MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
BERTANDANG KE RUMAH MAMA


__ADS_3

Setelah acara liburan itu, antara Radit dan juga Sinta semakin intens bertemu. Radit semakin rajin mengantar jemput Sinta ke kampus. Rencana pernikahan mereka tetap berjalan. Nenek Wati dan juga mama Delima sudah mempersiapkannya. Semua urusan pernikahan mereka sudah mereka serahkan pada jasa wedding organizer.


Kabar rencana pernikahan Sinta beserta Radit sudah sampai di telinga Maimunah. Maimunah yang saat ini sudah mulai membesar perutnya lantaran usia kandungan nya sudah mulai mendekati masa kelahiran pun, tidak bisa terlalu aktif. Sehingga Maimunah, selalu mama nya Sinta menyerahkan semuanya kepada keluarga besarnya untuk mengurus pernikahan Sinta, yang pada akhirnya semua acara pernikahan akan diadakan di kota Malang dengan jasa wedding organizer.


Maimunah juga memiliki kakak laki-laki yang akan menjadi ganti almarhum suaminya untuk menjadi wali nikah Sinta. Rembuk para sesepuh itu sudah dibicarakan dengan keluarga besar dari Maimunah. Dan Maimunah dengan via online dengan video call Dan juga telepon meminta pendapat dari Maimunah juga selaku mama kandung dari Sinta. Dalam hal ini semua sama- sama mengerti lantaran Maimunah masih belum bisa mondar- mandir Jakarta Malang.


Setelah ada niatan untuk menikah dengan Sinta, Radit dikenalkan dengan Maimunah melalui via telephon maupun dengan video call. Sehingga diantara Radit dan juga mama Maimunah sudah saling berkenalan via online namun belum pernah bertemu secara langsung. Radit memang selalu mengajak Sinta untuk pergi ke Jakarta untuk berjumpa dan berkenalan dengan mamanya Sinta dan juga ayah tiri nya Sinta, namun Sinta selalu membuat alasan dan enggan. Sinta akhirnya memilih mengenalkan Radit kepada mama nya melalui video call. Itupun Sinta menghubungi mama Maimunah ketika jam kerja sehingga tidak ada om Mukid ketika menghubungi mama Maimunah.


Dan seperti sekarang Radit telah menjemput Sinta di kampus. Di saat itu, Radit menyodorkan tiket pesawat untuk tujuan Jakarta. Tanpa sepengetahuan dan persetujuan Sinta, Radit telah memboking pesawat tujuan Jakarta. Sinta tentu saja sanga terkejut dengan rencana dadakan dari Radit yang mengajaknya ke Jakarta hari itu juga.


Hari itu adalah hari jumat sore, di mana hari sabtu Sinta sudah tidak ada jadwal kuliah. Demikian juga dengan Radit. Segala urusan kerjaan sampingan Radit pun diserahkan pada orang kepercayaan nya. Soal dana Radit sudah tidak pusing lagi lantaran memang Radit sudah memiliki bisnisnya. Selain itu memang mama dan juga papa nya memang sudah berduit dan memiliki usaha sendiri. Untuk menikah dengan Sinta, Radit tidak akan pusing dengan biaya pernikahan nya.


" Sayang! Kenapa harus ke Jakarta sih? Nanti juga mama aku akan ke Malang di hari pernikahan kita. Lagi pula, di sini pun banyak saudara- saudara mama yang akan mengurus pernikahan kita. Mau apa lagi sih?" ucap Sinta sedikit emosi. Radit meraih tangan Sinta dan berusaha membuat Sinta tenang.


" Sayang, aku ingin berkenalan dengan mama kamu juga dengan ayah kamu juga." sahut Radit.


" Bukannya kemarin sudah kenalan dengan mama aku? Tidak harus ke Jakarta sayang. Aduh kamu ini loh." ucap Sinta seperti sangat keberatan dan juga enggan untuk ke Jakarta.


" Kemarin kan aku belum kenalan juga dengan ayah kamu. Lagi pula aku ingin bertemu langsung dengan mama kamu. Ingin lebih dekat dengan mama dan ayah kamu." kata Radit bersikeras hendak mengajak Sinta pergi ke Jakarta.


" Dia bukan ayah aku! Dia hanya ayah tiri ku. Tidak penting juga." sahut Sinta. Radit meraih tubuh Sinta dan mendekapnya erat.


