
Nenek Wati dan juga Sinta menikmati salad buah bikinan mereka. Dengan bermacam jenis buah- buahan segar yang dipotong-potong itu semakin segar ditambah dengan susu, yakult, mayones, keju. Sinta terlihat sangat lahap memakan salad buah itu di cuaca sore yang masih panas.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dan juga salam terdengar dari depan rumah.
" Siapa itu Sinta? Sepertinya suara seorang laki-laki." tanya nenek Wati.
" Mungkin juga kurir yang mengantarkan paket. Nenek ada belanja online tidak?" ucap Sinta.
" Haduh, mana nenek tahu seperti itu Sinta. Nenek pikir itu pasti teman kamu yang mencari kamu. Ya sudah buka pintu nya dan lihat siapa yang datang." kata nenek Wati. Sinta segera berdiri dan melihat siapa tamu yang datang ke rumah nenek nya itu.
" Aku akan membukakan pintu dulu nek!" kata Sinta. Sinta melangkah menuju pintu utama rumah neneknya yang cukup besar itu.
Sinta sudah membukakan pintu utama rumah itu. Mata Sinta melebar dan apa yang telah dilihatnya membuat jantung nya seketika berhenti sejenak. Sinta mengucek kedua matanya memastikan kalau apa yang dilihatnya adalah benar. Kenapa bang Radit bisa sampai di rumahnya. Laki-laki itu kenapa bisa sampai di depan pintu rumah tinggal nenek nya saat ini. Bang Radit menunjukkan deretan giginya yang putih rapi. Bang Radit tersenyum seolah tanpa ada rasa dosa yang membuat jantung orang saat berhenti berdetak dan Sinta tidak berani bernafas.
" Hai! Akhirnya aku menemukan dimana tempat tinggal kamu." ucap bang Radit. Sinta melongo.
" Kamu! Kenapa bisa ke rumah ini? Ada urusan apa? Kamu mencari siapa?" tanya Sinta dengan banyak pertanyaan yang masih disimpan nya.
" Kamu tidak mempersilahkan aku masuk dan duduk dulu di dalam rumah kamu?" tanya Bang Radit.
__ADS_1
" Ini bukan rumah aku! Ini rumah nenek aku! Aku hanya menumpang saja. Lebih baik kamu pulang saja, aku tidak ada waktu jika semua menyangkut dengan kamu." omel Sinta. Tanpa dipersilahkan masuk dan duduk akhirnya Bang Radit duduk dan masuk ke dalam ruangan tamu. Sinta mendengus kesal.
" Siapa tamunya Sinta!" teriak nenek Wati.
" Orang minta- minta nek!" sahut Sinta tidak kalah berteriak keras. Bang Radit terkekeh mendengar dirinya di bilang orang minta-minta.
" Ada es teh manis tidak? Haus banget! Cuaca diluar panas sekali padahal sudah sore." keluh Bang Radit.
" Tidak ada! Di sini bukan warung atau kafe." ucap Sinta kesal. Nenek Wati datang menghampiri mereka.
Dengan serta merta Bang Radit mencium tangan nenek Wati dan tersenyum ramah.
" Oh kamu Radit! Bagaimana kabar kamu dan juga mama kamu?" tanya nenek Wati.
" Ini nek, titipan dari mama! Tadi mama bikin bolu. Dan ini katanya untuk nenek. Nenk Wati sehat kan?" ucap Bang Radit.
" Nenek sehat, Radit! Oh iya kamu duduk lah dulu. Sinta buatkan minuman untuk Radit." kata nenek Wati. Sinta dengan gaya malasnya akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju dapur. Bang Radit tersenyum penuh kejahilan.
" Bagaimana mama kamu, lagi sibuk buat pesanan kue- kue yah?" tanya nenek Wati.
__ADS_1
" Mama selalu begitu, nek! Mama tidak mau diam, ada saja yang selalu dikerjakan nya. Apalagi sebentar lagi puasa dan lebaran, pesanan kue- kue kering dan juga bolu sudah ramai saja nek." kata Bang Radit.
" Nah, ini diminum dulu!" kata nenek Wati setelah Sinta datang membawa minuman berupa es teh yang diminta oleh Bang Radit. Sinta bergegas meninggalkan nenek Wati dan juga Bang Radit setelah memberikan minuman yang telah dibuat nya.
" Eh kamu mau kemana Sinta? Ini Radit, mama nya suka buat- buat kue. Nenek suka pesan kue- kue kering juga basah di tempat mama nya Radit." jelas nenek Wati.
" Kamu jangan sombong Sinta! Ayo salaman dan berkenalan lah dengan Radit. Kalau tidak kenal maka tidak sayang loh!" ucap nenek Wati.
" Kami sudah kenal nek!" sahut Bang Radit sambil tersenyum.
" Oh ya? Dimana kalian kenalan? Bukannya kalian beda kampus?" tanya nenek Wati.
" Di organisasi kemahasiswaan nek!" jawab Sinta akhirnya. Sinta dan Radit saling berpandangan. Senyuman Sinta sangat dipaksakan.
" Oh, kalau begitu kalian ngobrol saja dulu. Nenek akan buatkan puding yang lezat buat nanti dibawa pulang untuk mama kamu, yah Radit." ucap Nenek Wati sambil berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan mereka berdua di ruangan tamu.
Bang Radit meminum es teh buatan Sinta sambil tersenyum tanpa arti melihat Sinta.
" Kamu pasti masih dendam dengan aku yah, gara- gara aku hukum waktu itu." kata Radit.
__ADS_1
" Sudah lupa tuh!" sahut Sinta sewot. Bang Radit semakin terkekeh melihat gaya Sinta yang sok tidak bersahabat dengan dirinya.
"