MENCINTAI AYAH TIRIKU

MENCINTAI AYAH TIRIKU
DEJAVU


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


Pagi-pagi Sinta sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk Bana, putra nya. Selain sarapan untuk keluarga nya, Sinta juga menyiapkan bekal untuk Bana. Bana, putra nya sudah bersekolah di usia dini. Baju-baju kotor pun sudah siap Sinta cuci. Dari jam tiga, Sinta memang sudah terbiasa bangun. Jam tiga itu Sinta melakukan sholat malam, lalu mulai membuat sarapan sambil menunggu waktu subuh. Saat membuat sarapan itu, Sinta memasukkan baju kotor dalam mesin cuci. Sinta melakukan dia pekerjaan sekaligus diwaktu yang sama. Setelah sholat subuh baru membangunkan Bana dan juga Nenek Wati untuk melakukan ibadah dua rakaat jam itu.


Bana mengikuti rutinitas itu tanpa protes. Setelah sholat subuh lalu bergegas mandi dan akhirnya sarapan bersama. Sinta mengantarkan Bana ke sekolah nya. Kali ini Sinta ingin mengendarai motor matic nya. Biasanya Sinta mengantarkan Bana dengan mobilnya. Mobil pemberian suaminya dulu ketika hadiah ulang tahunnya. Namun Sinta lagi malas membawa mobilnya dan memilih membawa motor matic nya untuk mengantarkan Bana.


"Mommy! Kenapa tidak bawa mobil saja?" protes Bana dengan cemberut.


"Sekali-kali boleh kan?" sahut Bana.


"Ya udah deh, yang penting nyampai sekolah," ucap Bana mengalah.


Sinta dan Bana mulai berpamitan dengan nenek Wati. Nenek Wati mulai berjemur pagi sambil mencabut rumput di depan rumah. Pagi itu cuaca sangat cerah. Sinta dan Bana sangat bersemangat membelah jalanan menuju sekolah Bana yang tidak begitu jauh.

__ADS_1


Di saat hendak membelok ke kanan, Sinta kurang keseimbangan lantaran jalan di tikungan tersebut banyak kerikil kecil dan juga pasir. Tiba-tiba Sinta dan Bana terjatuh dari motornya. Sedangkan di belakangnya ada sebuah mobil yang hendak melewati jalan itu. Mobil tiba-tiba mengerem mendadak. Bana sempat menutup matanya lantaran mobil hendak menabrak mommy dan juga dirinya.


"Ah, awas mommy!" Bana mendekap mommy nya berusaha melindungi nya. Tidak berapa lama mereka dikerumuni pengguna jalan. Pengemudi mobil itu turun dari sana dan mendekati Sinta dan juga Bana. Beberapa orang sudah menolong Sinta dan juga anaknya, Bana. Kini motor matic dan juga Sinta serta Bana sudah di tepi jalan.


"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya pengemudi itu lalu mengamati wajah Sinta yang sudah tidak asing bagi dirinya.


"Sinta?" ucap laki-laki itu melebarkan matanya.


"Iya, ada sedikit urusan di kota Malang ini," sahut Mukid. Sinta memang tidak kembali ke Jakarta setelah meninggal nya mama nya, Maimunah. Sinta lebih memilih tinggal di kota Malang.


"Mommy, ayo ke sekolah! Nanti aku bisa terlambat," ucap Bana. Lalu Mukid melihat Bana sambil tersenyum.


"Eh, bagaimana kalau kalian aku antar ke sekolah dan motor kamu bisa diperbaiki di bengkel itu!" kata Mukid sambil menunjukkan bengkel yang tidak jauh dari Sinta dan juga Bana yang masih berdiri di pinggir jalan.

__ADS_1


"Tapi motor aku tidak apa-apa kok, tidak rusak," protes Sinta.


"Mommy! Aku keburu terlambat, ayo mumpung om ini mau mengantarkan aku ke sekolah. Ayo mommy!" sahut Bana. Mukid tersenyum sambil mensejajarkan dirinya berjongkok di depan Bana.


"Nama kamu siapa, sayang?" tanya Mukid.


"Aku Bana, om! Ayolah om kalau mau mengantarkan aku ke sekolah, aku takut keburu kesiangan dan terlambat," kata Bana. Mukid segera mengambil tas Bana dan menggandeng tangan Bana masuk ke dalam mobilnya. Mau tidak mau Sinta menitipkan motor nya ke bengkel dan membenarkan stang motornya yang bengkok. Sinta akhirnya masuk ke dalam mobil Mukid tanpa malu lagi lantaran anaknya, Bana sudah memanggilnya.


"Ini seperti peristiwa yang pernah aku alami. Ini seperti dejavu. Namun ini benar-benar beberapa kali aku mengalami peristiwa ini," gumam Sinta.


"Lain kali, tidak usah naik motor lagi, Sinta! Kamu tidak pandai menjalankan motor roda dua itu. Sudah beberapa kali kamu jatuh dari motor? Mama kamu saja tidak kasih jika kamu naik motor," ucap Mukid sambil menjalankan mobilnya. Bana diam dan memperhatikan Mommy nya.


"Om ini benar mommy! Tadi sudah aku bilang, jangan bawa motor. Lebih baik naik mobil saja. Mommy yang nekat dan keras kepala," sahut Bana. Mukid yang mendengar ucapan Bana yang mengomeli mommy nya menahan tawanya. Sinta terlihat manyun bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2