" Jangan begitu, ayah tiri kamu juga laki-laki yang sudah di pilih mama kamu menjadi suaminya dan menjadi ayah sambung bagi kamu juga. Ayo sayang! Please! Lagi pula aku sudah memboking pesawat hari ini. Sore ini kita berangkat." ucap Radit memohon. Kalau sudah seperti ini mana bisa Sinta menolak jika Radit sudah memeluk dan merayu nya macam itu.


" Oke,... oke lepasin dulu! Tapi aku gak mau menginap di rumah mama." ucap Sinta.


" Jadi, maunya di hotel gitu? Hahaha. Oke?" kata Radit sembari terkekeh. Sinta mengerutkan dahinya.


" Waduh, kena lagi aku! Radit pikir aku mau gituan lagi sama dia yah? Padahal aku malas banget jika harus ketemu dengan ayah tiri ku itu." batin Sinta.


" Ayo cepat bereskan baju yang kamu bawa! Atau bawa tas saja. Nanti kita belanja banyak baju di Jakarta tetapi baju yang seksi itu yah." goda Radit. Sinta semakin cemberut dengan kenakalan Radit.


@@@@@@@


Setelah melakukan perjalanan melalui jalur udara, Radit dan Sinta lebih cepat tiba di Jakarta. Dalam rencana mereka ke Jakarta itu, Sinta tidak memberitahukan nya kepada mama nya maupun ayah tirinya. Rencana mendadak itu lantaran Radit yang mendesak Sinta untuk pergi ke Jakarta. Hanya berpamitan dengan nenek Wati dan juga mama Delima, mereka menjumpai mama Maimunah. Dalih dari Radit adalah meminta restu kepada mama dan juga ayah Sinta dalam pernikahan nya dengan Sinta. Rasanya tidak sopan jika hanya melalui video call saat melamar atau minta ijin mama nya Sinta lewat online.


" Tidak ada yang menjemput kita yah, sayang?" tanya Radit yang melihat tidak ada satu pun yang menjemput mereka saat sudah tiba di bandara.


" Tidak ada! Aku tidak kasih kabar sama mama kalau aku ke Jakarta." sahut Sinta.

__ADS_1


" Ya ampun!" keluh Radit. Sinta meringis saja namun dengan cuek nya mencari alasan lain.


" Mau bikin kejutan mama!" sahut Sinta. Radit akhirnya tersenyum melebarkan bibir nya.


" Ya sudah, kita naik apa ini?" tanya Radit.


" Naik taksi juga bisa kok! Ayo sayang!" ajak Sinta. Radit mengikutinya sambil memeluk pinggang Sinta.


Dalam perjalanan menuju ke rumah Sinta di Jakarta, Sinta sedikit bimbang dan ada rasa takut jika ketemu dengan Om Mukid. Takut jika Radit mengetahui jika Mukid lah kekasih Sinta dan laki-laki itulah yang telah merenggut mahkotanya serta yang membuat Sinta hamil. Laki-laki yang sangat dicintai Sinta dan Sinta rela melakukan serta rela menyerahkan keperawanannya untuk laki-laki itu. Sinta sangat takut jika Radit tahu jika ayah tirinya lah laki-laki itu.


" Kamu kenapa sayang?" tanya Radit saat menangkap wajah Sinta dalam kegelisahan.


" Tidak apa- apa! Hem, nanti benar yah, kita tidur di hotel saja." ucap Sinta manja. Radit berbinar matanya.


" Ya ampun, sudah gak sabar yah sayang! Padahal baru kemarin kita melakukan nya." sahut Radit tanpa Filter. Sinta mencubit pinggang Radit hingga Radit meringis kesakitan.


" Aku kalau dengan kamu selalu tidak pernah cukup. Maunya setiap hari." bisik Sinta menggoda.


" Hahaha..." Radit tertawa terbahak- bahak.


" Dengan body kamu yang kelar, badan yang tinggi besar serta dada bidang yang lebar mampu membangkitkan libido ku." ucap Sinta tanpa kontrol. Kembali Radit terkekeh dengan pernyataan absurd dari Sinta.


@@@@@@@


" Benar ini rumahnya yah, non?" tanya sopir taksi itu.


" Benar pak! Terimakasih pak!" ucap Sinta sembari memberikan uang sesuai dengan argo di dalam taksi itu. Sinta sedikit membayar nya lebih untuk sopir taksi itu.


