MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
LARI PAGI


__ADS_3

Pagi hari di minggu pagi yang cerah. Sinta bersama dengan Ratna di alun-alun kota malang. Sengaja Sinta tidak mengajak Bana, putra nya bersama dirinya pagi itu. Sinta telah membiarkan Bana bersama nenek buyut nya di rumah.


Sinta sudah berlari kecil dengan mengenakan sepatu spot nya. Sinta masih mengelilingi alun- alun kota sendirian. Sedangkan Ratna sudah duduk nongkrong di stand gerobak bubur ayam itu. Sinta berlarian kecil di alun-alun itu sesekali melakukan gerakan perenggangan dan pemanasan.


Sengaja di pagi itu, Sinta ingin berolahraga kecil. Selain pagi itu cuacanya masih sejuk dan segar, Sinta ingin mencari makan bubur ayam. Sudah lama Sinta tidak makan bubur ayam, apalagi bubur yang di jual oleh pedagang di kota Malang. Apakah rasa bubur ayam serta kaldunya juga tidak jauh berbeda dengan apa yang ia makan dan dibeli ketika di Jakarta. Terkadang beda tempat akan beda penyajian, variasi dan juga rasa. Apalagi makanan yang berjenis bakso pun ada beda penyajian kalau sudah di kota Malang. Namun bakso yang berjenis bakso Wonogiri atau solo memiliki hampir kesamaan rasa dan juga penyajian.


Sinta memarkirkan motor matic nya,tidak jauh dari dirinya berlari. Di sana ada beberapa gerobak yang menjajakan beberapa jenis makanan. Di sana lah Ratna sedang menikmati bubur ayam tersebut sambil menatapnya dengan senyuman meledek. Sinta mendatangi gerobak bubur ayam itu dan mulai memesan bubur ayam itu. Sembari menunggu pesanan buburnya disajikan oleh pedagang nya, Sinta membuka layar ponselnya. Di sana ada pesan chat dari Mukit.


📱📲 "Di mana kamu?" pesan chat Mukit.


📱📲 "Di bawah langit! Di atas bumi," jawab Sinta melalui pesan chat di aplikasi WA nya. Sinta tersenyum menulis jawaban itu.


📱📲 "Aku di depan rumah nenek Wati, sekarang ini. Kamu keluarlah! 🙄"


📱📲 "Apa? Tapi aku sedang di luar mas? Ngapain ke rumah? Mau apa? Aku kira kamu sudah balik ke Jakarta, mas. 🤭" tulis Sinta.


📱📲 "Masih di Malang! Kayaknya aku akan tinggal di kota Malang sementara waktu. Dan mungkin saja bisa lama," pesan chat Mukit.


📱📲 "Kenapa? Sudah tidak diterima menjadi warga penduduk di kota sana yah?" balas pesan chat Sinta.


📱📲 "Bukan! Mau nyari calon istri di kota Malang ini," pesan chat Mukit.


📱📲 "😜😜🙄" Sinta.

__ADS_1


📱📲 "Di sini sudah ada anak cabang perusahaan ku yang harus aku urus terlebih dahulu di sini. Semoga bisa berkembang lebih maju di kota Malang ini," balas pesan chat Mukit.


📱📲 "Baiklah! Aku doakan supaya sukses segala bisnis kamu di kota Malang ini. Oh iya, Bana di rumah dengan nenek. Kamu masuk saja, mas! Aku masih di alun-alun kota Malang bersama dengan Ratna sahabat ku. Mungkin bisa dua jam lagi baru kembali pulang," tulis Sinta melalui pesan chat nya.


📱📲 "What?? 🙄🙄 Dua jam? Ngapain kamu?😓😓😢" balas Mukit.


📱📲 "Usaha nyari ayah sambung Bana! 😜" tulis chat Sinta.


📱📲 "😍😍 baik aku akan menyusul kamu di tempat itu!" balas pesan chat Mukit.


Sinta tidak sadar dari tadi tersenyum sendiri. Ratna sedari tadi memperhatikan dirinya yang bermain dengan handphone nya sambil tersenyum-senyum.


"Di makan bubur ayam nya, Sinta! Keburu dingin loh!" kata Ratna. Sinta segera memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


"Di rumah kamu yah? Siang ini pak Chandra akan datang ke rumah aku, Sinta," terang Ratna. Setelah Ratna dan juga Sinta lulus dan di wisuda di kampus nya, Ratna semakin dekat dengan dosen muda itu. Ratna kini sudah bekerja di perusahaan asing di kota Malang itu. Dengan Pak Candra, Ratna akhirnya menjalin hubungan spesial dengan dosen muda itu. Namun untuk keseriusannya ke jenjang pernikahan masih belum mereka bicarakan.


