MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
RUJAK BUAH


__ADS_3

"Radit, anak kita yang masih di dalam perutku sangat kuat! Aku sangat bersyukur kamu selalu mengajari anak kita supaya kuat. Pasti semua lantaran kamu sering mengguncang nya hampir setiap hari dan karena kamu sangat rajin menjenguknya," ucap Sinta. Sinta nyengir kuda menatap manja wajah suaminya.


Radit seketika tersenyum nakal sambil menarik hidung Sinta. Sinta sangat nakal kalau sudah seperti ini. Padahal sejak tadi Radit sudah sangat takut dan khawatir jika terjadi sesuatu dengan Sinta dan bayinya.


Sinta sempat membuat khawatir Radit lantaran Sinta tadi jatuh ketika hendak masuk ke dalam mobilnya. Radit kebingungan lantaran Sinta merasakan sakit di perut nya dan tiba-tiba Sinta melihat sedikit noda darah saat ke kamar mandi untuk membuang hajat kecilnya.


Karena takut terjadi apa-apa dengan kandungan Sinta, Radit segera memeriksakan nya ke dokter kandungan. Dan syukur lah tidak ada yang serius dengan bayi yang masih di dalam perut Sinta. Tentu saja Radit takut karena mengingat mama Mertuanya meninggal dunia lantaran saat melahirkan.


"Mas Radit sayang, aku boleh makan rujak serut enggak?" ucap Sinta yang kini sudah duduk mendekati Radit yang kini sudah berkutat dengan laptop nya. Radit kemudian menutup laptopnya dan mengusap lembut puncak kepala Sinta.


"Kamu mau rujak, sayang!" tanya Radit dengan lembut. Sinta mengangguk manja.


"Cium dulu di sini!" ucap Radit sambil menunjuk ke pipinya supaya Sinta mau menciumnya. Sinta mencium pipi Radit.


"Terimakasih sayang! Ya sudah kamu tunggu sebentar ya sayang! Aku akan membelikan rujak itu untuk kamu." ucap Radit sambil mengambil jaketnya dan mengambil kunci motor nya. Sinta mengikuti langkah Radit dari belakang menuju keluar pintu rumah mereka.


"Loh mas Radit! Kenapa naik. motor sih? Cuacanya panas begini loh! Nanti kamu jadi hitam loh!" ucap Sinta yang melihat Radit mulai menuntun motor nya dan kini menghidupkan nya. Radit tersenyum saja tidak terlalu menanggapi ucapan istrinya.


"Eh walah! Malah nyengir saja loh!" protes Sinta.

__ADS_1


"Sayang, pergi dulu yah! Oh, iya mau pedes atau sedang rujak serut nya?" tanya Radit sebelum melaju motor nya.


"Em pedes sama sedang!" sahut Sinta. Radit terkekeh saja mendengar jawaban dari istrinya yang minta dua-dua nya.


"Hati-hati di jalan sayang!" teriak Sinta sambil melambaikan tangannya ke arah Radit yang mulai menjalankan motornya dengan cepat.


"Suami aku paling siaga! Bersyukur aku memiliki suami seperti dia." gumam Sinta lalu segera masuk ke dalam rumahnya.


@@@@@@@


Radit menghentikan motornya di gerobak yang menjual rujak buah. Motor itu diparkiran nya di pinggir jalan lalu mulai duduk mendekati penjual rujak buah itu.


"Siap, mas! Duduk dulu mas!" ucap pedagang itu sambil menyuruh Radit untuk duduk menunggu terlebih dahulu. Sebelum Radit datang ada satu orang pembeli yang sudah menunggu pesanan rujaknya. Seorang wanita yang manis dengan rambut pendek. Wajahnya cukup familiar bagi Radit. Radit tersenyum saat wanita itu menyapa dirinya.


"Bang Radit yah? Aku Kinan, ingat gak?" ucap wanita manis itu sambil mengulurkan tangannya. Radit tersenyum dan menyambut ukuran tangannya.


"Ingat dong! Siapa yang tidak kenal dengan Kinan si primadona kampus almamater kita." sahut Radit seraya tersenyum ramah.


"Ah bang radit bisa saja! Hem, beli rujak juga yah? Suka rujak buah juga yah, bang?" tanya Kinan.

__ADS_1


"Untuk istri aku. Lagi pingin rujak." sahut Radit sambil terkekeh. Kinan menyipitkan matanya.


"Bang Radit sudah menikah? Alamak! Wah patah hati gue!" ucap Kinan nyengir kuda.


"Halah, patah hati! Bukannya situ sudah punya kekasih juga?" ujar Radit.


"Siapa? Eh tidak kok!" ucap Kinan. Radit tersenyum saja tidak menanggapi lagi ucapan Kinan yang bertanya-tanya banyak hal. Sampai penjual rujak buah itu memberikan plastik yang berisi beberapa porsi rujak yang dipesan oleh Kinan. Kinan memberikan uang satu lembar kertas seratus ribuan kepada penjual rujak buah itu.


"Ini kembalian nya mbak!" ucap penjual buah rujak itu. Kinan tersenyum saja namun menolak nya.


"Itu untuk membayar rujak yang dipesan oleh abang ini." ucap Kinan sambil berlalu dari tempat itu.


"Oke, deh! Aku duluan bang!" teriak Kinan.


"Eh, ngapain juga aku ditraktir cewek itu!" ucap Radit yang bisa didengar oleh penjual rujak tersebut.


"Itu namanya rejeki, mas!" sahut penjual rujak itu sambil tersenyum.


"Mungkin saja rejeki anak aku yang masih di dalam perut istriku, mas." ujar Radit tersenyum. Rasanya sudah tidak sabar ingin menjadi seorang ayah dan menggendong bayi. mungil yang masih di dalam perut Sinta.

__ADS_1


__ADS_2