
Aku Sinta. Setelah aku mengetahui bahwasanya calon ayah tiri ku adalah om Mukid, aku menjadi kacau hatiku. Terus terang aku menjadi ragu untuk meneruskan hubungan aku dengan om Mukid. Walaupun aku sudah terlanjur jatuh hati dan bahkan semua kehormatan serta mahkota ku sudah aku serahkan kepada om Mukid. Tidak ada penyesalan aku melakukan itu. Namun kenapa laki-laki yang aku cinta itu ternyata calon ayah aku. Kenapa mama dan aku mencintai laki-laki yang sama. Memang om Mukid sosok laki-laki yang pantas diperjuangkan. Selain dari segi fisiknya sangat sempurna, om Mukid sanggat bertanggungjawab. Om Mukid sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Walaupun saat itu aku tahu, om Mukid sudah memiliki kekasih dan akan segera menikah. Namun aku tidak pernah mengira jika wanita yang menjadi kekasih om Mukid adalah mama ku sendiri.
Aku ingin menjauh dari mereka. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan mama ku beserta laki-laki yang dicintai mama. Aku tidak ingin menyakiti mama jika akulah yang menggoda om Mukid supaya berkhianat dengan mama.
Setelah nanti mama dan om Mukid benar-benar menikah dan sah menjadi pasangan suami istri, aku akan memutuskan pindah dari kota ini. Aku akan tinggal di kota, dimana keluarga mama banyak tinggal di tempat itu. Aku akan memulai kehidupan baru dan belajar melupakan Mukid. Aku yakin waktu akan menyembuhkan segala keresahan hati dan kekecewaan ku.
Setelah aku pergi menjauh dari om Mukid, apakah ada rasa kehilangan dari laki-laki itu? Apakah om Mukid melakukan hubungan badan dengan aku lantaran aku menggoda dan mendesak om Mukid untuk melakukan itu kepada ku. Namun om Mukid sangat menyayangi aku. Aku tahu itu. Bahkan om Mukid juga membelikan aku satu set perhiasan yang harganya lebih mahal dibandingkan perhiasan yang dibelikan untuk mama aku. Saat mengetahui harga satu set perhiasan milikku lebih mahal dibandingkan milik mama ku, aku merasa tidak enak. Sungguh, aku benar-benar tidak enak dengan mama. Padahal mama lah yang akan dipilih oleh om Mukid untuk menjadi istrinya, bukan aku. Saat itu aku bingung, harus menerima satu set perhiasan dari om Mukid itu apa tidak. Akhirnya mama dengan bijaksana menyuruh aku untuk mengambilnya. Kini barang itu telah ditangan ku. Satu set perhiasan itu akan tetap ku simpan dan aku bawa nanti ketika di luar kota. Setidaknya ada kenang- kenangan dari om Mukid untuk aku. Selain kenangan manis yang om Mukid berikan untuk aku.
@@@@@@@
Satu hari sebelum ikrar suci itu dilaksanakan, di mana ijab kabul pernikahan antara mama dengan om Mukid diwujudkan. Aku nekat mengajak dan memaksa om Mukid untuk ketemuan. Aku ingin hari ini hari terakhir aku dengan om Mukid bertemu sebagai sepasang kekasih. Aku menghubungi om Mukid dan om Mukid tidak menolak keinginan berakhir aku sebelum aku benar-benar memutuskan hubungan percintaan dengan om Mukid. Karena besok setelah ijab kabul itu dilakukan, om Mukid akan menjadi ayah tiri ku dan suami untuk mama aku. Sebelum status mama berubah menjadi istri dari Om Mukid, aku ingin menghabiskan waktu bersama om Mukid sebagai kekasih, bukan ayah tiri.
Kini aku sudah menunggu di apartemen om Mukid. Katanya om Mukid sedang dalam perjalanan menuju apartemen setelah mengurus sesuatu yang kurang untuk besok acara pernikahannya dengan mama. Tentu semuanya telah di handle oleh panitia pernikahan. Namun bukan om Mukid kalau tidak memastikan semuanya sudah siap dan beres.