"Baiklah! Aku tidak akan menggangu acara kamu bersama abang Candra mu itu," sahut Sinta.


"Tapi aku nanti bisa kok mengajak Candra ke rumah kamu. Setelah itu kita nonton film ramai-ramai di studio XXI," ucap Ratna.


"Nonton? Lihat nanti saja deh, Ratna! Lagi pula kalau aku mengajak Bana, tidak mungkin kan lihat film kiss-kiss gitu?" kata Sinta.


"Benar juga yah! Lihat film kalau dengan pacar itu film nya harus yang ada kiss-kiss nya. Kalau film Doraemon mana asyiknya, yah kan?" sahut Ratna. Sinta mengusap dahinya sendiri mendengar ucapan Ratna.

__ADS_1


Sementara itu Mukit sudah tiba di alun-alun kota itu. Mukit mulai mencari-cari keberadaan Sinta. Mukit mulai berjalan mengitari alun-alun itu. Kini matanya tertuju pada deretan gerobak-gerobak yang ada di tepian alun-alun. Banyak jajanan yang beraneka ragam di jual di sana. Dalam pikiran Mukit siapa tahu di sana ada orang yang saat ini dicarinya sedang duduk dan menikmati jajanan atau sarapan di pagi ini.


Mukit tersenyum ketika melihat seorang wanita yang dicarinya saat ini. Dia sedang menikmati makanan nya. Sambil tersenyum dan berbincang-bincang dengan teman di sebelah nya. Mukit semakin mendekat ke arah itu. Setiba nya di sana, Mukit tiba-tiba duduk di depan Sinta dan juga Ratna yang sedari tadi asyik mengobrol.


"Bubur ayamnya dua pak! Dan kalau ada minum nya teh panas manis dua juga, pak!" kata Mukit kepada pedagang bubur ayam itu. Lalu duduk di depan Sinta dan juga Ratna. Sinta melongo dan akhirnya tersenyum melihat kedatangan Mukit di sana. Sedangkan Ratna menatap Sinta dan Mukit secara bergantian.


"Aku pikir kamu bercanda menyusul ku di sini,mas!" ucap Sinta masih berusaha menghabiskan bubur ayam dengan porsinya yang besar.


"Aku tidak akan sabar menunggu kamu di depan gerbang rumah kamu selama dua jam, Sinta! Aku lebih baik menyusul kamu di sini. Oh iya aku pesankan satu bubur ayam lagi, kamu tambah yah!" kata Mukit. Sinta membulat sempurna.


"Kamu lihat sendiri kan mas! Ini bubur di mangkok aku saja belum juga habis. Oh iya ini kenalkan teman aku, namanya Ratna! Ratna ini mas Mukit dari Jakarta sementara waktu akan tinggal di Malang karena dalam rangka mencari calon istri," kata Sinta. Keduanya saling bersalaman. Ratna terkekeh dengan ucapan Sinta.


"Mukit? Mantan kamu itu yah? Ayah tiri kamu dulu?" bisik Ratna sambil mendekati Sinta. Mukit masih mendengar Ratna membisikkan itu ke telinga Sinta. Sontak Sinta melebar matanya dengan sempurna. Lalu menatap Mukit dengan rona wajah yang memerah.


"Eh?? Ratna!" sahut Sinta lirih. Kini Mukit mengedipkan matanya kepada Sinta lalu tersenyum menatap wajah Sinta yang memerah. Namun tiba-tiba pedagang bubur ayam itu mendekat seraya mengantarkan pesanan bubur ayam beserta minuman yang dipesankan oleh Mukit.


"Ini pak bubur ayam nya!" kata pedagang bubur ayam itu seraya meletakkan bubur ayam dan minuman nya.


"Terimakasih banyak pak!" sahut Mukit lalu mulai memakan bubur ayam itu sembari tersenyum menatap Sinta yang tiba-tiba menjadi canggung.


"Aku makan bubur ayam nya dulu yah!" ucap Mukit. Sinta dan Ratna saling pandang lalu ikut tersenyum kepada Mukit.


"Silahkan dinikmati!" sahut Ratna.

__ADS_1


__ADS_2