MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
MENDADAK ARTIS


__ADS_3

Di kampus.


" Kamu kenapa Sinta? Ada masalah?" tanya Ratna yang kini mulai duduk mendekati Sinta. Sinta sejenak menarik nafasnya dalam- dalam lalu membuangnya dengan kasar.


" Jumat nanti, aku akan ikut acara mendaki gunung, Rat." kata Sinta. Ratna mengernyitkan dahinya.


" Kamu yakin, Sinta?" tanya Ratna mengkhawatirkan keadaan sahabat nya itu.


" Aku harus pergi jauh- jauh supaya tidak bertemu dengan mereka. Lebih baik aku ikut acara minggu ini mendaki gunung." ucap Sinta.


" Maksud kamu, mama dan juga mantan kekasih kamu itu akan datang ke kota Malang untuk menemui kamu?" sahut Ratna.


"Dia ayah tiri ku, Ratna! Mereka datang bukan untuk menjumpai aku, tetapi ingin bersenang-senang di kota kelahiran mama." kata Sinta. Ratna diam untuk sesaat.


" Oke, oke! Tetapi tidak harus naik gunung kan? Kalau naik gunung aku tidak bisa mendampingi kamu. Aku bisa kumat sesak nafasku. Kamu tahu sendiri bukan? Aku tidak bisa terlalu capek dan dengan udara dingin yang terlalu ekstrim aku bisa jatuh sakit dan itu akan membuat orang menjadi repot lantaran aku." kata Ratna.


" Iya aku mengerti! Kalau aku tidak ikut kegiatan naik gunung atau kegiatan di kampus, nanti terlihat sangat sengaja aku menghindari mereka. Nenek nanti malah mencurigai aku." kata Sinta.


"Bagaimana kalau kita ikut pelatih kader saja di organisasi." saran Ratna. Sinta mengernyitkan dahinya.


" Hem, itu saran yang bagus juga. Kira-kira berapa hari?" tanya Sinta.

__ADS_1


" Dari jumat sampai minggu." jawab Ratna.


" Hem, baiklah! Sepertinya ini lebih bermanfaat." sahut Sinta.


" Benar! Kamu tahu, Siapa tahu kita bisa bertemu cowok maco dan keren di organisasi kemahasiswaan itu." kata Ratna. Sinta tersenyum mendengar apa kata Ratna dengan pikiran seperti itu.


@@@@@@@


Hari Jumat sore itu juga, Sinta dan Ratna benar-benar mengikuti kegiatan pengkaderan dan saat ini mereka sudah ke lokasi LK1. Bersama beberapa pengurus mereka sudah mempersiapkan segala acara untuk pembukaan pelatihan kader.


Di balai desa, acara pembukaan pelatihan dilaksanakan. Beberapa pengurus Cabang sebagian sudah hadir di sana.


Bendera bendera Organisasi kemahasiswaan dan tidak lupa bendera merah putih sudah dikibarkan. Podium untuk pelaksana kegiatan dan bangku bangku majlis sudah diletakkan dengan rapi. Kursi- kursi untuk peserta pelatihan pun sudah berjejer dengan rapi. Ruangan balai desa ini memang terkonsep luas dan rapi. Kamar mandi pun ada di samping balai itu.


Kegiatan pelatihan ini,persiapan sudah matang, kini sudah tiba waktunya acara pembukaan pelatihan dihadiri oleh pengurus. Pembacaan ayat suci Alquran, mengheningkan cipta,melagukan himne organisasi Islam ,sambutan ketua Komisariat,sambutan ketua organisasi Islam cabang sudah dilalui dengan Hikmat.


Pembukaan pelatihan yang berlokasi di balai desa sudah dilalui,kini masuk ke materi berikutnya pengenalan organisasi oleh pemateri. Pemateri ini diisi oleh Bang Radit. Para peserta Latihan Kader menyimak dan mencatat dengan seksama sambil dilalui dengan sesi tanya jawab dengan peserta.


 Sampai pukul 21.00 masih di lalui materi materi tentang keorganisasian diisi oleh Bang Slamet setelah makan malam dan sholat magrib. Sinta dan Ratna duduk di kursi belakang paling pojok mengikuti acara pengkaderan itu. Di Sana ada beberapa pengurus komisariat dan cabang yang terpencar sekedar mengisi waktu longgar bercengkrama menikmati kebersamaan. Ratna dan Sinta benar-benar menyimak dari semua pemateri yang telah menyampaikan teori kepada peserta kader.


" Serius sekali sih, Sin?" bisik Ratna.

__ADS_1


" Sebenarnya tidak seserius yang kamu lihat, Ratna. Saat ini aku hanya menikmati wajah cowok yang sedang memberikan materi itu." Sinta ikut berbisik. Ratna terkekeh mendengarnya.


" Namnya bang Radit! Sebelas dua belas dengan wajah kekasih kamu itu, yang saat ini sudah menjadi ayah tiri kamu." bisik Ratna lagi. Sinta menjulurkan lidah nya lantaran kurang suka jika harus mengingat sosok Mukid itu.


" Dia semester akhir jurusan teknik." terang Ratna. Nanti aku tanya nomer WA nya yah. Supaya kamu nanti bisa mengenal bang Radit lebih jauh." kata Ratna.


" Untuk kamu saja, bang Radit itu." kata Sinta.


" Tidak! Aku masih tetap mengidolakan pak Chandra." sahut Ratna. Sinta tersenyum mendengar hal itu.


Tiba- tiba ada suara bariton membuat Ratna dan juga Sinta terkejut dibuatnya.


" Hai, kalian berdua! Apa yang sedang kalian diskusikan?" suara laki-laki khas bariton terdengar lantang. Rupanya bang Radit mengetahui kalau sejak tadi Ratna dan juga Sinta tidak memperhatikan dirinya. Sinta dan Ratna saling pandang. Kini bang Radit mendekati mereka.


" Apa yang kalian diskusikan sejak tadi? Kalian ingin menggantikan saya di depan? Menerangkan materi berikutnya? Silakan!" ucap bang Radit dengan emosi nya. Sinta menatap bola mata laki-laki itu yang menatap nya penuh kemarahan. Sedangkan Ratna tidak berani menatap bang Radit dan kini kepalanya menunduk takut akan kemarahan seniornya.


" Maaf, bang!" sahut Ratna pelan.


" Kamu! Maju ke depan!" perintah bang Radit pada Sinta. Sinta mengernyitkan dahinya.


" Untuk apa bang?" tanya Sinta pura-pura bego. Sinta cuek saja atas kemarahan seniornya.

__ADS_1


" Maju ke depan atau tinggalkan ruangan ini." ancam Bang Radit. Sinta segera berdiri dan melangkah ke depan. Ratna menatap Sinta yang meninggalkan tempat duduknya dan maju ke depan. Selama bang Radit memberikan materi, Sinta berdiri di depan di dekat bang Radit menyampaikan materi kepada para kader. Tentu saja Sinta menjadi pusat perhatian anak-anak kader dan semua mata tertuju kepada nya.


" Lah, akhirnya kamu menjadi artis deh." gumam Ratna sambil melihat ke arah Sinta.


__ADS_2