MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
USAHA MEMBUKA HATI


__ADS_3

Fajar sudah mulai mengintip di balik awan. Cahaya bulan masih memancar terang. Sisa- sisa dari sinarnya masih terlihat jelas memberikan cahaya gelap alam yang masih sepi itu. Belum semua terjaga dan bangun dari tidur nya. Selimut masih melekat dalam tubuh nya. Namun berbeda dengan Sinta yang sudah terjaga dari tidurnya. Sengaja dia bangun lebih awal untuk membuatkan makanan untuk Bang Radit. Sinta ingin memberikan makanan spesial buatan nya. Nasi uduk dilengkapi dengan lauknya. Sinta sudah membuat konsepnya hendak membikin apa saja.


Sinta sudah mulai sibuk membuka isi lemari es. Di sana Sinta memastikan masih ada stok apa saja. Bibi asisten rumah tangga di rumah nenek belum keluar dari kamarnya. Dan juga nenek Wati terlihat masih ada di dalam kamarnya. Sinta mencuri start untuk membuat sarapan juga untuk mereka, dan menyisihkan juga untuk Bang Radit.


Sinta sangat bersembunyi sekali membuat makanan yang spesial untuk Bang Radit. Tidak disadarinya, Sinta sedari tadi tersenyum sendiri. Apalagi ketika membaca balasan dari Bang Radit yang baru dibuka oleh Sinta setelah membuka matanya alias bangun dari tidurnya.


Nasi uduk sudah siap. Sinta kini mulai membuat beberapa lauknya. Sinta memang baru memulai belajar memasak dengan melihat beberapa resep dan cara memasaknya di media sosial. Di tambah dengan belajar memasak bersama nenek Wati.


Setelah beberapa jam, akhirnya Sinta telah menyelesaikan masakan nya. Beberapa sudah Sinta siapkan di atas meja makan dan sebagian Sinta siapkan untuk Bang Radit untuk dibawanya nanti saat ke kampus dan mampir sebentar ke kantor cabang organisasi kemahasiswaan.


Sinta kembali ke kamarnya dan menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur nya. Sinta kembali membuka layar ponselnya dan dilihat nya balasan dari Bang Radit untuk nya.


📱📲 " Jam berapa ke kantor cabang organisasi kemahasiswaan? Tapi hari ini aku lagi tidak di sana, Sinta. Ada perlu apa sih? Hayo kamu kangen aku yah?" pesan chat dari Bang Radit.


📱📲 " Oh lagi tidak di kantor cabang organisasi kemahasiswaan yah? Ya sudahlah! 😔." balas pesan chat Sinta.


📱📲 " Hai ada apa sih? Tapi aku belum bisa kemana-mana. Maaf, Sinta! Sebenarnya aku lagi tidak enak badan." pesan chat Radit.


📱📲 "Loh abang sakit apa? Kenapa dari tadi tidak bilang kalau abang sakit sih? 😌. Kalau begitu nanti sebelum aku ke kampus, aku mampir dulu ke rumah abang saja, deh." pesan chat Sinta.


📱📲 " Beneran nih? Oke, aku tunggu yah!😘" pesan chat Radit.


Sinta tersenyum membaca balasan pesan chat dari bang Radit. Sinta bergegas menuju kamar mandi dan mulai mengguyur badannya dengan shower. Pagi ini Sinta sangat bersemangat menapaki hari ini penuh keceriaan.


@@@@@@@


Sinta sudah duduk di meja makan bersama dengan nenek Wati dan juga asisten rumah tangga di rumah itu. Mereka sarapan pagi hasil masakan nya Sinta. Nenek Wati begitu lahap menikmati hasil masakan dari cucunya itu.


" Dari hasil masakan kamu, sepertinya kamu sudah sangat siap jika harus menikah dan menjadi seorang istri. Nenek ingin sekali mempunyai cicit dari cucu aku." ucap Nenek Wati.


" Nenek, aku tidak mau cepat- cepat menikah." sahut Sinta.


" Kenapa? Jika kamu sudah menemukan laki-laki yang bertanggung jawab dan mencintai kamu dengan tulus, tidak perlu ditunda-tunda lagi." ucap nenek Wati.


" Nenek, aku masih kuliah dan setelah kuliah aku ingin fokus bekerja dan menikmati masa- masa menjadi gadis dulu. Kalau nanti sudah menikah, aku harus mengikuti apa kata suami, lalu hamil dan mengurus anak dan rumah. Aduh seperti nya dunia sudah semakin sempit kalau sudah menikah dan memiliki suami." kata Sinta.


" Itu lantaran kamu belum menemukan pria yang mengajak kamu untuk menikah. Dan satu lagi, kamu mungkin belum terkena dewi asmara alias panah cinta. Coba kamu sudah jatuh cinta, pasti kamu akan berbeda ngomong nya." ucap nenek Wati.

__ADS_1


"Ah nenek! Walaupun aku jatuh cinta, aku tidak ingin terburu- buru menikah. Aku akan menikmati masa berpacaran dulu, nek." ucap Sinta.


" Wah, Hati-hati kalau kamu sudah berpacaran loh, Sinta. Nenek tidak ingin kamu kebablasan." sahut Nenek Wati.


" Tidak nenek!" ucap Sinta penuh keyakinan.


" Bagus! Kamu harus terus menjaga harga diri dan kehormatan kamu sampai kamu menikah nanti. Persembahan kan semuanya untuk suami kamu nanti." ucap nenek Wati. Sinta sontak menjadi sedih dengan ucapan neneknya. Sinta diam sambil menghabiskan makanan nya.


