
Cahaya lampu sepanjang jalan menerangi kota. Di dalam mobil itu Mukid melajukan kendaraan beroda empat itu dengan pelan. Di depan duduklah Maimunah di samping Mukid yang saat ini sedang menyetir. Sedangkan di belakang ada Sinta yang sendirian. Sinta sesekali menatap pasangan suami istri yang berada di depannya. Mama kandung dan ayah tirinya terlihat sangat mesra. Sinta mulai terbiasa dengan pemandangan itu.
Sampai di rumah makan dengan nuansa nusantara mobil yang dikendarai oleh Mukid dengan dua wanita yang mewarnai cerita cinta nya, Maimunah dan juga Sinta. Mukid turun dari dalam mobil itu dan memutari mobil untuk membukakan pintu samping untuk Maimunah. Sinta masih di dalam mobil itu itu memperhatikan Mukid yang penuh perhatian dengan mama nya. Sebelum giliran pintu belakang mobil itu dibuka oleh Mukid, Sinta dengan cepat membuka pintu mobil itu dan turun. Mukid sesaat menatap Sinta yang menyimpan kecewa di sana. Ketiga nya melangkah masuk ke rumah makan dengan banyak saung- saung di sana.
" Aku sudah memesan tempat di paling ujung nomor tujuh. Kita langsung ke sana saja!" ajak Maimunah. Mukid menggandeng Maimunah bak seorang putri. Kehamilan Maimunah itulah yang membuat Mukid selalu berlalu hati- hati dan perhatian dengan Maimunah. Perut Maimunah belum terlihat membuncit, lantaran Maimunah sengaja memakai atasan yang longgar tidak seperti biasanya yang memperlihatkan lekuk pinggangnya yang ramping.
Maimunah, Mukid dan juga Sinta kini sudah duduk di rumah makan itu dengan lesehan. Dengan alas bantal dudukan mereka duduk di bawah di dalam saung itu. Makanan dan minuman yang lebih dahulu dipesankan oleh Maimunah sudah tiba dengan dua pramusaji yang terlihat masih cantik. Sinta mulai melihat beberapa menu yang sudah tersaji di atas meja itu. Mama nya masih sangat hafal betul makanan yang menjadi kesukaan dan favorit Sinta saat makan bersama di rumah makan. Iga bakar dan juga jus mangga tidak ketinggalan selalu di pesankan oleh mama Maimunah.
" Sinta, ini iga bakar kesukaan kamu! Kamu kalau mau tambah lagi bisa memesannya." ucap mama Maimunah.
Sinta segera mengambil sedikit nasi dan mulai menikmati iga bakar khas rumah makan itu. Setelah itu Maimunah mulai meladeni suaminya dengan menu makanan andalan Mukid.
" Mau tambah lagi mas? Sate kambing di rumah makan ini terkenal sangat lembut. Kamu pasti akan minta tambah, deh." kata Maimunah seraya memberikan satu tusuk sate kambing itu dan menyuapi ke mulut Mukid. Mukid membuka mulutnya dan sebentar melirik ke arah Sinta. Sinta sempat melihat adegan mesra antara mama kandungnya dengan ayah tirinya. Namun Sinta kembali fokus menyantap makanan nya.
__ADS_1
" Benar! Ini sangat lezat! Oh iya Sinta, kamu juga harus mencobanya." kata Mukid berusaha lebih dekat dengan Sinta. Sinta tersenyum saja.
" Oh iya, sayang! Aku mau es campur dong. Kamu bisa panggilkan pelayan disini?"ucap Maimunah manja sembari mengusap bibir Mukid dengan tisu setelah mencoba sate kambing.
" Biar aku yang ke sana untuk memesankan es campur dulu. Oh iya, Apakah kamu juga mau es campur nya?" ujar Mukid.
" Pesankan saja sayang! Sinta, putri aku ini sebenarnya tidak terlalu pilih- pilih. Jika ada makanan dan minuman yang sudah tersedia, Sinta akan ikut mencoba dan memakannya." sahut Maimunah. Mukid segera melangkah memesankan es campur itu.
" Mama, aku ke toilet sebentar." kata Sinta yang segera turun dari saung tersebut menuju toilet wanita.
" Sinta mana, sayang?" tanya Mukid. Maimunah tersenyum mendapati Mukid mulai perhatian dengan putrinya.
" Sedang ke toilet sebentar. Ayo kita lanjutkan makannya!" ajak Maimunah. Maimunah dan Mukid mulai menikmati makanan nya dan keduanya sesekali saling menyuapi dari piring makanan mereka. Keromantisan itu dilihat oleh Sinta ketika Sinta sudah mulai duduk kembali ke dalam saung tersebut.
__ADS_1
" Kamu selalu makan belepotan gini loh, sayang." ucap Mukid sambil membersihkan sisa makanan yang menempel di sebelah mulut Maimunah. Maimunah tersenyum sendiri.
"Mereka terlihat sangat bahagia. Mana mungkin aku bisa merusaknya. Mukid pun terlihat sangat tulus mencintai mama. Sikap dan perlakuan nya yang manis terhadap mama, tidak dibuat- buat. Walaupun ada cemburu dan iri, tapi perlahan aku akan bisa menghapus dan menyembuhkan luka ini." pikir Sinta seraya menatap keduanya antara Mukid dan juga Maimunah. Namun tiba-tiba mata Sinta bertemu dengan mata Mukid. Mukid melemparkan senyuman nya yang manis terhadap Sinta. Sinta menundukkan kepalanya dan kembali menikmati makanan nya.
" Sinta, kamu mau sate kambing ini?" tanya Mukid mencoba menawarkan nya pada Sinta.
" Tidak, terimakasih." sahut Sinta. Mukid sedikit kecewa dengan penolakan itu.
" Nanti biar aku yang menghabiskan, sayang!" ucap Maimunah dengan tersenyum ramah. Mukid membisikkan sesuatu di telinga istrinya.
" Awas hati- hati jika kamu sudah memakannya. Daging kambing akan membuat kamu liar di atas ranjang." bisik Mukid asal.
" Itu hanya mitos sayang! Kalau kamu pandai membuat aku panas, aku juga bisa semakin liat walaupun tanpa memakan daging kambing ini." ucap Maimunah pelan. Entah kenapa Sinta sangat jelas mendengar ucapan keduanya. Padahal mereka berbicara sangat pelan.
__ADS_1
" Dalam situasi seperti ini, bahkan mereka bicara masalah ranjang. Bagaimana aku tidak seperti cacing kepanasan?" batin Sinta.