" Terimakasih banyak nona! Eh tapi ini kebanyakan nona." ucap sopir taksi itu.


" Tidak apa pak! Anggap saja bonus untuk bapak." sahut Radit. Kini sopir itu membantu mengeluarkan koper yang ada di bagasi mobil itu. Lalu setelah urusannya selesai sopir taksi itu mulai meninggalkan tempat itu dan menyisakan Sinta dan Radit yang masih berdiri di depan pagar.


" Sekarang, kamu harus menelpon mama, kalau kamu sudah di depan pagar rumahnya." ucap Radit.


" Iya, ini mau hubungi mama dulu." kata Sinta sembari membuka layar ponselnya dan mencari nomer telpon mama nya. Setelah tersambung Sinta baru berkata.


" Mama, aku dan bang Radit ada di depan pagar. Pacarnya di kunci." ucap Sinta.


" Iya ma, oke! Aku tunggu ma." tambah Sinta.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Maimunah membukakan pintu utama dan ke luar dari sana. Di depan teras terlihat kalau Maimunah keluar bersama dengan Mukid. Mukid dengan cepat membuka gembok pagar rumah itu. Saat itu kebetulan satpam di rumah itu sedang libur, jadi mereka berdua lah yang tinggal di rumah itu saat ini.


" Sinta, ayo masuk! Ajak calon suamimu juga." ucap Mukid si ayah tiri Sinta. Radit menatap sosok Mukid dengan pandangan aneh.


Mukid segera menghambur mendekati Maimunah dan memeluk pinggang nya.


" Ayah tiri kamu ganteng banget! Dan masih muda. Pantas saja mama kamu klepek-klepek gitu. Aku saja yang laki-laki melihat ayah tiri kamu tersepona.. eh terpesona." ucap Radit pelan ke telinga Sinta. Sinta mencubit pinggang Radit pelan.


" Gantengan juga kamu, sayang!" kata Sinta tidak kalah pelan.


" Sinta, Radit! Kalian jahat sekali tidak kasih kabar dengan mama. Ayo masuk dulu kalian!" ucap Maimunah. Radit dan juga Sinta mulai masuk ke dalam.


" Radit, kamar Sinta ada di lantai atas. Kamu bisa bawa koper kalian di sana." ucap Maimunah.


Sinta dan Radit duduk di ruang tamu. Demikian juga dengan Maimunah dan Mukid.


" Mama, maaf aku tidak menginap di sini." sahut Sinta.


" Loh kenapa? Memangnya mau menginap kemana?" tanya Maimunah.


" Tadi Sinta mengajak untuk menginap di hotel, ma." kata Radit. Maimunah menggelengkan kepala.


" No, Sinta! Jangan dong! Kamu ini sudah lama tidak pulang masak mau menginap di hotel sih? Rumah ini cukup luas dan lebar. Kami hanya tinggal berdua saja kok." protes Maimunah.


" Sudah, kalian naiklah ke atas. Beristirahat dulu. Nanti setelah itu kita makan malam bersama yah." ucap Maimunah.


Sinta dan Radit saling pandang.


" Sayang, tidak apa yah kita menginap di rumah mama? Lagi pula rumah ini cukup besar dan nyaman kok." ucap Radit seraya mulai mengangkat koper yang berisi pakaian Radit dan Sinta.


Akhirnya Sinta tidak bisa menolak lagi. Mereka menginap di rumah itu. Walaupun Sinta sebenarnya menginginkan untuk menginap di hotel.


Sementara di kamar Maimunah, Maimunah mulai bertanya dengan suami nya Mukid.


" Sinta kenapa sih, ingin menginap di hotel segala. Di sini juga rumahnya dan tempat tinggalnya dulu." keluh Maimunah.


" Mungkin Sinta ingin mencari suasana lain." sahut Mukid berusaha mengalihkan ke positif pikiran Maimunah.


" Sejak kita menikah, aku merasa kalau Sinta telah berubah. Dan perubahan itu terlihat jelas kepada aku. Apakah sebenarnya Sinta tidak menghendaki kalau aku menikah lagi yah, mas." ucap Maimunah.

__ADS_1


" Mungkin juga, butuh waktu untuk menerima aku sebagai ayah tirinya yang masuk dalam kehidupan kalian. Seolah akulah yang merebut mama nya dari Sinta." kata Mukid. Padahal ada alasan lainnya yang tidak mungkin Mukid ungkapkan.


__ADS_2