__ADS_1
Om Mukid datang dan masuk ke dalam apartemen nya, dimana aku sudah lama menunggu kedatangan nya. Om Mukid langsung memeluk aku dengan erat. Tentu saja aku menyambut nya lebih erat pelukan itu.
" Om Mukid, aku rindu.." lirihku. Om Mukid mengusap kepala ku.
" Kamu sudah makan, Sinta? Aku membelikan ayam bakar madu dengan sambalnya yang super pedas. Bukankah kamu suka sambal yang pedas?" ucap om Mukid seraya menunjukkan kantong plastik besar yang sudah diletakkan terlebih dahulu di atas meja sebelum memelukku.
" Aku tidak mau makan! Aku hanya mau om Mukid." sahut aku dengan manja. Kembali om Mukid membenamkan kepala ku di dada bidangnya. Puncak kepala ku di usapnya lembut.
" Kalau kamu sakit, aku akan menggagalkan pernikahan ini." ucap Om Mukid yang membuat aku menjadi terkejut.
" Tidak om! Aku tidak ingin mama kecewa dan bersedih karena gagal menikah. Om Mukid tidak boleh melakukan ini. Om Mukid harus tetap menikah dengan mama." sahut aku. Om Mukid kini mengecup lembut dahi ku lalu kini turun ke bibir ku. Ketika om Mukid melepas nya, aku tidak menghentikan nya. Kini aku mulai meraup bibir nya. Tanpa rasa malu aku mendorong tubuh om Mukid dan mencoba mengungkungnya. Aku tidak perduli lagi.
" Ijinkan aku melakukan nya sekali lagi, om! Sebelum aku benar-benar merelakan om Mukid menikah bersama mama. Dan sebelum om Mukid menjadi ayah tiri ku." ucapku.
__ADS_1
Om Mukid pasrah dengan perlakuan aku. Aku mulai menguasai dan mendominasi om Mukid. Malam ini aku benar-benar menikmati permainan ini bersama dengan om Mukid. Tanpa ada malu dan sungkan, aku membuat om Mukid menjelajahi surga dunia bersama. Sampai pukul dua belas malam, aku segera meninggalkan apartemen itu bersama om Mukid. Namun aku memilih pulang naik taksi. Tentu saja om Mukid tidak mengijinkan aku kembali ke rumah dengan naik taksi. Akhirnya om Mukid mengantarkan aku sampai di depan gang, lantaran aku khawatir jika mama akan melihat aku pulang diantar oleh om Mukid. Ini akan menimbulkan kecurigaan bagi mama.
Sesampainya di rumah tentu saja sudah banyak keluarga ku berkumpul. Karena besok adalah acara akad nikah pernikahan mama ku dengan om Mukid. Sudah jam dua belas lebih, keadaan rumah masih ramai. Saudara dan keluarga dari mama masih begadang dan mengobrol di ruangan tengah maupun depan teras. Bersyukur, aku minta turun di depan gang masuk rumah itu. Kalau tidak akan banyak pasang mata melihat aku turun di dalam mobil calon ayah tiri ku.
Aku langsung masuk ke kamar setelah menyapa keluarga besar ku. Aku merasa letih setelah pergumulan dengan om Mukid hari ini. Walaupun sedih, kecewa namun aku sudah puas bisa berjumpa dengan om Mukid di hari terakhir sebelum om Mukid menjadi ayah tiri ku.
@@@@@@@
Hari pernikahan mama dengan om Mukid telah tiba.
Hari ini adalah hari dimana hari mama aku akan melepaskan statusnya sebagai seorang janda beranak satu. Dan juga hari ini adalah hari di mana om Mukid melepaskan masa lajang nya. Senyuman terlihat jelas dari sudut bibir mama ku. Aku ikut bahagia melihat mama bahagia bersama laki-laki pilihan nya. Walaupun laki-laki itu adalah laki-laki yang sama yang aku cintai.
" Selamat tinggal om Mukid! Setelah ini aku akan menjauh dari kehidupan mama dan om Mukid. Titip mama om! Beri kebahagiaan untuk mama dan jangan sia- siakan kasih sayang mama terhadap om Mukid." gumam ku seraya menyeka air mataku.
__ADS_1