MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
ISTRI HARUS MENGERTI


__ADS_3

Aku Sinta. Setelah menikah dengan Radit, kini aku tinggal bersama Radit di rumah baru kami yang letaknya tidak jauh dari kota. Rumah itu adalah rumah yang dibelikan oleh Radit untuk aku. Benar! Rumah itu sengaja dibeli atas namaku. Tujuannya adalah jika Radit terbukti telah berselingkuh, aku berhak menggugat cerai darinya. Radit akan pergi dari rumah itu dan menyerahkan rumah itu sepenuhnya untuk aku. Radit takut jika dia menyakiti aku, makanya itu adalah suatu cara bagi Radit supaya berhati-hati dan tidak akan mengkhianati aku. Dengan masa lalu aku yang menyakitkan itu, Radit ingin selalu menjaga aku.


Cerita masa lalu dengan kekasih aku, sudah aku ceritakan semuanya kepada Radit. Namun aku tidak menyebut nama dan juga memberitahukan laki-laki itu. Sehingga Radit sampai sekarang tidak pernah tahu kalau kekasihku dulu, sekarang menjadi ayah tiri ku. Setelah menikah kami fokus dengan lembaran baru dan tidak pernah lagi mengungkit masa lalu baik masa lalu aku maupun masa lalu Radit.


Sudah satu bulan usia pernikahan kami. Aku dengan Radit masih hangat-hangatnya membangun rumah tangga kami. Tidak ada percekcokan dan pertengkaran yang serius. Sesekali beda pendapat itu kurasa sangat biasa. Kami saling pengertian dan bang Radit lah yang selalu mengalah. Namun tidak jarang aku juga mengalah dan mengikuti setiap putusan dari bang Radit dalam urusan bisnis. Urusan perusahaan nenek yang aku ikut terlibat di dalamnya juga aku masih terus menjalankan. Demikian halnya bisnis bang Radit, masih lancar jaya. Bahkan semakin hari semakin berkembang dan banyak membuka anak cabang nya.

__ADS_1


Soal urusan ekonomi dalam rumah tangga ku, tidak masalah dan bisa dikatakan lebih dari cukup. Soal urusan ranjang, jangan lagi ditanya. Tentu saja bang Radit dan aku bisa saling mengimbangi. Usia kami yang masih muda, tentu saja sangat bergairah dan bergejolak. Kami bisa memahami satu dengan yang lain. Saling memberi dan menerima dalam hubungan di atas peraduan itu. Aku pikir, setiap masalah rumah tangga kalau diselesaikan di atas ranjang akan lebih cepat selesai. Ketika pikiran kita sudah panas, kecamuk permasalahan perusahaan dan bisnis bikin naik darah, jalan awal untuk mendinginkan otak adalah bermain cinta. Setelah itu, otak bisa diajak berpikir untuk menyelesaikan segala permasalahan. Permasalahan besar menjadi kecil, masalah kecil seperti tidak ada.


Seperti suatu hari, Radit datang dari kantor nya dengan memasang wajah masam. Aku buatkan secangkir kopi, bang Radit masih tetap diam. Dia hanya memasang rokoknya lalu menikmati dengan secangkir kopi yang aku buatkan. Aku seperti tidak ada saat itu. Benar-benar dicuekin. Aku tahu, bang Radit lagi capek. Akhirnya ketika Radit masih duduk di ruang tengah itu, di mana asisten rumah tangga sudah kembali pulang ke rumahnya masing-masing. Aku membuka kemeja yang dikenakan bang Radit. Satu persatu kancing aku lepas dan kemeja itu berhasil aku lepaskan dari badannya. Bang Radit masih menikmati setiap tarikan rokok nya. Dia hisap lalu dia hembuskan ke ruangan itu. Saat itu AC ruangan itu telah aku matikan.


Bang Radit masih memandang kosong ke langit-langit ruangan itu sambil menikmati kopi dan juga batang rokoknya yang sudah menyala. Aku mengusap dadanya yang bidang dengan tanganku yang lembut. Tidak berhenti sampai di situ, aku mulai menyesap dan menghis@p ujung dada itu. Aku mendengar suara mendes@h lolos dari bibir bang Radit. Dalam hati aku sangat lega karena bang Radit menikmati segala sentuhan aku. Kini aku mulai membuka resleting nya. Dengan nakal aku mengusap bagian itu. Bagian diantara dua ujung pahanya itu. Akhirnya bang Radit lah yang membuka ikat pinggang nya sendiri dan sedikit menurunkannya. Akhirnya pemandangan senjata pamungkas Radit dengan sombongnya meledekku. Aku semakin tertantang lantaran dia dengan angkuh nya menggoda aku. Akhirnya aku buat dia semakin membesar dan mengeras seperti batang kayu. Walaupun aku tahu itu bukan kayu.

__ADS_1


"Terimakasih Sinta, sayang!" ucap Radit seraya mengecup keningku hangat. Aku tersenyum mendapatkan wajahnya yang lebih segar. Muram dan lelah di wajahnya seketika sirna. Radit mendekap ku semakin erat.


"Mandi bareng yuk!" ajak Radit lagi. Tanpa menunggu jawaban dari aku, akhirnya aku kembali digiring ke dalam kamar mandi. Di sana kami satu bathtub di kamar mandi itu. Kami saling membersihkan tubuh kami yang lengket karena peluh keringat. Pada akhirnya Radit kembali memainkan tubuh aku sebelum kami benar-benar mandi junub setelah itu.


"Bang Radit!" ucapku seraya kembali terpejam. Kali ini aku lebih fokus menikmati nya.

__ADS_1


"Iya, sayang!" sahut Radit seraya membuat aku di posisi atas. Sekarang aku mulai mendominasi permainan. Radit semakin seperti cacing kepanasan. Aku semakin menekan dan memainkan peran. Sepertinya gerakan maju mundur itulah yang lebih nyaman aku lakukan. Benar saja, suara kami semakin keras memenuhi ruangan. Apalagi kamar mandi yang suaranya sangat menggema. Ah aku benar-benar di puncak kenikmatan dunia.


Apakah selalu begini jika sudah berumah tangga? Istri akan menjadi candu bagi suami untuk menyalurkan hasrat itu. Lalu, bagaimana jika istri menolak ini? Akhirnya hadir lah wanita lain di luar sana untuk memenuhi segala inginnya. Semoga rumah tangga ini selalu kuat dengan pondasinya. Aku tidak akan membiarkan wanita di luar sana merobohkan nya.


__ADS_2