikahi aku. Aku sudah tidak suci lagi. Aku sudah melakukan itu dengan kekasih aku. Bukan sekali kami melakukan nya, namun berkali-kali." ucap Sinta akhirnya mengatakan sejujurnya. Radit kini mulai menarik rambut nya dengan kasar.
" Maaf, aku baru cerita sekarang setelah kamu menyampaikan keinginan kamu untuk menikah dengan aku dengan nenek Wati dan juga keluarga kamu. Maaf bang Radit." ucap Sinta semakin lancar dan yakin untuk menceritakan semuanya pada Radit. Pria yang akan menikahi dirinya. Pria yang katanya sangat mencintai dirinya.
" Tapi kenapa baru sekarang kamu cerita ini kepada aku, Sinta?" sahut Radit sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Maaf, a.. a.. aku takut! Takut jika kamu menjauh dan membenci aku." sahut Sinta.
" Ini belum terlambat bukan? Kita belum menikah. Jika kamu mau putus dari aku, aku sudah pasrah dan ikhlas atas semua keputusan kamu." kata Sinta sambil meraih tas nya dan hendak pergi dari kamar penginapan itu. Radit menahan tangan Sinta. Kembali Sinta terduduk kembali di sana.
" Dan lebih parah lagi, aku sempat hamil dengan laki-laki itu. Dan... dan aku pun telah mengaborsi janin itu." ucap Sinta. Tangis Sinta pecah seketika. Penyesalan nya tentang itu benar-benar menyiksanya. Membunuh janin yang masih di dalam rahimnya.
" Astaga Sinta! Kamu... kamu.. akhhhh... ya Tuhan! Kenapa kamu tega melakukan itu?" ucap Radit keras membuat Sinta sangat terkejut dibuat nya.
" Karena itu harus aku lakukan! Karena kami sudah putus. Aku dan laki-laki itu sudah memilih jalan kehidupan sendiri. Aku tidak mungkin mengemis untuk minta pertanggungjawaban dia. Karena dia juga telah memiliki calon istri dan pada akhirnya dia menikah dengan wanita itu." cerita Sinta. Radit menatap bola mata Sinta. Tatapan kecewa juga amarah. Kenapa Sinta bisa melakukan hal bodoh itu.
" Kamu benar-benar bodoh!" ucap Radit dengan suara tertahan. Dengan merangkum kedua pipi Sinta Radit mulai berucap.
" Kamu wanita yang bodoh! Kenapa kamu melakukan itu jika laki-laki itu tidak ada niatan serius menikahi kamu?" ucap Radit geram.
" Karena...karena aku mencintai nya. Aku rela melakukan itu dengan nya." sahut Sinta lirih.
" Apa?" teriak Radit dengan matanya yang membulat.
" Bagi aku, cinta harus dibuktikan. Dan aku rela melakukan itu." ucap Sinta lagi.
__ADS_1
" Oh ya? Kalau begitu lakukan semuanya untuk aku! Jika kamu juga mencintaiku!" gertak Radit. Sinta terkejut dengan ucapan Radit. Sinta tidak menyangka jika ucapannya menjadi bumerang bagi dirinya.
@@@@@@@
Entah pengaruh apa yang membuat Sinta nekat melakukan itu dengan Radit. Sinta dengan berani mulai mencium Radit. Suasana yang sejuk dengan dinginnya cuaca itu sangat mendukung keduanya untuk melakukan hal itu. Radit tidak kuasa untuk menolaknya. Bahkan Radit mulai membalas perlakuan hangat dari Sinta.
Ucapan Radit yang seperti menohok Sinta, membuat Sinta bertekad melakukan hal itu dengan Radit.
" Saat ini aku mencintaimu Radit! Aku rela melakukan semua itu. Walaupun pada akhirnya kamu tidak jadi menikahi aku. Aku adalah kekasih kamu saat ini. Dan aku akan melakukan itu dengan kamu." ucap Sinta pelan sembari mendekati wajah Radit dan mendekatkan bibirnya ke bibir Radit. Sinta mulai mencium Radit pelan. Lalu lama kelamaan mulai sedikit menggigit nya pelan. Gejolak itu mulai menyala. Aliran darah keduanya semakin menggila dan panas. Radit mulai membalas ciuman itu dengan brutal. Sinta memejamkan matanya.
