
Di sebuah butik, Sinta telah mencoba kebaya yang sengaja dipilihkan oleh mama nya, Maimunah. Kebaya yang dipilih Maimunah berwarna putih dengan motif bordir biru. Saat ini terlihat Sinta telah memakai kebaya itu. Terlihat desainer itu telah fokus memasangkan pernak-pernik dan aksesoris yang pas untuk Sinta, baik di bagian rambut dan juga bros di kebaya itu.
"Bagaimana non, suka tidak? Ini terlihat sangat elegan dan mewah. Sangat cocok dan pas di badan dan kulit kamu. Kamu terlihat bersinar dan cantik jika memakai kebaya ini." ucap desainer kebaya itu yang bernama Nita. Sinta tersenyum mendengar pujian itu.
"Iya, aku suka sekali modelnya! Mama paling pinter memilihkan untuk aku." sahut Sinta. Tidak berapa lama Mukid masuk ke ruangan itu.
"Sinta, kamu sudah siap belum? Mama kamu menunggu di depan. Dia sudah kecapekan." kata Mukid. Desainer itu menatap ke arah Mukid dengan pandangan terpesona lantaran ketampanan Mukid.
"Eh, iya! Ini sudah selesai kok." sahut Sinta. Desainer itu tersenyum melihat hasil karya nya yang sangat cocok dan hidup ketika dipakai oleh Sinta.
"Abang ini calon suaminya nona Sinta yah? Wah pasangan yang sangat serasi! Yang wanita cantik dan yang pria tampan serta gagah. Sangat cocok dengan Couple-an dengan jas pria nya. Tadi sudah di ambil semua oleh Maimunah kok." ucap desainer tersenyum sembari melihat kearah Sinta dan Mukid secara bergantian. Mukid dan Sinta saling berpandangan. Mukid atau Sinta ingin menjelaskan kalau anggapan desainer itu salah.
"Sebentar yah bang, non Sinta nya ganti pakaian dulu." kata desainer itu. Mukid hanya berdiri mematung melihat Sinta dengan mengenakan kebaya menjadi semakin cantik.
"Sinta, aku di luar menemani mama kamu dulu yah! Aku akan menyuruh Radit menemani kamu." ucap Mukid.
"Eh, em iya!" sahut Sinta menjadi gugup.
__ADS_1
Sinta mulai berganti pakaian sedangkan desainer itu sudah mulai sibuk membungkus jas pria dan juga kebaya yang telah dipesan serta dibeli oleh Maimunah.
"Dulu memang aku berharap kamulah jodoh aku. Kamulah suami aku. Namun ternyata perjalanan cerita kita cinta dan kehidupan kita terlalu rumit jika aku harus memperjuangkan kamu untuk menjadi suami aku. Sekarang Radit lah masa depan aku. Radit lah yang akan menggantikan peran itu sebagai arjuna cinta ku." batin Sinta.
"Sayang! Kamu sudah selesai belum? Mama dan ayah sudah menunggu kita di dalam mobil. Ayo!" kata Radit yang tiba-tiba datang mendekati Sinta. Sinta sudah membawa paper bag yang berisi setelan jas pria dan juga kebaya wanita.
"Sudah! Ini kebaya dan juga setelan jas dari mama. Tadi kelamaan fitting kebaya nya." ucap Sinta.
"Tidak apa-apa! Mama kamu tidak bisa terlalu capek." kata Radit.
"Iya, aku tahu!" sahut Sinta. Sinta dan Radit masuk kembali ke dalam mobil Mukid. Radit membukakan pintu mobil itu untuk Sinta. Perhatian kecil itu sesaat diperhatikan oleh Maimunah dan Mukid.
"Bagaimana, kebaya dan jas pilihan mama?" tanya Maimunah.
"Keren dan bagus banget kok, ma! Benarkan Radit?" ucap Sinta.
"Iya, ma! Kok bisa pas dengan ukuran tubuh kami sih, ma?" tanya Radit. Maimunah tersenyum saja.
__ADS_1
"Itu karena kalian proposional, tidak gemuk dan tidak terlalu kurus." sahut mama Maimunah.
"Ayo kita sekarang mau kemana lagi?" tanya Mukid.
"Ke warung soto betawi!" jawab Maimunah dengan Sinta bersamaan. Radit dan juga Mukid terkekeh mendengar jawaban antara mama dan anak sama.
Maimunah dan juga Sinta jadi ikut tertawa.
"Ayah tirinya Sinta ini seperti lain dengan Sinta. Apakah mereka dahulu pernah mengenal satu dengan yang lain? Aku merasa kalau pandangan mata om Mukid terlihat aneh dan lain ketika menatap Sinta. Apalagi ketika aku atau Sinta saling memberikan perhatian. Om Mukid ini seperti cemburu saat melihat aku dengan Sinta romantis dan menunjukkan kemesraan." gumam Radit. Radit memperhatikan Mukid yang saat ini sedang menyetir mobilnya. Terkadang Radit menangkap Mukid melihat ke kaca spion untuk melihat Sinta.
"Radit! Selain kuliah lalu membantu bisnis keluarga kamu, apakah kamu memiliki usaha lain yang kamu rintis dari nol?" tanya Mukid.
"Eh, oh iya om! Ada beberapa bisnis kecil-kecilan yang ada di beberapa kota. Kafe kecil gitu om! Lumayan lah om omset pendapatan nya setiap bulan." jelas Radit. Sinta hanya diam menyimak.
"Wah Sinta sangat beruntung mendapatkan suami seperti Radit, selain tampan, mapan juga mandiri. Dan yang terpenting lagi sangat menyayangi Sinta." ucap Mukid. Sinta dan Radit saling berpandangan. Radit dengan berani meraih tangan Sinta. Mukid mengintipnya melalui kaca spion depan.
"Semoga kalian berjodoh sampai nenek dan kakek yah!" tambah Mukid.
__ADS_1
"Aamiin!" sahut Maimunah, Sinta dan juga Radit secara bersamaan.