
Setelah Sinta merasakan perubahan kondisi tubuh nya tidak beres, Sinta mulai mengingat terakhir kali dirinya menstruasi. Sinta benar-benar takut jika apa yang dia khawatir kan terjadi pada dirinya. Sinta pun tidak berani membeli tes kehamilan untuk memastikan benar tidaknya kalau dirinya telah hamil. Sinta kini melakukan olah raga pagi dengan berlari setiap pagi mengitari komplek rumah neneknya. Sinta dengan semangat melakukan kegiatan itu, dengan tujuan supaya dirinya bisa datang bulan dan mendapatkan menstruasi nya.
Namun sudah hampir terlambat tiga minggu dirinya belum juga mendapatkan tamu setiap bulannya itu. Hal itu menjadi kekhawatiran oleh Sinta. Sinta benar-benar menjadi stress dan panik jika benar-benar dirinya hamil dan berbadan dua. Apalagi laki-laki yang telah membuatnya hamil itu sekarang ini adalah ayah tirinya. Sinta ingin bercerita tentang semua itu namun kepada siapa dia harus bercerita supaya dirinya tidak menanggung beban itu sendiri.
Pagi itu ketika berlari pagi, Sinta akhirnya mampir di sebuah apotik yang buka dua puluh empat jam. Sinta membeli alat itu. Sinta ingin memastikan dengan tes kehamilan itu apakah dirinya saat ini benar-benar mengandung anaknya Mukid. Sinta benar-benar takut jika hal itu terjadi.
Walaupun ada takut ketika membeli alat itu di apotik, Sinta memberanikan dirinya untuk membeli alat itu. Apalagi ketika sebuah sorot mata curiga melihat Sinta dengan sangkaannya. Pelayan di apotik itu tentu saja penasaran siapa yang akan menggunakan tes kehamilan tersebut. Sinta tentu saja bilang kalau tes itu adalah untuk kakak iparnya dan dia disuruh untuk membelikannya.
" Dasar kepo? Ingin tahu urusan pribadi orang saja." batin Sinta saat itu.
Setibanya di rumah, Sinta segera ke kamar mandi. Dia bergegas membuktikan kalau dirinya tidak hamil memastikan kalau sangkaan dan praduga nya salah besar. Dia telat datang bulan lantaran dirinya stress karena patah hati dengan Mukid dan juga pindah di tempat atau kota yang baru.
__ADS_1
Benda kecil itu di lihat Sinta dengan teliti. Sudah ada tanda di benda itu yang menunjukan kalau Sinta saat ini sedang hamil atau tidak. Benda kecil itu beberapa kali dilihat dan Dipelototi oleh Sinta. Namun tetap sama tidak juga merubah tandanya. Dua garis merah telah terlihat di tes kehamilan itu. Jantung Sinta semakin tidak karuan. Dia benar-benar takut dengan kehamilan nya. Sedangkan laki-laki yang membuat nya berbadan dua itu kini telah jauh dari dirinya dan bahkan telah menikah dengan mama nya.
" Ini tidak mungkin! Aku tidak boleh hamil. Tidak!!" ucap Sinta seraya menarik rambutnya sendiri. Dia tidak mempercayai kalau dirinya hamil anak dari Mukid.
" Kenapa aku tidak berhati-hati melakukan itu dengan om Mukid? Aku tidak mau hamil. Aku tidak mau bayi ini. Aku tidak mau!" kata Sinta. Sinta benar-benar sangat kacau. Dia benar-benar bingung harus berbicara dengan siapa untuk membagi kegundahan dan masalah nya yang bagi Sinta ini benar-benar berat. Apalagi dirinya berstatus seorang gadis yang belum menikah dan kini masih berkuliah.
" Mama! Om Mukid! Aku tidak ingin bercerita dengan mereka berdua. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau hamil! Aku tidak mau bayi ini." Sinta memukul- mukul perut nya sendiri supaya dirinya tidak hamil.
" Ratna, kamu di mana?" tanya Sinta melalui sambungan ponselnya.
" Aku lagi siap- siap hendak pergi ke kampus. Memangnya kamu gak ke kampus?" ucap Ratna.
__ADS_1
" Eh, baiklah! Kita ketemu di kampus saja." sahut Sinta. Panggilan keluar itu segera terputus. Sinta mulai bersiap- siap ke kampus. Namun dalam pikiran nya Sinta sudah tidak fokus untuk mengikuti mata kuliah pagi ini. Dia ingin bercerita mengungkapkan semuanya yang membuat dirinya kacau dan kebingungan. Satu-satunya orang yang bisa mendengar, dipercaya dan membantu masalahnya adalah Ratna. Tidak mungkin Sinta bercerita tentang masalah nya kepada nenek Wati. Ini akan semakin memperbesar masalahnya. Sinta tidak ingin semua itu terjadi.
" Nenek, aku berangkat ke kampus dulu nek!" kata Sinta seraya mencium punggung tangan neneknya dan mencium pipi kanan dan kirinya.
" Sarapan dulu, Sinta!" kata nenek Wati.
" Maaf, nek! Sinta sedang buru- buru! Nanti sore saja nek." ucap Sinta.
" Yo wes, Hati-hati di jalan. Kamu bisa jajan di kantin kampus kamu." ucap Nenek Wati.
" Baik nek!" sahut Sinta seraya pergi meninggalkan nenek Wati dan meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
" Tumben wajah Sinta terlihat pucat seperti itu." gumam nenek Wati seraya menatap kepergian cucunya.