MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
CURIGA BOLEH KAN?


__ADS_3

Radit dan Sinta sangat bahagia ketika mengetahui kalau saat ini Sinta benar-benar telah hamil. Pasangan muda itu tidak pernah menyangka jika akan secepat itu diberikan amanah dan rizki dari Tuhan dari kehamilan Sinta. Walaupun dalam suasana masih berduka, mereka mendapatkan kabar yang menggembirakan dengan hamilnya Sinta. Tuhan pasti tahu yang terbaik untuk hambanya. Selalu berprasangka baik saja dengan Tuhan, karena DIA lah yang memiliki rencana paling Indah untuk setiap hamba Nya. Namun terkadang saja, manusia tetap berkeluh kesah atas segala apa yang telah menimpa mereka. Bukankah semua manusia melalui setiap ujian dalam kehidupan ini?


Radit dan Sinta sudah beberapa hari di Jakarta. Kini keduanya sudah bersiap untuk kembali ke kota Malang. Mereka hendak berpamitan dengan Mukid. Walaupun kini Maimunah sudah meninggal dunia, Mukid sudah menjadi bagian dalam keluarga besar antara Radit dan Juga Sinta.


Ketiganya kini sama-sama telah duduk di kursi makan. Di ruangan itu mereka sedang makan bersama. Walaupun gurat kesedihan,kedukaan dan kehilangan masih terlihat jelas dari wajah Mukid, Sinta dan juga Radit, namun hidup harus terus berjalan. Mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan itu. Nenek Wati dan adiknya Maimunah sudah lebih dahulu kembali ke kota Malang. Kini giliran Sinta dan juga Radit hari ini yang akan pulang ke Malang. Dan di rumah itu akan menyisakan Mukid di rumah itu.


"Sinta, setelah kalian kembali ke Malang, aku juga akan berkemas dan kembali ke apartemen ku sendiri. Aku tidak mungkin tinggal di rumah ini, rumah Maimunah. Di rumah ini terlalu banyak kenangan aku dengan Maimunah. Jadi, setelah selesai aku mengemasi Barang-barang aku di rumah ini, kunci akan aku kirim ke kota Malang alamat tinggal kamu." ucap Mukid. Sinta dan Radit saling berpandangan.


"Kenapa harus pindah, om? Om Mukid bisa tinggal di rumah ini kok!" sahut Sinta lalu dibenarkan oleh Radit.

__ADS_1


"Benar om!" sahut Radit membenarkan.


"Bagaimana aku bisa tinggal di rumah ini, sedangkan Maimunah, mama kamu sudah tidak ada. Aku akan semakin kesepian dan terkungkung dalam kedukaan dan kesedihan. Lagi pula, sudah lama aku meninggalkan apartemen aku. Lebih baik aku tinggal di sana saja supaya aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan dan kehilangan karena Maimunah telah meninggal duni." kata Mukid. Sinta dan Radit sama-sama menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.


"Kalau itu yang membuat om Mukid, lebih tenang. Kami juga tidak bisa memaksakan kehendak. Semoga om Mukid bisa menemukan kebahagiaan lagi." ucap Sinta. Mukid terkekeh mendengar ucapan Sinta.


"Oke, om! Kami. pamit kembali ke Malang dulu yah om!" ucap Sinta.


"Iya, Sinta, Radit! Hati-hati di jalan! Jaga kesehatan! Oh iya Radit, jangan lupa jaga istri kamu! Jangan seperti aku! Saat ini Sinta sedang mengandung anak kamu. Perhatikan Sinta karena ibu hamil juga banyak maunya. Kita sebagai suami harus bersabar." kata Mukid. Radit tersenyum ramah.

__ADS_1


"Tentu om! Jangan khawatir!" sahut Radit.


Kini Radit dan Sinta kini masuk ke dalam mobil Mukid. Mukid sengaja mengantar keduanya ke bandara untuk penerbangan menuju kota Malang.


Tidak ada pembicaraan selama perjalanan menuju ke bandara. Apalagi Mukid hanya menatap jalanan raya di depannya. Radit dan Sinta pun juga banyak diam seribu bahasa dalam hatinya.


"Aku tahu kalau om Mukid begitu sangat mencintai mama. Om Mukid tidak akan mudah melupakan mama." pikir Sinta.


"Apakah om Mukid masih memiliki perasaan dengan istri aku yah? Jika istrinya sudah meninggal, apakah Om Mukid akan berpikir untuk kembali pada Sinta? Ah, apakah salah jika aku terkadang takut bahkan cemburu jika Sinta masih memperhatikan om Mukid. Apalagi Om Mukid saat ini telah berstatus duda. Ah pikiran aku terlalu jahat dengan istri aku sendiri." gumam Radit lalu merangkul Sinta yang duduk di samping nya.

__ADS_1


__ADS_2