MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
ABORSI


__ADS_3

Teriknya mentari siang itu mengiringi dia gadis ke suatu tempat. Panasnya yang menyengat tidak diindahkan oleh keduanya. Masing-masing terdiam dalam kesibukan pikiran sendiri. Sinta mungkin saja ada ketakutan dan cemas menghantui pikiran nya kerena niatnya untuk menggugurkan kandungan nya yang masih terbilang tiga mingguan. Sinta takut lantaran seperti apa proses dukun bayi itu untuk kegiatan aborsi ilegal itu.


Berbeda dengan Ratna, dia cemas dan khawatir karena dosa. Dialah yang memberikan informasi tempat dukun bayi itu berada. Namun sebagai seorang teman dan bahkan sahabat, Ratna juga tidak ingin melihat Sinta dalam situasi yang sulit itu, dimana dirinya hamil dan mengandung anaknya tetapi tidak ada yang bertanggung jawab. Apalagi laki-laki yang telah membuatnya hamil sekarang ini adalah ayah tiri nya. Masalah yang dihadapi oleh Sinta benar-benar rumit.


Di atas satu motor matic itu mereka berboncengan. Hari ini Sinta sengaja tidak membawa motor matic nya dan membonceng Ratna dengan motor matic nya. Niatnya setelah kuliah dan ke tempat dukun bayi itu, Sinta akan kembali ke rumah Ratna. Hari ini dirinya akan meminta ijin nenek Wati untuk tidak pulang ke rumah kembali dengan alasan menemani Ratna di rumahnya yang mama papa nya sedang perjalanan bisnis ke negeri orang.


" Apakah masih jauh, tempat dukun bayi itu, Ratna?" tanya Sinta yang duduk di boncengan motor matic yang saat ini dikendarai oleh Ratna dengan kecepatan sedang.


" Sebentar lagi sampai!" sahut Ratna dengan suara keras. Motor matic itu mulai masuk ke sebuah permukiman penduduk yang padat. Motor matic itu masuk ke kampung yang asri dengan banyak rumah khas di desa itu.


Ratna menghentikan motor matic nya setelah masuk ke rumah yang halaman nya cukup luas dengan disekelilingnya berpagar pohon- pohon tinggi di sana. Rumah itu terlihat sepi, namun suasananya terlihat adem dan rindang lantaran di kelilingi oleh pohon- pohon tinggi seperti pohon kelapa, pohon mangga, pohon kedondong dan pohon jati di belakang rumahnya.


" Ini rumah dukun bayi itu! Semoga saja dia berada di rumah." kata Ratna menunjukkan rumah dengan pendopo yang cukup luas. Sinta masih berdiri mematung di dekat motor matic yang sudah diparkiran di halaman rumah itu. Rumah itu benar-benar sangat sepi. Belum terdengar ada tanda- tanda suara orang di dalam rumah kayu itu. Namun Ratna memberanikan dirinya untuk mendekati pintu utama rumah itu. Sinta mengikuti langkah Ratna yang mendekati pintu utama rumah itu. Ratna mulai mengetuk pintu rumah itu.


Tok


tok


tok


Ratna mengetuk beberapa kali pintu itu. Untuk beberapa saat belum ada sahutan. Ratna pun mengucapkan salam disertai mengetuk pintu rumah itu.Sinta dan Ratna saling pandang.


" Mungkin saja rumah ini kosong, penghuninya tidak ada." kata Sinta.

__ADS_1


" Kita coba lagi!" ucap Ratna. Kembali Ratna mengucapkan salam dan mengetuk pintu itu.


Tiba-tiba pintu utama itu dibuka oleh seorang wanita yang sudah paruh baya. Wajahnya datar tidak menunjukkan rasa tidak sukanya atas kedatangan Sinta dan juga Ratna.


" Nenek, maaf kami menganggu nenek." ucap Ratna dengan sopan.


" Masuk!" perintah nenek itu dengan datar. Tanpa banyak bicara lagi Sinta dan Ratna masuk ke dalam rumah itu dan mengikuti langkah Nenek itu. Mereka duduk di kursi kayu di dalam rumah nenek itu. Rumah nenek itu terasa sangat adem namun sedikit seram. Sinta merasakan sedikit takut dengan suasana di rumah nenek dukun bayi itu.


" Siapa yang berkepentingan?" tanya nenek itu tanpa basa- basi. Sinta seketika mengacungkan jari telunjuknya ke atas. Nenek itu menatap ke arah Sinta dengan tatapan tajam.


