MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
AYAH BARU


__ADS_3

Setelah pertemuan di alun-alun itu, Mukid semakin dekat dan lebih intens datang ke rumah Sinta. Bana pun mulai akrab dengan Mukid. Panggilan om ganteng bagi Mukid sudah terdengar sangat sering di telinga. Nenek Wati yang memperhatikan semakin hari kedekatan diantara mereka mulai mempertanyakan kepada Sinta. Nenek Wati tidak menginginkan sesuatu yang terjadi dahulu terulang kembali. Benar! Perbuatan yang seharusnya tidak boleh dilakukan mereka saat dulu sebelum mereka sah dan halal sebagai pasangan suami istri.


Di kamar Bana, Sinta menemani Bana. Pembicaraan antara ibu dan anak itu terdengar lucu jika didengar.


"Apakah mommy mau menikah lagi dengan om ganteng mukit?" tanya Bana yang membuat kedua mata Sinta melotot dengan sempurna.


"Tidak! Mommy tidak akan menikah lagi sampai kapanpun. Mommy tetap setiap dengan ayah Radit," ucap Sinta.


"Ayah Radit sudah mendapatkan bidadari yang lebih cantik di surga, mommy. Mommy di sini untuk apa lagi setia dengan ayah Radit? Ayah Radit sudah sangat bahagia terbebas dari omelan mommy. Lebih baik mommy mencari ayah baru lagi buat aku dan mommy bisa setiap hari tes vokal teriak-teriak dan ngomel dengan aku dan ayah baru," kata Bana. Sinta menyipitkan matanya.


Betapa ucapan Bana membuat Sinta semakin gila.

__ADS_1


"Pokoknya mommy gak mau menikah lagi! Mommy tetap sendiri saja sampai nanti ayah Radit menjemput mommy," sahut Sinta. Kini Bana mulai menangis dengan keras. Dia kembali berakting supaya mommy nya luluh dan mau mencari ayah baru untuk Bana.


"Hiks... hiks... hiks.. hiks.. mommy jahat! Pokoknya aku mau ayah baru. Mommy harus menikah lagi. Aku mau ayah yang bisa mengajakku jalan-jalan dan naik sepeda besama. Mommy harus mencari suami lagi. Biar mommy tidak jatuh lagi kalau naik motor sendiri, hiks.. hiks.. hiks," kata Bana. Sinta mendelik matanya. Ucapan Bana semakin menjadi ngelantur.


Ketukan pintu kamar mereka terdengar. Suara nenek Wati pun ikut masuk di sana. Handle pintu kamar itupun dibuka oleh nenek Wati. Nenek Wati melongo saat melihat Bana menangis keras dan meminta ayah baru.


"Ada apa sih, sayang!" tanya nenek Wati.


"Memangnya ayah baru bisa di beli di toko?" sahut Sinta akhirnya geram. Bana semakin keras nangisnya.


"Sinta! Bana benar! Kamu sudah boleh menikah kembali kok," ucap nenek Wati. Bana ada senyum di sudut bibirnya. Nenek buyutnya sudah membela dirinya dan menyuruh Sinta juga untuk menikah.

__ADS_1


"Memangnya nyari suami seperti nyari kacang di pasar? Nenek sama anak sama saja! Sukanya menyuruh aku untuk menikah. Mana ada laki-laki yang mau dengan seorang janda?" ucap Sinta.


"Ada!" sahut Bana dengan nenek Wati bersamaan. Sinta menjadi melihat nenek Wati dan Bana secara bergantian.


"Benar-benar kompak nenek dengan cucunya," kata Sinta.


"Lalu siapa yang mau dengan mommy, hem?" imbuh Sinta sebenarnya enggan menanggapi mereka.


"Om Mukit!" kembali nenek Wati dengan Bana menyebutkan nama yang sama. Sinta melebar matanya dengan sempurna melihat nenek Wati dengan Bana secara bergantian.


"Apa?" sahut Sinta. Sinta menyembunyikan wajahnya lantaran tidak ingin diketahui oleh nenek Wati dan Bana kalau saat ini Sinta tiba-tiba merona wajahnya jika kembali teringat dengan Mukid.

__ADS_1


Bana dengan nenek Wati saling pandang dan pada akhirnya tersenyum lebar ketika melihat Sinta terdiam ketika mendengar nama Mukid disebutkan.


__ADS_2