MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
KEMBALI PULANG


__ADS_3

Maimunah, Mukid, Sinta dan juga nenek Wati kini sudah duduk di ruang makan. Hidangan sudah tersaji dengan lengkap di atas meja. Nasi kuning dengan banyak lauk sebagai pelengkap nya sudah tersaji di sana. Minuman hangat pun sudah ada di atas meja. Mereka mulai memakan sarapan pagi tanpa banyak bercanda.


" Maimunah, jaga kesehatan kamu dan juga bayi didalam kandungan kamu. Kamu jangan capek- capek mengerjakan kerjaan kantor dan rumah. Sekarang kamu sudah memiliki suami, jadi biarkan suami kamu yang mencari uang dan nafkah buat kamu. Soal Sinta, serahkan semuanya pada bunda. Sinta di sini aman dengan bunda. Dia sekarang sudah bisa bekerja di perusahaan keluarga kita, Walaupun masih dengan via online namun Sinta sudah punya tanggungjawab di sini." ucap nenek Wati. Maimunah dan juga Mukid semuanya melihat ke arah Sinta.


" Mama, aku sudah besar dan dewasa. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi." sahut Sinta.


" Benar! Sinta pun sudah mulai ada pacar di sini. Sebentar lagi kamu akan mempunyai menantu, Maimunah." kata Nenek Wati sambil melirik ke arah Mukid. Nenek Wati pun juga sangat penasaran akan perasaan yang sebenarnya terhadap Sinta. Memang ada rasa rindu yang terpendam. Ada rasa suka dan cinta yang berusaha di tepis.


" Oh, iya? Kenapa kamu tidak memperkenalkan pada mama, Sinta?" sahut Maimunah.

__ADS_1


" Tidak penting ma!" ucap Sinta sewot. Nenek Wati tersenyum melihat ekspresi Sinta yang masih ada raut kesedihan yang disimpan nya.


" Aku sudah selesai makannya, aku berangkat ke kampus saja dulu." kata Sinta.


" Loh, kamu berangkat dengan kami saja sayang! Sekalian mengantarkan kami ke bandara. Hem." kata Maimunah. Sinta dan nenek Wati saling berpandangan.


" Tidak usah, Sinta harus segera berangkat ke kampus dengan motor matic nya. Maimunah dan Mukid biar diantar oleh pak Parjo ke bandara." kata nenek Wati. Mukid menarik nafas dalam- dalam.


" Mama, jaga kesehatan yah ma! Ini calon adik aku juga harus tetap sehat." ucap Sinta sambil mengusap lembut perut mama nya yang saat ini telah mengandung dan itu adalah adik Sinta.

__ADS_1


" Iya, kamu juga jaga kesehatan yah sayang! Kamu jangan lupa makan yang banyak. Mama tahu kalau di sini kamu mulai aktif dalam kegiatan di kampus ditambah lagi dengan kerjaan dari nenek di perusahaan." ucap Maimunah. Sinta tersenyum lalu melangkah mendekati Mukid dan mengulurkan tangannya ke laki-laki itu.


" Ayah, titip mama yah!" hanya itu yang lolos dari mulut Sinta. Nenek Wati dan Maimunah saling berpandangan dan akhirnya tersenyum.


" Tentu saja! Aku akan menjaga mama kamu seperti aku menjaga kamu dulu. Dan karena dia istriku dan ibu dari anakku." batin Mukid. Kata-kata itu tidak sanggup Mukid ucapkan.


" Nenek aku berangkat dulu, nek!" kata Sinta sambil mencium punggung tangan nenek Wati dan juga mencium pipi nenek Wati kiri dan kanan.


Sinta berlalu meninggalkan rumah itu dan kembali meluncur dengan motor matic nya. Dari kejauhan Mukid menyaksikan Sinta mengendarai motor nya yang belum begitu mahir. Dalam hati Mukid tersenyum tatkala mengingat masa dulu ketika pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Sinta.

__ADS_1


"Sinta masih seperti Sinta yang dulu. Dia manja dan seperti tuan putri. Namun saat ini aku selalu merasa bersalah jika melihat Sinta. Bila matanya tersimpan luka yang dalam terhadap aku. Aku telah menyakiti hatinya. Dia rela tinggal di sini bersama nenek nya, supaya bisa melupakan aku. hem." gumam Mukid.


__ADS_2