MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
AKHIR BAHAGIA


__ADS_3

Malam minggu tiba.



Mukit sengaja mendatangi Sinta di rumahnya. Bana yang mengetahui Mukit datang ke rumah itu terlihat bersemangat menyambut nya. Apalagi Mukit datang dengan membawa banyak mainan untuk Bana. Mukit juga menyiapkan sesuatu untuk Sinta. Satu buket mawar putih dan sesuatu kotak kecil berwarna merah Mukit simpan di dalam kantong celananya.


"Om ganteng, terimakasih banyak mainan nya yah! Bana sangat senang dengan semua mainan yang om ganteng bawa ini. Ini buat Bana semuanya kan, om ganteng?" ucap Bana dengan suara cempreng nya.


"Tentu saja! Om kan tahu kalau Bana pasti menyukai mobil-mobilan dan mainan pesawat itu bukan?" sahut Mukit dengan senyuman lebarnya. Sinta masih berdiri mematung menatap laki-laki beda generasi itu. Keduanya memang sama-sama pandai bicara.


"Mommy, ayo kemari! Om ganteng sengaja datang kemari untuk menjumpai mommy. Lihatlah mommy! Om ganteng sudah berpakaian rapi. Dia terlihat lebih ganteng dari yang aku sebut," ujar Bana penuh dengan rayuan. Sinta menjulurkan lidahnya ke arah putra nya.


"Mentang-mentang sudah kena sogok mainan mobil-mobilan dan juga pesawat. Merayunya semakin lancar jaya, nih anak," sahut Sinta. Bana yang mendengar ucapan mommy nya hanya nyengir kuda. Mukit ikut tersenyum melihat mommy dan anak suka beradu kata.


"Om ganteng! Silahkan ngobrol serius dengan mommy ku, om ganteng! Saya akan ke kamar dulu. Mau menyimpan mainan ku ini," kata Bana. Sinta mengerutkan dahinya melihat sikap putra nya yang seolah-olah memberikan kesempatan pada Mukit dan Sinta untuk berduaan. Mukit yang mendengar ucapan Bana hanya nyengir kuda sambil mengedipkan mata nya.

__ADS_1


Bana membawa semua mainannya pemberian Mukit ke dalam kamarnya. Kini menyisakan Sinta dengan Mukit di ruangan itu. Keduanya kini saling beradu pandang lama. Mukit hanya tersenyum lebar melihat tatapan mata Sinta yang seolah-olah menyudutkan nya.


"Bagus yah! Mengambil hati Bana supaya bisa mendesak mommy nya untuk segera menikah dan mencari ayah baru," ucap Sinta penuh sindiran. Mukit tersenyum saja mendengar sikap ketus Sinta. Mukit tentu saja sangat paham sifat dan watak Sinta yang jinak-jinak merpati.


"Sinta, ini untuk kamu!" ucap Mukit seraya memberikan buket mawar berwarna putih. Buket tadi dia sembunyikan di belakang kursi sofa ruangan itu. Sinta menganga mulutnya ketika Mukit menyodorkan buket mawar putih itu ke arahnya.



"Ini maksudnya apa?" tanya Sinta. Mukit tersenyum lebar.


"Seperti apa kata Bana! Aku mau kok menjadi ayah sambung untuk Bana. Menikah lah dengan aku, Sinta! Kita mulai lagi cerita kita," ucap Mukit serius. Kini kedua bola matanya terlihat serius mengajak Sinta untuk menikah.


"Tapi Mukit! Bagaimana dengan tanggapan orang atau keluarga kita nanti jika kita menikah? Kamu dulu nya adalah ayah tiri ku. Suami dari almarhum mama ku. Aku gak bisa Mukit! Aku tidak bisa menikah dengan kamu," kata Sinta serius. Sinta kembali berdiri dari duduknya. Mukit mengeluarkan kotak berwarna merah itu.


"Sinta, tolong menikah lah dengan aku! Menjadi istriku," kata Mukit sambil membuka kotak kecil itu yang berisi cincin. Sinta melongo ketika Mukit menarik pergelangan tangannya dan memasukkan cincin itu ke jari Sinta.

__ADS_1


"Mukit!" gumam Sinta.


"Menikah lah dengan aku Sinta! Kamu tidak usah memikirkan yang lain. Karena kita juga ingin bahagia," ucap Mukit sambil mengecup punggung tangan Sinta. Sinta menghambur ke dalam pelukan Mukit.


Mukit tersenyum lebar. Ini adalah penantian nya setelah beberapa tahun ini dalam kesendirian nya menjadi seorang duda. Kini duda dan janda itu akhirnya sepakat untuk mengikat hubungan mereka dalam ikatan pernikahan.



T


A


M


T

__ADS_1


__ADS_2