" Benar kata nenek, seharusnya aku memberikan semuanya untuk suami aku. Bahkan aku sudah memberikan itu kepada Om Mukid. Dia telah membuka segel ini. Lalu bagaimana dengan suami aku kelak?" pikir Sinta kembali bersedih jika mengingat akan hal itu.


@@@@@@@


Sinta kini sudah tiba di rumah Bang Radit. Makanan yang sudah disiapkan untuk Bang Radit sudah Sinta bawa. Setiba nya di depan rumah itu, kebetulan sekali mama Radit, mama Delima sedang membersihkan halaman rumah. Mama Delima yang mengetahui kedatangan Sinta, segera menyambut nya dengan hangat.


" Sinta! Tumben pagi- pagi sekali ke rumah tante? Hayo bawa apaan ini?" ucap mama Delima dengan ramah dan penuh keceriaan. Sinta menyerahkan tupperware yang berisi hasil masakan nya tadi pagi.


" Ini buat tante dan juga Bang Radit." ucap Sinta. Mama Delima menerima tupperware dari Sinta.


" Ayo, masuk dulu! Oh iya, Radit masih di dalam kamar nya. Kemarin Radit demam tinggi dan kepalanya pusing. Hari ini katanya sudah mendingan, namun masih lemes badannya. Itu kata Radit." terang Mama Delima.


" Kamu mau minum apa?" tanya mama Delima.


" Enggak usah, tante! Ehm saya mau langsung saja ke kampus." kata Sinta.


" Eh, kok terburu-buru sih?" tanya mama Delima.


" Maaf tante, ada kuliah pagi hari ini." sahut Sinta. Sinta berdiri dari tempat duduknya dan memberi salam kepada mama Delima.


" Terima kasih, Sinta! Besok tupperware nya akan tante isi dengan yang lain yah." ucap mama Delima.


" Aduh tidak perlu, tante!" kata Sinta. Mama Delima tersenyum saja.


" Tidak apa- apa, nenek kamu dan juga tante sudah biasa tukar- tukar hasil masakan." sahut mama Delima.


Sinta meninggalkan rumah Radit dengan motor matic nya menuju kampus. Ada kuliah pagi hari ini. Walaupun tidak sempat berjumpa dengan Radit, Sinta sudah cukup bahagia bisa mengantarkan hasil masakan nya kepada keluarga Radit. Paling tidak Radit akan ikut mencicipi makanan yang Sinta bawa.


@@@@@@@

__ADS_1


Mama Delima membawakan sepiring nasi uduk beserta lauknya ke kamar Radit. Radit masih malas- malasan di tempat tidur nya. Setelah kemarin mengalami sakit kepala dan demam tinggi, hari ini tinggal masa pemulihan.


Tok


tok


tok


Mama Delima mengetuk pintu kamar Radit. Pintu kamar Radit tentu saja tidak dikunci oleh Radit. Mama Delima masuk setelah mengetuk pintu kamar itu.


" Radit, anak mama yang paling ganteng! Lihat, apa yang mama bawa?" ucap mama Delima.


" Apa itu ma?" tanya Radit.


" Nasi uduk, dengan lauk perkedel, abon, tempe kering, telor dadar.empal, eh komplit deh lauknya." ucap mama Delima.


" Kamu makan yah?" ajak Mama Delima.


" Oh iya ma! Sinta sudah datang kemari belum? Katanya pagi ini mau kemari." tanya Radit. Mama Delima menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Eh, tadi memang Sinta kemari dan mengantar nasi uduk ini. Tapi katanya dia buru- buru mau ke kampus. Ada kuliah pagi katanya." kata Mama Delima.


" Apa, Sinta sudah datang ke sini? Aduh mama! Mama, kenapa tidak menyuruhnya naik ke kamar aku? Dia pasti sedih tidak bisa menjenguk aku." ucap Radit dengan ekspresi kecewa.


" Radit, Sinta ada kuliah pagi ini, jadi terburu-buru. Mama tidak menawarkan Sinta menjenguk kamu." ucap mama Delima.


" Ya sudah, mana nasi uduk buatan Sinta?" tanya Radit seraya mengambil piring yang sejak tadi ada ditangan mama Delima. Mama Delima menggelengkan kepalanya.


" Jadi, nasi uduk itu buatan Sinta? Cie... cie.. cie.." ucap Mama Delima menggoda.


" Mama tidak asyik! Masa tidak menyuruh Sinta naik ke atas sih? Radit menjadi tidak berjumpa lagi dengan Sinta kan.." omel Radit.


" Ya sudah, setelah makan minum obatnya lagi. Besok kamu sehat bisa ke rumah nenek Wati mengantarkan makanan sekaligus biar ketemu Sinta mu itu." ucap Mama Delima sambil menoel pinggang putra tunggalnya.


" Kangennya sekarang, kalau besok- besok makin tambah kangen nya dong!" rengek Radit sambil cemberut. Mama Delima mengerutkan dahinya dan menatap wajah putra nya yang selalu kumat manjanya kalau sudah dengan dirinya.


" Cie.. cie... cie.. Anak mama sudah jatuh hati rupanya. Eh, tapi Sinta baik kok. Selain itu dia juga pandai memasak. Mama suka gadis yang pandai memasak." ucap mama Delima. Radit tetap cuek dengan ocehan mama nya. Dirinya sedang asyik melahap makanan hasil masakan Sinta. Gadis yang beberapa hari ini membuatnya rindu.

__ADS_1


__ADS_2