
Radit dan Sinta masih terpejam matanya. Mereka masih terbuai dalam alam mimpinya setelah semalam melakukan sesuatu yang sebenarnya belum boleh mereka lakukan. Namun lantaran cinta lah yang membuat mereka ingin melakukan nya. Dengan dalih membuktikan cinta mereka, keduanya melakukan dosa. Wanita itu kini terbenam dalam dekapan laki-laki yang sudah beberapa bulan ini dekat dengan dirinya. Laki-laki itulah yang memberikan warna di kota tempat tinggalnya sekarang.
Sinta kini membuka matanya. Dirinya sedikit terkejut akan posisi nya saat ini yang di dekap laki-laki begitu erat. Laki-laki itu adalah pria yang saat ini sudah memberikan warna indah setelah patah hatinya dengan om Mukid. Tangan Radit itu memeluk tubuh Sinta seolah memberikan kehangatan setelah usai melakukan pertempuran semalam. Pelan- pelan Sinta melepaskan tangan yang memeluk dirinya. Sinta mulai menyingkapkan selimut nya dan mulai berjalan ke kamar mandi sambil menyerobot handuk besarnya karena saat ini dirinya benar-benar masih polos sama dengan laki-laki yang masih tidur dengan pulas nya. Sinta merasakan sedikit nyeri di daerah kewanitaan nya karena sudah cukup lama dirinya tidak melakukan hubungan intim itu setelah terakhir kali dengan om Mukid. Walaupun sudah tidak perawan, Sinta sudah melakukan perawatan dan minum jamu untuk mengembalikan otot-otot kewanitaan nya. Apalagi setelah dirinya melakukan aborsi itu. Namun itulah yang sebenarnya kalau dirinya sudah tidak perawan lagi. Namun Sinta sudah tidak perduli lagi. Yang terpenting di hati Sinta sudah lega karena telah menyampaikan rahasia terbesar dalam hidupnya dengan Radit. Apalagi Radit telah berjanji akan tetap menikahi dirinya. Tanpa di sadari, Sinta menikmati pergulatan panjang yang mengeluarkan peluh dan keringat itu. Dirinya memang mengagumi dan terpesona dengan laki-laki yang kharismatik dan bertanggung jawab itu.
Sinta mulai mandi di bawah shower kamar mandi itu. Hari ini dia akan memulai membuka lembaran baru. Berusaha melupakan semua yang pernah membuatnya kecewa. Karena semua adalah takdir yang harus ia jalani ketika harus memulai hidup dan jika Laki-laki itu akan benar-benar menikahi nya itu adalah suatu keberuntungan nya. Karena dia menerima Sinta dengan masa lalunya. Mau tidak mau, suka tidak suka, Sinta harus menjalani semua. Toh dirinya sudah mulai mencintai Radit walaupun sosok Om Mukid masih sering mengganggu nya.
__ADS_1
Setelah membersihkan dirinya, Sinta keluar dari kamar mandi itu masih berbalut kan handuk besarnya. Radit sudah membuka matanya dan melemparkan senyuman nya kepada Sinta.
" Kamu sudah mandi?" tanya Radit lalu turun dari kasurnya dan mendekati Sinta.
" Aku sudah mandi, Radit!" kata Sinta pelan. Radit tersenyum malah mulai mendekati leher Sinta yang wangi dan segar karena sabun. Radita mulai mencium leher Sinta dan menyesapnya begitu lama di sana hingga meninggalkan tanda cinta di sana. Sinta sesaat memejamkan mata dan mulai badannya kembali memanas.
__ADS_1
" Sinta, Sinta sayang!" bisik Radit mulai meraup bibir seksi Sinta. Sinta mulai membalas ciuman yang kembali membuat Sinta memanas aliran darahnya.
" Lakukan semuanya untuk aku, sayang!" bisik Radit lagi. Sinta mulai mendominasi permainan. Dengan terampil dan lihainya Sinta mulai menunjukkan kepiawaian nya. Radit seperti cacing kepanasan. Baginya Sinta saat ini adalah candu. Radit menjadi lupa makan jika belum melakukan itu hari ini.
" Radit! Radit.." ucap Sinta dengan suara serak.
__ADS_1
" Iya, sayang! Lakukan semuanya untuk aku. Aku adalah kekasih kamu dan calon suami kamu, sayang." sahut Radit menyakinkan Sinta.
Seolah seperti pengantin baru keduanya akhirnya terbenam dalam lautan asmara yang tidak ingin di ganggu oleh sinar mentari yang mulai tinggi. Hingga permainan itu terjadi cukup beberapa lama dan mereka sama- sama terkulai lemah. Radit kembali merengkuh Sinta dalam pelukan nya.