
Suara teriakan Radit membuat Sinta segera menghambur keluar dari kamarnya. Sinta benar-benar ingin memakan soto betawi. Dan saat ini Radit telah membelikan soto betawi itu untuk nya. Sinta tersenyum melihat Radit telah membawa soto betawi yang diinginkan nya.
"Ini soto betawi nya! Ayo kita makan! Oh iya, ayah tiri kamu sudah makan belum?" tanya Radit.
"Sudah! Tadi aku yang mengantarkan makanan nya untuk nya." sahut Sinta. Radit menyipitkan matanya.
"Mau makan?" tanya Radit lagi.
"Sudah, sayang! Aku yang memaksanya makan. Bahkan aku juga yang menyuapi nya." kata Sinta.
"Apa?" sahut Radit memicingkan matanya. Sinta menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ayolah sayang! Jangan karena hal ini kamu cemburu lagi dengan ayah tiri ku." kata Sinta. Radit terkekeh saja.
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku sangat mempercayai kamu, sayang! Walaupun dia dulunya adalah... " ujar Mukid. Sinta segera membungkam mulut Radit dengan ciuman.
"Hem, sayang! Kamu mau?" kata Radit mulai mengatur nafasnya setelah Sinta menghentikan ciuman nya.
__ADS_1
"Oh no! Aku mau makan soto betawi ini sayang!" tolak Sinta dengan halus. Radit terkekeh.
"Setelah makan kita masih bisa melakukannya. Aku sabar menunggu itu kok," sahut Radit. Sinta menjulurkan lidahnya. Kini Sinta mulai menyiapkan makanan itu di atas meja. Sinta mulai mengambil piring untuk Radit dan menyiapkan makanan itu di atasnya. Radit memperhatikan setiap gerakan Sinta yang bagi Radit sangat mempesona.
"Ngapain sih, lihatin aku terus?" tanya Sinta.
"Kamu kok semakin hari semakin cantik yah, sayang! Dan kali ini kulit kamu terlihat bersinar. Makin menggoda saja. Lihat kamu saja seketika aku menjadi pingin." kata Radit menggoda Sinta.
"Pingin makan? Ini ayo makan! Jangan berpikiran mesum terus! Ayo makan!" sahut Sinta sambil menyodorkan piring yang sudah berisi makanan untuk Radit. Sinta ikut menikmati makanan itu. Soto betawi yang diinginkan nya.
Dengan sangat lahap, Sinta telah menghabiskan satu porsi soto betawi itu. Kini dirinya masih melirik satu porsi soto betawi yang masih ada di atas meja itu. Radit tersenyum melihat Sinta yang seperti ingin nambah lagi soto betawi itu.
"Enak?" tanya Radit. Sinta menganggukkan kepalanya.
"Tambah lagi?" tanya Radit kembali membukakan satu porsi soto betawi kembali untuk Sinta. Sinta tidak menolaknya dan kembali memakannya dengan lahap. Radit jadi berpikir dengan keanehan Sinta yang selera makannya menjadi meningkat.
"Sudah kenyang?" tanya Radit lagi.
__ADS_1
"Kenyang banget! Tapi setelah ini boleh gak kalau aku minta bakso?" ucap Sinta. Radit melebarkan matanya tidak percaya. Tapi Radit menurutinya.
"Iya, nanti kita beli baksonya yah, sayang! Sekarang ayo kita ke kamar dulu." kata Radit. Sinta mengerutkan dahinya.
"Ngapain ke kamar? Siang-siang begini loh! Panas tahu!" sahut Sinta. Radit tersenyum menyeringai. Kepalanya yang tidak gatal digaruk nya.
"Kita istirahat dan bobo siang dulu. Setelah itu bangun tidur baru beli bakso di perempatan sana. Terus kalau panas, kita bisa nyalakan AC nya. Oke?" ucap Radit seraya tersenyum menyeringai. Kini Radit mengangkat kedua bahu Sinta supaya bangkit dari tempat duduknya. Radit mengajak Sinta masuk ke dalam kamar.
Tiba-tiba Sinta merasakan mual dan segera berlari ke kamar mandi. Radit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa dengan Sinta? Padahal aku belum memulainya."batin Radit sedikit kecewa. Sinta keluar dari kamar mandi dengan wajah yang memucat.
" Sayang! Kamu bisa pergi ke apotik untuk beli tes kehamilan tidak? Sepertinya aku hamil deh." ucap Sinta. Radit menyipitkan matanya.
"Terimakasih Tuhan! Syukurlah kamu hamil. Kita akan segera memiliki baby, sayang!" ucap Radit kegirangan.
"Sayang! Jangan senang dulu! Aku kan belum memastikan kalau aku benar-benar hamil atau tidak." sahut Sinta seraya mengalungkan kedua tangannya ke leher Radit.
__ADS_1
"Aku yakin kamu hamil, sayang!" tebak Radit kini mengecup kening Sinta.
"Pusing tidak kepalanya?" tanya Radit. Sinta menggeleng cepat. Segera Radit bereaksi dan mulai merebahkan Sinta di atas peraduan. Kini Radit mulai bereaksi menunjukkan bahwa dia laki-laki perkasa dan tulen.