" Apa kamu sudah memikirkan semuanya baik- baik?" tanya nenek itu seolah-olah sudah tahu maksud kedatangan Sinta dan Ratna datang ke rumahnya.


" Sudah nek! Saya minta tolong nenek, ini sudah menjadi keputusan saya untuk... untuk... untuk menggugurkan kandungan saya ini." ucap Sinta.


" Sudah berapa bulan?" tanya nenek itu.


" Ikut aku ke dalam! Dan kamu tunggu saja di sini." perintah nenek itu. Sinta akhirnya mengikuti nenek itu masuk ke dalam kamar yang terlihat sangat tertutup. Sedangkan Ratna duduk menunggu dengan kecemasan yang luar biasa. Ratna tentu saja takut sekali dengan tindakan aborsi secara tradisional seperti itu. Ratna takut, jika Sinta akan merasakan sakit yang luar biasa dan dikhawatirkan akan mengalami pendarahan yang hebat.


Sesaat belum ada suara dari Sinta yang di dengar oleh Ratna dari dalam kamar itu. Hingga teriakan Sinta mulai terdengar keras menusuk telinga Ratna hingga ke jantung nya. Ratna benar-benar takut, Sinta seperti benar-benar sangat kesakitan akan tindakan itu. Sampai Ratna menutup telinga nya sendiri lantaran tidak kuat mendengar rasa rintihan dan teriakan sakit dari Sinta. Sampai beberapa lama suasana sudah kembali hening. Nenek itu tiba-tiba keluar dari dalam kamarnya. Namun nenek itu keluar sendiri tanpa Sinta.


" Nenek! Di mana teman saya nek?" tanya Ratna sangat panik. Nenek itu menyeduh kan minuman dan diberikan ke Ratna.


" Teman kamu masih di dalam kamar. Beri minum ini supaya tidak terjadi pendarahan terlalu lama." kata nenek itu.

__ADS_1


Tanpa banyak berbicara, Ratna segera masuk ke dalam kamar itu menemui Sinta. Ratna melihat Sinta masih terlihat memucat wajahnya.


" Sinta, kamu tidak apa- apa kan?" tanya Ratna sangat mengkhawatirkan keadaan Sinta yang terlihat tidak bertenaga.


" Tidak apa- apa Ratna! Sakit ini tidak akan lama. Ini lebih baik daripada aku harus mempertahankan bayi ini. Ini akan membuat masalah semakin rumit dalam kehidupan aku dengan mama." ucap Sinta lirih.


" Nenek menyuruhku untuk meminumkan ini kepada mu. Ini akan membantu kamu supaya tidak terlalu lama mengalami pendarahan." kata Ratna sambil meminumkan minuman itu pada Sinta. Sinta duduk dari Pembaringan nya.


" Ratna, terimakasih banyak kamu sudah membantu menyelesaikan masalah aku. Setelah ini aku berjanji tidak akan melakukan tindakan konyol lagi." kata Sinta. Ratna memeluk Sinta erat. Keduanya pecah dalam tangis nya.


" Kita pulang Ratna, aku sudah tidak apa- apa." ajak Sinta.


" Kamu yakin tidak apa- apa, Sinta?" tanya Ratna lagi.


" Iya, aku sudah mengenakan pembalut dan aku sudah tidak merasakan nyeri lagi." ucap Sinta.


" Syukur lah!" sahut Ratna.


Sinta dan Ratna keluar dari dalam kamar itu. Nenek itu sudah menyiapkan ramuan untuk Sinta.


" Minum ini sampai habis. Setelah ini jangan lagi ke rumah nenek dengan masalah yang sama." ucap nenek itu sambil memberikan jamu yang sudah siap. minum.


" Nenek, terimakasih banyak! Saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi." kata Sinta seraya mengambil tangan nenek itu lalu mencium punggung tangannya. Ratna mengambil amplop coklat dari dalam tas Sinta dan memberikannya kepada nenek itu.

__ADS_1


" Nenek, ini untuk nenek!" ucap Ratna setelah mereka permisi hendak meninggalkan rumah itu. Karena nenek itu tidak menerima amplop coklat yang diberikan oleh Ratna, Ratna membiarkan amplop coklat itu ia letakkan di meja ruangan itu. Keduanya pergi meninggalkan rumah kayu yang asri itu dengan pandangan lurus tanpa lagi menoleh ke belakang.


" Anak muda sekarang, selalu saja mengatasnamakan cinta untuk menyerahkan kehormatan nya. Setelah seperti ini, mereka baru bingung." gumam nenek itu seraya menatap kedua gadis itu yang sudah pergi meninggalkan rumahnya.


__ADS_2