MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
NASI UDUK


__ADS_3

Pagi ini Sinta sudah bangun dan mulai melakukan aktivitas nya di kota Malang. Sinta sudah membuat sarapan pagi nasi uduk dengan lauknya seperti telor dadar dan juga sambal teri kacang. Nenek Wati membiarkan Sinta melakukan pekerjaan semua itu. Bibi asisten rumah tangga di rumah itu akhirnya melakukan pekerjaan lainnya. Setelah semua masakan yang dibuat oleh Sinta masak dan tersaji di atas meja, Sinta mencari keberadaan nenek Wati untuk diajak nya sarapan bersama.


Sinta ke luar rumah dan mencari nenek Wati di pekarangan depan. Benar saja, saat ini nenek Wati telah merapihkan tanaman-tanaman nya itu. Nenek Wati memotong beberapa tanamannya yang sudah meninggi dan kurang rapi. Sinta mendekati nenek nya dan mengajak nya masuk ke dalam.


" Nenek, mari kita sarapan nek! Saya sudah membuat nasi uduk dengan lauk telor dadar dan juga sambal teri kacang. Nenek pasti akan menyukai nya." ucap Sinta dengan bangganya dengan hasil masakan nya itu. Nenek Wati segera menuju kran air yang tidak jauh di taman itu. Senyum nenek Wati mengembang ketika melihat cucunya, Sinta terlihat lebih segar dan ceria. Tidak seperti waktu baru tiba di kota Malang kemarin itu.


" Ayolah, nenek ingin segera merasakan hasil masakan kamu, Sinta! Tetapi jika masakan kamu tidak enak, nenek akan menyuruh kamu kursus memasak. Jangan seperti mama kamu yang sama sekali tidak bisa masak. Masak air saja tidak sampai mendidih." ucap nenek Wati. Sinta terkekeh saja mendengar nenek nya menceritakan mama nya yang tidak bisa memasak. Tetapi memang Kenyataan nya mamanya Sinta tidak pandai memasak. Walaupun mama nya Sinta memiliki banyak kelebihan dan kepandaian nya tetap ada sisi kekurangan yang dimiliki oleh mama Maimunah. Setiap kali mama Maimunah mencoba memasak makanan, rasanya menjadi aneh, menurut Sinta. Makanya di rumah itu ada bibi yang memasakkan untuk mereka di rumah. Walaupun bibi hanya sampai siang kadang sore kembali pulang ke rumahnya dan tidak tinggal di rumah mereka.


Sinta dengan neneknya masuk ke dalam dan menuju ruang makan. Mereka duduk di kursi makan itu. Nenek Wati memanggil pembantu nya untuk ber sarapan bersama mereka.


" Ayo, bibi coba masakan saya ini." ucap Sinta dengan bangga dan percaya dirinya. Nenek Wati dan juga bibi pembantu di rumah itu mulai mengambil nasi uduk beserta lauknya. Keduanya lalu mulai menyendok dan memakannya. Sinta menanti pendapat kedua orang tua yang sudah sepuh itu.


" Bagaimana nek, bibi? Rasanya gimana hasil masakan aku?" tanya Sinta dengan mata yang membulat.

__ADS_1


" Lumayan!" sahut nenek Wati. Namun nenek Wati terlihat sangat lahap memakan nasi uduk dengan telornya. Sambel teri kacangnya tidak di ambil oleh nenek Wati lantaran giginya sudah banyak yang ompong jadi susah untuk mengunyah makanan yang keras.


" Hah, lumayan?" protes Sinta.


" Dari satu sampai sepuluh, nenek nilai lima deh." ucap nenek Wati. Namun Nenek Wati terlihat beberapa kali sampai nambah nasi uduknya. Sinta manyun bibirnya. Bibi pembantu rumah tangga di rumah menjadi menahan tawanya lantaran nenek Wati berkata namun tidak sesuai dengan sikapnya yang melahap masakan Sinta sampai habis tak bersisa di piringnya.


" Ayo tambah lagi, bi!" suruh Sinta. Bibi pun merasakan enak makanan yang dibuat oleh Sinta. Rasanya pas di lidah mereka.


"Apakah kamu di rumah sering memasak, Sinta?" tanya Nenek Wati.


" Oh iya Sinta, segala urusan perkuliahan kamu sudah diurus semuanya oleh pak dhe kamu. Kamu nanti akan diantar Zaza, anaknya pak dhe Slamet ke kampus baru mu.Kamu tinggal menghubungi dosen wali kamu untuk mengetahui jadwal mata kuliah yang akan kamu ambil. Beruntung, kamu bisa melanjutkan beberapa mata kuliah yang belum kamu ambil atau kamu mau mengulanginya lantaran nilai kamu kurang memuaskan. Nilai-nilai dari kuliah kamu dulu yang sudah kamu ambil di kampus lama, akan ditransfer di sini." jelas nenek Wati.


" Terimakasih banyak, nek! Gara-gara aku, semuanya menjadi repot." sahut Sinta.

__ADS_1


" Kalau tidak bikin repot bukan anaknya Maimunah." sahut nenek Wati. Nenek Wati ini seperti suka berantem dan beda pendapat dengan mama nya Sinta atau Maimunah. Makanya kalau sudah hal buruk lalu dikaitkan dengan Maimunah, anak nenek Wati itu.


' Nenek kangen dengan mama nya? Setiap kali bicara apa, pasti nyenggol mama." goda Sinta.


" Tidak! Baru kemarin juga nenek ke Jakarta menghadiri acara pernikahan mama kamu itu. Nenek tidak kangen kok. Mama kamu pasti sudah senang dan bahagia bersama laki-laki pilihan nya. Mungkin menjadi lupa dengan nenek di sini." kata Nenek Wati.


" Tapi nenek heran dengan mama kamu, kenapa bisa bertemu dengan laki-laki yang masih muda, tampan dan mapan seperti Mukid itu. Dia mau menikah dengan mama kamu yang sudah keriput seperti itu." kata nenek Wati kembali mencari kejelekan Maimunah. Sinta tersenyum tatkala nenek Wati berbicara sembari terkekeh.


" Namanya juga cinta, nek!" sahut Sinta.


" Seharusnya Mukid itu cocok nya menikah dengan kamu. Bukan dengan Maimunah, mama kamu itu." kata nenek Wati lagi. Seketika Sinta menunduk kepalanya berusaha menutupi kesedihannya.


" Ya sudah lah, nek! Saya harus segera bersiap- siap dulu, sebelum Zaza datang untuk mengantarkan aku ke kampus." kata Sinta.

__ADS_1


" Baiklah!" ucap nenek Wati.


__ADS_2