
Di dalam kamarnya nenek Wati terdiam sambil menatap wajahnya ke pantulan cermin kaca di dalam kamarnya. Wajah yang dulunya muda dan cantik kini sudah berkeriput, dan menua. Ada semburat kesedihan yang terpancar dari wajahnya. Setelah tanpa ia sengaja mendengar pembicaraan antara Mukid dengan cucu nya yaitu Sinta. Nenek Wati benar-benar tidak menyangka dan benar-benar terkejut. Jantungnya masih terasa nyeri dan sesak setelah mendengar pembicaraan mereka. Namun Nenek Wati tidak akan menyalahkan siapa pun di sini. Kejadian mereka bukanlah di sengaja namun kebebasan dan cara gaya berpacaran Sinta lah yang sangat disayangkan oleh nenek Wati. Bahkan mereka telah melakukan hubungan suami istri sebelum mereka benar-benar dihalalkan dalam sebuah pernikahan. Hal itu lah yang membuat nenek Wati bersedih dengan itu semua. Padahal Sinta dari kecil pun juga diberikan pedoman dan tuntunan nilai-nilai agama. Namun setelah mengenal cinta dan lawan jenis, menjadi terlena dan mengikuti hasrat dan keinginan nafsunya.
" Sinta, betapa malang nasib kamu nak!" gumam Nenek Wati.
Nenek Wati mulai menjalankan ibadah sholat subuh. Nenek Wati memohon ampunan untuk dirinya, keluarganya yang telah melakukan perbuatan dosa baik disengaja, tidak disengaja maupun terlupa. Butiran air matanya menetes di kedua sudut matanya yang kulit wajahnya sudah Mengeriput. Teringat akan sikap ceria dan polos Sinta, cucunya ternyata menyimpan kepahitan dalam hidupnya. Betapa tindakan yang membuat nenek Wati sangat kecewa dengan Sinta adalah membunuh janin yang belum sempat hidup di dunia. Tindakan menggugurkan kandungan itulah bagi nenek Wati adalah tindakan yang benar-benar dibenci oleh Tuhan yang memberikan kehidupan dan meniupkan ruh atau nyawa pada makhlukNya. Entah penebusan atau pengampunan dosa itu sampai beberapa lama yang akan ditanggung oleh Sinta. Atau mungkin saja keturunan nya kelak. Mungkin kelak Sinta harus menerima semua hukuman atas tindakan nya membunuh bayi yang bahkan belum lahir di dunia ini. Walaupun usia bayi itu terhitung belum ada satu bulan usianya. Jika sudah empat bulan itu artinya bayi sudah diberikan ruh atau nyawa. Ini artinya benar-benar sudah membunuh jiwa.
Nenek Wati keluar dari kamar nya dan menuju ke dapur. Dirinya harus membantu asisten rumah tangganya untuk menyiapkan sarapan untuk Maimunah dan juga menantunya, Mukid. Maimunah dan Mukid akan terbang ke Jakarta pagi ini jam sepuluh. Nenek Wati mulai membuatkan nasi kuning kesukaan Maimunah. Selera Maimunah dan Sinta tidak jauh berbeda. Keduanya menyukai nasi gurih itu.
Tiba-tiba Sinta datang menyapa nenek Wati yang sedang membuat telor dadar untuk lauk nasi kuning.
" Nenek! Buat sarapan apa pagi ini?" kata Sinta seraya mencium pipi kanan dan kiri milik nenek Wati. Nenek Wati masih kecewa dan bersedih dengan Sinta atas semua yang didengar nya tadi ketika di sepertiga malam saat perbincangan dengan Mukid dan Sinta tanpa disengaja.
" Kok nenek diam sih? Nenek lagi sariawan yah?" goda Sinta.
__ADS_1
" Duduklah kamu, jangan ganggu nenek! Kamu makan saja puding buatan nenek untuk kamu yang ada di lemari es." kata nenek Wati. Sinta segera membuka lemari es dan mengambil sisa puding yang masih ada di sana. Semalam dirinyalah yang telah memakannya bersama dengan Mukid.
" Puding ini rasanya sangat enak." kata Sinta sambil menyendok puding itu ke mulut nya.
" Kalau kamu suka, nenek akan membuatkan untuk kamu lagi." ucap nenek Wati.
" Terimakasih banyak, nek. Tapi aku lebih menyukai yang coklat dibandingkan rasa mangga atau ceri." kata Sinta.
" Ada, jam sepuluh. Kalau begitu aku mandi dulu nek." ucap Sinta seraya menghambur naik ke anak tangga menuju ke kamarnya.
" Sinta! Jangan lupa bangunkan mama kamu dan suruh cepat turun untuk sarapan. Dia harus cepat berangkat ke bandara." teriak nenek Wati.
" Iya, nenek!" sahut Sinta tidak kalah kerasnya suaranya.
__ADS_1
Sebelum Sinta masuk ke kamarnya, Sinta mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh mamanya beserta Mukid.
Tok.
Tok.
Tok.
" Mama! Mama di suruh nenek segera turun untuk sarapan!" teriak Sinta lantaran pintu belum juga dibukakan oleh penghuni nya. Tiba-tiba saja pintu terbuka dan Mukid lah yang membuka pintu itu.
" Mama ada? Di suruh turun dan sarapan oleh nenek. Dan kata nenek mama dan juga om Mukid. Eh ayah Mukid harus segera ke bandara." kata Sinta. Sinta bergegas meninggalkan Mukid yang masih berdiri mematung melihat Sinta. Tidak ada kata dari bibir Mukid. Mukid menatap Sinta dengan ekspresi datar. Entah dimana mama nya Sinta saat itu, mungkin saja masih mandi.
Sinta segera mandi dan merapikan dirinya. Hari ini dia ada mata kuliah pagi jam sepuluh. Itu artinya dirinya masih bisa mengantarkan mama ke bandara. Tapi Sinta enggan untuk mengantarkan mereka. Namun jika tidak mengantarkan mereka hal itu akan membuat kecurigaan dan prasangka yang tidak baik dari mama maupun nenek Wati.
__ADS_1