
Mata kuliah pagi itu telah usai, kini Sinta dan Ratna serta semua mahasiswa yang mengikuti mata kuliah di ruangan itu berhamburan keluar dari sana. Mereka ada yang langsung mengikuti mata kuliah berikut nya dan ada yang menyerbu ke kantin di dekat kampus untuk sekedar makan maupun minum. Sinta dan Ratna pun meluncur di kafe favorit nya yang terletak di depan fakultas. Kedua gadis itu mulai rehat sejenak sembari minum dan makan di sana. Apalagi Sinta yang tadi pagi hanya sedikit sarapan nya, dengan semangat menyantap makanan yang sudah dipesannya dan kini sudah berada di depannya. Ratna memperhatikan Sinta dengan tatapan heran.
" Kamu seperti tidak makan selama beberapa hari." ucap Ratna yang memperhatikan Sinta yang begitu lahap menyantap makanan nya.
" Ini lebih baik daripada aku tidak doyan makan bukan?" sahut Sinta.
" Benar! Sedikit naikkan berat badan kamu, Sinta! Jangan terlalu kurus!" kata Ratna.
" Oke aku akan mengikuti saran kamu." sahut Sinta.
" Oh, iya Sinta! Sore ini ada undangan dari kantor cabang Himpunan mahasiswa." kata Ratna.
" Undangan apa rupanya? Kita baru kemarin dilantik menjadi anggota masak mau dijadikan pengurus." sahut Sinta.
" Ini bukan pembentukan pengurus, namun ini undangan kegiatan di kantor cabang kajian wanita." terang Ratna.
" Oh, siapa yang mengisi materi?" tanya Sinta.
" Bang Radit!" jawab Ratna singkat. Sinta mendengus kesal jika mendengar nama itu.
" Ada apa? Kamu masih dendam dengan bang Radit?" tanya Ratna.
" Tidak juga! Tapi malas saja! Aku pulang aja, lain kali saja ikut kegiatan di kantor cabang." sahut Sinta.
" Baiklah, kalau kamu tidak mau datang." kata Ratna.
__ADS_1
@@@@@@@
Setelah mata kuliah hari itu dilalui oleh Sinta, Sinta kembali pulang ke rumah. Sinta memilih cepat pulang dan tidak mengikuti kegiatan kemahasiswaan maupun sekedar main bersama dengan Ratna. Rasa lelah pikiran nya semakin menambah capek nadanya. Sinta akhirnya menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidurnya. Namun sebelum dirinya hendak memejamkan matanya, ketukan pintu kamarnya terdengar. Ditambah suara memanggil namanya. Nenek Wati mencarinya saat ini. Sinta dengan malas akhirnya membukakan pintu kamarnya juga.
" Nenek Wati, ada apa nenek mencari ku? Ehm, masuk dulu nek!" kata Sinta. Nenek masuk ke dalam kamar Sinta dengan ekspresi datar.
" Kamu sedang apa?" tanya nenek sambil duduk di sofa panjang di kamar itu.
" Aku tidak melakukan apa- apa, nek. Hanya berbaring melemaskan badan. Badanku pegal dan rasanya capek banget." keluh Sinta.
" Oh ya sudah! Nenek panggilkan mbok Darmi saja yah untuk memijat tubuh kamu." tawar nenek Wati.
" Tidak usah nek! Sepertinya aku hanya kurang tidur saja nek. Aku lebih baik istirahat dan tidur saja." sahut Sinta.
" Sinta, apakah nenek boleh bertanya kepada mu?" tanya nenek Wati. Sinta mengernyitkan dahinya.
" Nenek kenapa bertanya seperti itu, silahkan saja nek! Selagi aku bisa menjawabnya, aku akan menjelaskan kepada nenek, semua yang ingin tahu dari aku." sahut Sinta.
" Benar yah? Kamu jangan sakit hati dan tersinggung jika nenek ingin tahu sedetail mungkin." kata nenek Wati.
" Apa sih yang mau nenek tanyakan?" tanya Sinta sambil memeluk nenek Wati manja.
" Apakah kamu sudah memiliki pacar?" tanya nenek Wati. Spontan saja Sinta menjadi cekikikan.
" Aku pikir nenek akan bertanya apaan, aku sampai hampir saja ketakutan dan khawatir. Untuk saat ini aku belum punya pacar nek. Sepertinya perlu banyak pertimbangan dan penilaian untuk melihat laki-laki itu memiliki tanggungjawab yang besar kepada wanitanya atau tidak. Bukan sekedar hanya berdasarkan perasaan dan cinta doang." kata Sinta.
__ADS_1
" Benar, kamu sudah cukup dewasa untuk bisa menentukan pilihan yang menurut kamu baik. Tetapi perlu juga diingat, memilih pasangan dan pendamping hidup itu juga mudah- mudah gampang. Namun kamu harus selalu perhatikan bibit, bobot, bebet." sahut nenek Wati.
" Iya nek!" kata Sinta.
" Sebenarnya kalau aku pribadi yang pertama aku mencintai nya dulu nek." tambah Sinta.
" Itu yang menyebabkan diri kamu menjadi terobsesi mengejar laki-laki yang kamu cintai itu tanpa memperhatikan yang lainnya?" sahut nenek.
" Mungkin seperti itu nek! Pada akhirnya kami putus dan jauh." kata Sinta.
" Nenek tidak ingin melarang kamu berhubungan dengan laki-laki mana pun. Namun kamu harus mengingat, kamu jangan menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain. Apalagi hubungan mereka sudah berumah tangga. Kamu jangan menjadi wanita perusak rumah tangga orang. Walaupun kamu sangat mencintai laki-laki yang sudah beristri tersebut. Di dunia ini banyak laki-laki tampan, mapan, mandiri dan juga penyayang. Kamu bisa memilih dan mendapatkan laki-laki yang menyayangi kamu dengan tulus. Mencintai kamu tanpa dibagi- bagi dengan yang lain." kata nenek Wati panjang lebar.
" Nenek, untuk sementara ini aku belum ingin menjalin hubungan dengan laki-laki lebih dari teman, nek." ucap Sinta.
" Kenapa? Apakah kamu sudah pernah patah hati?" tuduh Nenek Wati.
" Mungkin itu salah satunya. Dan yang kedua lantaran belum ketemu laki-laki yang mencintai aku juga nek." sahut Sinta dengan terkekeh.
" Siapapun laki-laki yang akan menjadi pilihan kamu, yang penting jangan suami orang ataupun kekasih orang. Oke?" kata nenek lagi menegaskan.
" Baik nenek Wati yang cantik." sahut Sinta. Nenek Wati, tersenyum kecil mendengar Sinta bilang masih cantik.
" Sinta, bagaimana kalau kita turun dan bikin salad buah. Sudah ashar, kamu jangan tidur." ajak nenek Wati.
"Ayo kalau begitu, nek!" kata Sinta bersemangat.
__ADS_1