" Aku mencintaimu dengan segala kekurangan kamu, Sinta! Persetan dengan masa lalu kamu. Sinta... Sinta..." ucap Radit pelan seraya merebahkan Sinta di atas peraduan itu. Sampai beberapa lama keduanya semakin intens melakukan nya.
@@@@@@@
Apakah kamu menyukai nya, sayang?" tanya Radit kini mulai kembali dengan aksi-aksi nya. Sinta mele nguh dan tangan nya kini meremas dengan kasar pundak Radit yang berada di atas nya. Suara- suara merdu dan serak keluar dari bibir mungil Sinta. Hal itu semakin membuat Radit memacu semangat nya hingga membuat Sinta mencakar pundaknya yang lebar. Radit meringis kesakitan karena cakaran Sinta tanpa sengaja dan sadar membuat goresan di sana. Radit semakin melajukan gerakan nya bak memainkan biolanya hingga tergoncang- guncang tubuh nan seksi milik Sinta.
Sinta tanpa sungkan ikut mengusap peluh keringat yang bergulir di dahi pria yang kini telah mempermainkan tubuhnya yang polos tanpa busana. Re ma san tangan Radit lagi- lagi membuat Sinta meng gelin jang dan men de sah. Nafasnya tidak beraturan di olah raga di atas peraduan itu. Sesekali Radit membisikkan pelan kata- kata nakal di dekat telinga Sinta. Sinta menampar pelan Radit tatkala Radit makin nakal baik kata- kata yang terlontar maupun tindakan.
Kembali pekikan keras dan tanpa malu Radit suarakan. Tidak perduli jika suaranya keluar dari balik pintu kamar penginapan itu. Sinta seketika menutupi nya dengan telapak tangannya.
" Aku akan membuat kamu melupakan kejadian masa lalu itu dengan laki-laki brengsek itu!" ucap Radit dengan emosinya. Sinta seketika mulai berkaca- kaca.
Radit kini kembali mencium leher jenjang Sinta dan menyesapnya lama. Sinta mulai melenguh. Radit kembali menuntun Sinta ke pembaringan. Kembali Radit menuntut yang lebih dari semua itu. Irama itu kembali diputar, diiringi berbagai alat musik yang menghasilkan suara yang mengalun lembut di sana. Suara de sa han, ke lu han, lengu han terdengar pelan dari makhluk Tuhan yang bernyawa itu.
Cuaca dingin itu membuat mereka semakin bercengkrama dengan kuat dan erat. Mereka sudah tidak perduli dengan dosa. Keduanya hanya ingin membuktikan cinta mereka. Redupnya sinar bulan mulai tertutup awan hitam yang menggumpal. Semakin lama semakin hitam. Disertai semilir angin yang berhembus pelan ke segala celah-celah.
" Aku menyukai aroma ini, Sinta! Aku ingin melakukan nya terus- menerus dengan kamu. Aku tetap akan menikahi kamu, sayang! Aku janji, aku tidak akan mengungkit semua masa lalu kamu. Bersama dengan aku, kita akan memulai cerita indah ini." bisik Radit seraya tetap memainkan biolanya yang bikin bergetar jiwanya dan meronta has rat nya.
" Benarkah? Kamu masih ingin menikahi aku, Radit?" ucap Sinta dengan bibir bergetar.
" Iya, karena aku sudah mencintai kamu, sayang!" sahut Radit sambil menghentakkan tubuh Sinta dengan kuat. Sinta menggigit bibir bawahnya. Hatinya sangat lega. Kejujuran nya disambut baik oleh Radit, walaupun pada akhirnya mereka melakukan itu sebelum benar-benar menikah.
@@@@@@@
__ADS_1