MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
AKTIVITAS BARU


__ADS_3

Ratna mengantarkan Sinta kembali ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Ratna juga bercerita tentang pak Chandra. Seperti nya Ratna memang diam- diam menaruh hati dengan dosen mudanya itu. Sinta yang mendengar nya menjadi tersenyum dan cekikikan saja. Ratna sangat polos dengan urusan cinta walaupun dalam cerita nya dirinya pernah berpacaran.


Setiba nya di rumah nenek, Sinta mengajak Ratna masuk ke dalam rumah. Namun Ratna menolak nya. Ratna langsung kembali pulang.


" Lain kali saja, Sinta! Weekend aku pasti akan mengajak kamu jalan deh." janji Ratna.


" Benar yah?" tanya Sinta memastikan.


" Iya, ngomong- omong rumah nenek kamu keren dan seperti istana. Aku pasti akan sering bermain di sini." janji Ratna seraya tersenyum lalu meninggalkan Sinta.


" Siapa? Teman baru kamu yah?" tanya nenek Wati yang tiba-tiba datang menghampiri Sinta. Sinta memeluk nenek Wati dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


" Sepertinya sangat senang sudah punya teman baru di kota ini." goda nenek Wati.


" Senang nek! Oh iya nek, nenek tahu sayur rawon?" tanya Sinta.

__ADS_1


" Tahu dong! Itu menu khas Jawa Timur." jawab nenek Wati.


" Kata Ratna, sayur Rawon itu sangat enak. Aku mau cobain nek." kata Sinta.


" Tentu, besok nenek akan masakin buat kamu. Atau kalau kamu mau malam ini biar PaK Daliman membelikan rawon itu di warung langganan nenek. Di sana juga enak masakan nya kok. Kamu pasti menyukai nya." ucap nenek Wati.


" Tidak perlu nek! Biar aku nanti mencicipi sayur rawon itu dari masakan nenek Wati saja." kata Sinta.


" Baiklah, ya sudah sana kamu segera mandi! Setelah itu habis magrib kita makan malam bersama. Nenek buat sup buntut." ujar nenek Wati.


" Nenek tidak buat perkedel. Nenek buat babad goreng saja kok. Tetapi sambal terasi tetap nenek buat untuk kamu." jelas nenek Wati.


" Terimakasih nenek! Aku ke kamar dulu dan bersih- bersih badan. Bau asem." kata Sinta seraya mencium bau badannya sendiri. Nenek Wati tersenyum melihat tingkah cucunya.


@@@@@@

__ADS_1


Sinta menjatuhkan tubuh nya di atas tempat tidur nya. Setelah makan malam bersama dengan neneknya dirinya kembali ke kamar nya. Seharian ini dirinya cukup lelah memulai aktivitas nya di kota baru yaitu kota Malang. Selain kuliah, dirinya ingin juga bekerja membantu usaha milik neneknya yang saat ini di kelola oleh saudara- saudara mama nya, yaitu kakak serta adik mama. Namun neneknya belum kasih ijin jika Sinta ikut mengelola di perusahaan milik keluarga mama nya itu. Namun atas desakan Sinta, mungkin saja nenek Wati akan kasih kesempatan bagi Sinta untuk ikut serta mengembangkan bisnis keluarga nya itu walaupun waktu nya di sisa kuliahnya.


" Aku bisa sesekali datang ke kantor itu. Setidaknya sementara waktu biar aku sedikit- sedikit paham bagaimana dunia bisnis itu seperti apa." gumam Sinta.


" Tapi jadwal kuliahku semester ini sangat padat, apakah aku bisa membagi waktu?" pikir Sinta.


" Benar juga apa kata nenek. Aku seharusnya fokus saja dengan kuliah ku sampai aku wisuda." gumam Sinta.


Sinta menatap langit- langit kamarnya. Pikiran nya menerawang jauh. Kini Sinta membuka ponsel nya dan Men scroll ponsel itu. Dirinya membuka kembali galeri di ponselnya. Penglihatan nya kembali melihat Mukid di sana. Saat ini Sinta sangat kangen dengan pria itu. Pria yang kini sudah tidak bisa di jangkauannya. Pria yang kini sudah menjadi ayah tirinya.


Sinta mulai menghapus foto Mukid di galeri nya. Sinta ingin menghapus kenangan manisnya bersama laki-laki itu.


" Semoga waktu akan menyembuhkan semua luka ini. Semoga waktu akan menghapus rasa cinta ini terhadap om Mukid." gumam Sinta seraya meletakkan ponselnya di sebelah bantalnya.


Sinta mulai memejamkan matanya. Besok pagi, dirinya akan kembali menjalani rutinitas nya di kampus. Menjadi mahasiswa yang baik dan mengikuti semua jadwal mata kuliah yang telah diambil.

__ADS_1


" Uhuy, besok aku akan naik motor matic baruku, pemberian dari nenek Wati." kata Sinta seraya membayangkan naik motor matic nya. Sejak kecelakaan dari motor matic waktu itu, Sinta sudah lama sekali tidak naik motor lagi. Sinta merindukan saat-saat mengendarai motor membelah jalanan.


__ADS_2