MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
MENUNGGU


__ADS_3

Selama hampir satu jam itu Sinta berdiri di depan seperti anak sekolah yang mendapatkan hukuman oleh gurunya. Betapa wajah cantik Sinta saat ini seperti diobral ketika berdiri di depan. Semua mata melihat Sinta yang berdiri di depan yang terkadang sudah goyang karena terlalu lama berdiri. Sesekali Sinta menunjukkan bibirnya yang cemberut lantaran bang Radit belum juga mengijinkan Sinta kembali ke tempat duduknya. Hal itu membuat Ratna menjulurkan lidahnya meledek pada Sinta. Sinta dibikin geregetan karena bang Radit. Sampai akhirnya selesai sudah bang Radit memberikan materi dan beralih ke pemateri yang lain.


" Silakan kamu kembali ke tempat duduk kamu, setelah ini jangan bercanda lagi. Ikuti kegiatan ini dengan serius." ucap Bang Radit pelan ketika mendekati Sinta.


" Oke, seperti aku serius menyukai kamu kan bang?" sahut Sinta asal dan suaranya sangat pelan. Namun ternyata Bang Radit mendengar nya.


" Apa? Kamu menyukai aku?" tanya Radit memastikan. Sinta tentu saja sangat terkejut dengan pertanyaan itu.


" Eh, tidak! Siapa yang bilang begitu?" kata Sinta lalu bergegas berjalan cepat menuju ke tempat duduknya. Bang Radit tersenyum menatap punggung Sinta yang berjalan ke tempat duduknya.


Bang Radit kini kembali ke ruang kepanitiaan dan sesi berikutnya akan diisi oleh pemateri yang lainnya.


@@@@@@@


Sementara di rumah nenek Wati, di sana sudah ada Maimunah dan juga Mukid yang semalam baru tiba di kota Malang dari Jakarta. Saat ini antara nenek Wati, Maimunah dan juga Mukid sedang menikmati makan malamnya di meja makan. Sambil menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga di rumah itu, mereka juga asyik mengobrol.

__ADS_1


" Berapa hari sih Sinta mengikuti kegiatan di kampusnya, bun?" tanya Maimunah kepada nenek Wati.


" Katanya hari minggu sore baru selesai kegiatannya." sahut nenek Wati. Maimunah menarik nafasnya dalam- dalam.


" Mas Mukid minggu pagi, rencananya akan kembali ke Jakarta. Tentu saja aku pun ikut balik juga, Bun. Jadi kalau aku dan mas Mukid kembali ke Jakarta, tidak ketemu dengan Sinta dong. Padahal aku sangat kangen dengan Sinta." ucap Maimunah.


" Kalau kamu ingin menunggu Sinta supaya bisa bertemu dengan nya, kita bisa pulang di hari senin pagi saja tidak apa- apa sayang." kata Mukid yang akhirnya ikut berbicara.


" Benarkah? Kamu tidak apa- apa kalau kita pulang hari senin saja? Aku masih kangen dengan bunda dan juga ingin ketemu Sinta. Anak itu selama tinggal di Malang ini menjadi kurusan atau gemuk, aku ingin melihat nya." kata Maimunah.


" Itu lebih baik jika Sinta lebih cepat melupakan aku." batin Mukid.


" Apakah sudah ada cowok yang bermain ke rumah ini untuk berkencan dengan Sinta, bun?" tanya Maimunah. Nenek Wati berusaha mengingat nya.


"Selama ini belum ada laki-laki, teman Sinta yang bermain ke rumah ini. Entahlah kalau mereka berkencan di luar." sahut nenek Wati. Maimunah menjadi khawatir.

__ADS_1


" Itu yang aku khawatirkan bun! Aku takut jika Sinta kebablasan kalau nanti sudah berpacaran. Apalagi gaya berpacaran anak muda sekarang ini." ucap Maimunah. Mukid pura-pura cuek tidak mendengar pembicaraan Maimunah bersama dengan nenek Wati.


" Jangan khawatir! Aku sangat percaya dengan Sinta, anak itu pasti bisa menjaga dirinya dan tidak akan bermacam-macam." sahut nenek Wati.


" Semoga saja yah, bun." ucap Maimunah.


" Bagaimana dengan kehamilan kamu? Tidak ada masalah yang serius kan?" tanya nenek Wati.


" Tidak ada, bun! Paling mudah capek saja, bun. Apalagi usia aku saat ini sudah berkepala empat. Aku merasa sudah cukup umur untuk hamil seperti ini." kata Maimunah.


" Mukid masih muda, tentu saja dia juga ingin memiliki anak dari kamu." sahut nenek Wati. Mukid tersenyum.


" Sebenarnya tidak saya paksakan, bun. Terserah jika Tuhan memberikan rejeki kepada kami, seorang bayi." kata Mukid.


" Maimunah mash sehat, kok Mukid. Maimunah masih bisa mengimbangi kamu yang masih sangat bersemangat." sindir nenek Wati. Mukid dan Maimunah tersenyum mendengar ucapan nenek Wati yang tersenyum ambigu.

__ADS_1


__ADS_2