MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
LUKA KEMBALI


__ADS_3

Kegiatan pelatihan kader organisasi kemahasiswaan sudah selesai dilaksanakan. Semua peserta telah kembali ke rumahnya maupun ke kost nya masing-masing. Termasuk Sinta dan Ratna pun telah kembali pulang. Setelah ke rumah Ratna dan mengambil motor matinya, Sinta langsung kembali pulang ke rumah neneknya. Rumah dimana dirinya tinggal di kota Malang ini bersama nenek nya.


Setibanya di rumah, Hari sudah sore kira- kira jam tiga, Sinta segera naik ke anak tangga menuju kamarnya. Suasana rumah terlihat sepi, mungkin saja nenek Wati masih di dalam kamarnya beristirahat dengan tidur siang nya. Sinta segera masuk ke dalam kamarnya. Namun sebelum Sinta membuka handle pintu kamar nya, suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya.


" Sinta sayang, kamu sudah pulang?" ucap seorang wanita yang sangat dekat dengan Sinta kini berjalan mendekati Sinta. Wanita itu berjalan sambil bergandengan dengan laki-laki yang tentu saja sangat dikenal oleh Sinta. Mereka mendekati Sinta dan wanita itu memeluk Sinta. Sinta melirik ke arah laki-laki yang bersama wanita itu.


" Mama kangen dengan kamu! Kamu, bagaimana kabar kamu, kamu sehat kan?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah mama nya Sinta, Maimunah dan laki-laki yang bersama dengan Maimunah adalah Mukid, laki-laki yang juga sangat dicintai oleh Sinta. Laki-laki yang menjadi alasannya Sinta untuk pindah ke kota Malang. Sinta terdiam saat mama nya memeluk dirinya dengan erat.

__ADS_1


" Mama, kenapa belum pulang ke Jakarta?" tanya Sinta seraya kembali melihat ke arah Mukid. Tidak menjawab pertanyaan dari mama nya malah Sinta balik bertanya.


" Loh, mama eh kami memang sengaja menunggu kamu sampai kamu pulang dari kegiatan di kampus kamu. Oh iya Sinta. Kita keluar yuk, mama ingin mengajakmu makan malam bersama. Di Malang ini, banyak tempat- tempat makan yang makanan nya super enak. Kamu pasti belum sempat ke rumah makan itu bukan?" kata Mama Maimunah.


" Tapi mama, aku baru tiba dan sampai. Mama dan om Mukid eh ayah Mukid saja yang pergi." tolak Sinta.


" Eh, iya betul! Ayolah Sinta! Mama kamu sangat kangen kamu. Ehmmm dan juga ayah pun rindu kamu juga." ucap Mukid yang masih terasa canggung jika diposisi saat itu, yang ada Maimunah, istrinya ketika bertemu dengan Sinta.

__ADS_1


" Ayolah Sinta, kita sudah lama tidak pergi dan makan bersama." ajak mama Maimunah kembali.


" Baiklah, mama dan om Mukid tunggu lah di bawah. Aku ingin bersih- bersih dulu dan berganti pakaian." ucap Sinta akhirnya.


" Nah begitu dong! Baiklah, kami tunggu di bawah yah, Sinta. Jangan lama- lama mandi nya!" kata Maimunah kepada Sinta. Lalu Maimunah menggandeng pinggang Mukid meninggalkan Sinta untuk turun ke bawah. Sejenak Sinta menatap mama dan ayah tirinya yang melenggang dan terlihat begitu mesra. Masih ada perasaan cemburu dan rasa itu masih terasa sesak Sinta rasakan. Sinta seperti sangat sulit bernafas ketika melihat Mukid bersama mama nya penuh perhatian.


" Kenapa harus aku mengalaminya? Di saat aku ingin menjauh, mereka datang kembali mengingatkan kepedihan itu. Seharusnya kalian tidak lagi terlihat di depan mataku. Ini masih begitu sakit aku rasakan. Kalian tidak akan tahu itu, karena kalian sangat begitu bahagia." pikir Sinta. Sinta menarik nafasnya dalam- dalam. Sinta ingin mengatur nafasnya yang sejak tadi begitu sesak dan sangat sakit. Ini adalah resiko ketika sudah patah hati setelah berani jatuh cinta dengan laki-laki yang sudah memiliki kekasih.

__ADS_1


__ADS_2