MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
MUKID SEMAKIN SAYANG


__ADS_3

Mentari sudah mulai mengintip dibalik awan. Malu- malu sinarnya menembus gumpalan awan. Selimut tebal itu mulai tersingkap diantara dua insan yang terkulai di atas peraduan. Dua insan yang masih polos di atas kasur empuk dikamar sekotak. Keduanya masih menggeliat mengikuti irama yang membentuk gesekan jiwa. Permainan biola dengan ritme maju mundur menimbulkan suara keluhan yang tak bisa diartikan. Sampai merasa letih terkapar lemas dengan senyuman puas diantara keduanya.


Mukid mulai memberikan kecupan lembut nya di bibir wanita di bawah nya. Namun kembali Mukid meraup bibir wanita itu hingga ciuman panjang itu terjadi. Pergumulan itupun akhirnya kembali terjadi lagi. Mukid kembali menguasai tubuh wanita yang masih belum berpengalaman dalam permainan ranjang, hingga tampak pemandangan yang seperti membentuk roti tawar ditumpuk menjadi dua. Ditengahnya dengan toping keju yang meleleh dan berceceran. Gerak- gerakan erotis itu kembali tercipta. Irama gesekan biola itu pun menimbulkan suara yang khas ditelinga. Nyaris membuat merinding jika seseorang mendengar jeritannya.


Maimunah memejamkan mata, pasrah dan ridlo menjadi istri dari Mukid. Sesekali terdengar suaranya karena permainan biola Mukid yang menghasilkan suara lolos begitu saja dari mulut Maimunah. Hal itu semakin membuat Mukid lebih bersemangat dengan permainan nya. Bagi seseorang pria ini adalah kesenjangan tersendiri bisa membuat pasangan nya mengeluh dalam kepuasan karena permainan nya. Bagi pria ini adalah bukti dan pembuktian bahwa dirinyalah bisa memberikan kepuasaan dan kenyamanan bagi pasangan nya. Menunjukkan bahwa dirinya luar biasa dalam urusan ranjang. Membuktikan bahwa dirinya pejantan tangguh yang tidak lemah.


Tidak lama akhirnya suara pekikan terdengar keras dari mulut Mukid seolah beban dan hasrat nya selama ini dia keluarkan dan tuntaskan bersama Maimunah. Maimunah tersenyum dan mulai merapikan pakaian nya. Maimunah mulai memakai pakaian nya yang saat ini masih polos itu. Mukid melirik ke arah Maimunah yang terlihat sangat seksi sekali istrinya itu.


" Kamu mau kopi, mas? Aku akan membuatkannya untuk kamu." kata Maimunah yang sudah berpakaian itu.


" Aku yakin kopi buatan istri aku yang penuh cinta akan terasa sangat nikmat." ucap Mukid seraya mengecup kening istrinya itu.

__ADS_1


Maimunah menatap Mukid yang kembali tiduran di atas kasur empuk itu. Senyumnya dilemparkannya begitu tulus terhadap Maimunah. Maimunah mulai keluar dari pintu kamar itu dan bergegas membuatkan kopi untuk suaminya. Namun Mukid dengan jahil memanggil Maimunah.


"Sayang!" panggil Mukid dengan tersenyum.


" Iya, mas!" sahut Maimunah setelah membalikkan badannya.


" Jangan lama- lama membuatkan kopi untuk aku, cepatlah kembali lagi ke kamar!" kata Mukid sambil tersenyum.


" Aku ingin lagi!" jawab Mukid sambil memainkan matanya.


Maimunah menjulurkan lidah nya mencoba meledek Mukid. Mukid tersenyum menyeringai. Untuk beberapa saat Maimunah baru menyadari kalau suaminya sungguh begitu tampan dengan kulitnya yang bersih.

__ADS_1


" Kamu sudah membuat aku kecanduan." ucap Mukid.


Maimunah hanya memberikan senyuman nya. Baginya kata- kata Mukid adalah bentuk rayuan dan modus untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Maimunah sudah terbiasa dengan bahasa mesum pria itu, dan pria itu sudah menjadi suaminya.


@@@@@@@


Apakah kamu sudah menjadi tawanan cintaku? Terborgol oleh rasa yang sulit di singkirkan. Terpenjara oleh tembok tinggi tebal.


Kekuatan bukan hanya berasal dari pukulan, tendangan, tamparan ataupun yang lainnya. Kekuatan terhebat datang dari hati yang besar. Bahkan angin yang lembut pun bisa menghancurkan semesta. Seperti kokohnya pondasi gunung tertinggi,mampu hancur dengan guncangan dahsyat nenek bumi yang menggeliat. Demikian halnya cinta. Jika cinta itu sudah menguasai jantungnya, di bawah sadar pikirnya tidak mampu berakal sehat. Dunia bak cacing kepanasan, jika rasa rindu itu menggelitik jiwa. Sehari tidak berjumpa serasa kehausan sepanjang masa. Dahaga yang tak kunjung terpuaskan karena kasihnya yang belum di lihatnya.


*******

__ADS_1


Di dalam kamar nya, Sinta masih dalam kegelisahannya di atas kasur itu. Mata nya menerawang ke langit-langit kamar itu. Sesekali menghidupkan televisi yang di pajang di dinding ruangan kamar itu. Sejauh ini dirinya masih belum bisa melupakan sosok Mukid. Perasaannya masih sangat jelas. Hatinya masih belum berubah, terpaut dan terpatri pada wajah putih bersih yang menyimpan kelembutan dan kasih sayang. Walaupun begitu ada kebencian yang mendalam kepada sosok pria itu yang mengakibatkan dirinya menjadi wanita yang jahat telah membunuh bayinya sendiri, bahkan bayi itu pun belum sempat lahir di dunia ini.


__ADS_2